buat yg butuh zoom premium untuk kegiatan rapat atau kuliah besok senin, cobain pake ini. nyaris gratis sih, otomatis juga https://t.co/JfFuVSWCFi #zonauang
POV: Jadwal sempro Senin jam 8 pagi, tapi baru inget belum sewa Zoom pas Minggu jam 23.59. Nyari admin rental manual? Fix di-ghosting sampai subuh. 🤡 Untung https://t.co/QiCZ2fFIqm murni otomasi SaaS 24/7. Jam berapapun, link otomatis terbit detik itu juga. #skripsi
kirain sekarang semua jasa sewa zoom masih sistem chat-chatan. baru kemarin nemu https://t.co/8aIRPkMmIw, ternyata tinggal isi data terus payment qris langsung otomatis dapet link meeting. lumayan banget kalau lagi mepet.
#zonauangㅤ#skripsi
[cm] baru sadar ternyata yang bikin panik H-1 seminar itu bukan cuma revisi dosen 😭. ada aja hal teknis yang kelupaan. kemarin hampir kena di urusan zoom, untung nemu "ZMEET ID" pas lagi nyari-nyari. asli lega banget karena langsung beres.
ga nyangka ya...
81 hari lalu cuma iseng bikin https://t.co/79erUBz09C biar orang g perlu ribet nyewa zoom. ternyata hari ini udah dipercaya smpai 144 trx. makasih banyak ya. semoga bisa terus bantu org" yg lagi sempro, semham, sidang, rapat n seminar
#zonauangㅤ
https://t.co/QiCZ2fFIqm hadir dari pengalaman pembuatnya, sama-sama mahasiswa akhir, punya masalah terkait akademik kampus yang sering perlu online, begitupun bimbingan, seminar, maupun sidangnya. Dengan harga yang mahasiswa banget dan sistem yang otomatis #zonauang#skripsi
Udah pernah pakai https://t.co/QiCZ2fFIqm? Link aksesnya sekarang makin ringkas, harganya juga tetap bersahabat. Cocok buat mahasiswa yang sering pakai Zoom untuk urusan akademik, apalagi kalau kampus belum bisa cover tersebut. #zonauang
Guys, DPR baru saja mengusulkan sesuatu yang menurut gue paling sempurna menggambarkan betapa jauhnya jarak antara para wakil rakyat dengan kenyataan rakyat yang mereka wakili.
Di tengah rupiah Rp17.700.
Di tengah badai PHK yang mengintai.
Di tengah guru honorer yang digaji Rp1,5 juta per bulan.
Di tengah anggaran pendidikan
yang dipotong 44% untuk MBG.
Anggota DPR dari Fraksi Gerindra mengusulkan:
Alokasi APBN 2027 untuk membangun 1.000 layar bioskop di desa.
Gue perlu berhenti sejenak dan baca ulang itu:
Seribu Layar Bioskop Di desa.
Dari APBN.
Dari uang pajak rakyat.
Di 2027.
Dan ini yang paling menggelikan:
Alasannya mulia.
Untuk mendukung rumah produksi kecil di daerah.
Untuk menampilkan potensi dan budaya lokal.
Untuk memberi akses sinema kepada rakyat desa.
Tapi ada satu pertanyaan yang tidak pernah dijawab dalam rapat itu:
Rakyat desa yang gajinya di bawah UMR dengan harga bahan pokok yang terus naik mau beli tiket bioskop pakai uang apa?
Dan ini datanya yang harus dihadapkan langsung:
88% kepala rumah tangga Indonesia tidak punya pendidikan S1.
IQ rata-rata Indonesia 78,9 hampir juru kunci dunia.
Skor PISA Indonesia peringkat 69 dari 81 negara.
50% pegawai Indonesia pernah mengalami stunting waktu kecil yang artinya perkembangan otak mereka terganggu sejak masa paling kritis.
Guru honorer yang seharusnya menjadi satu-satunya harapan untuk memutus rantai kebodohan struktural ini — digaji Rp1,5-2,8 juta per bulan.
Di bawah UMP. Di bawah standar hidup layak.
Dan anggaran pendidikan yang seharusnya mengurus semua ini dipotong 44% untuk program makan siang.
Tapi DPR punya solusi:
Bukan 1.000 sekolah baru di daerah terpencil yang belum punya akses pendidikan layak.
Bukan rekrut 100.000 guru berkualitas dengan gaji Rp40 juta per bulan yang total biayanya hanya Rp50 triliun atau 7% dari anggaran pendidikan yang ada.
Bukan perpustakaan desa.
Bukan laboratorium sains.
Bukan akses internet untuk sekolah-sekolah yang masih mengajar dengan papan tulis kapur.
Tapi bioskop.
Dan ini logika yang paling sederhana:
Dr. Tirta sudah bilang:
rakyat yang pintar adalah ancaman bagi penguasa yang tidak kompeten.
Karena rakyat yang pintar akan mempertanyakan kebijakan yang tidak ada gunanya.
Ahok sudah bilang:
kebodohan struktural bukan kebetulan. Ini by design. Tidak ada pemerintah otoriter yang ingin punya warga yang benar-benar cerdas.
Mahfud MD sudah bilang:
demokrasi tidak akan berhasil sebelum pendapatan per kapita mencapai 5.500 dolar.
Rakyat yang masih miskin dan tidak berpendidikan pasti menjual suaranya.
Dan sekarang alih-alih memperbaiki pendidikan yang bisa mengubah semua itu DPR mengusulkan membangun bioskop.
Rakyat yang tidak pintar tapi punya bioskop jauh lebih mudah dihibur.
Jauh lebih mudah dialihkan perhatiannya.
Jauh lebih mudah diberi sesuatu yang kelihatan seperti pemberian tanpa benar-benar mengubah kondisinya.
Dan ini yang paling menohok:
Orang desa yang gajinya Rp2-3 juta per bulan yang harga kedelai dan telurnya sudah naik karena rupiah melemah yang anaknya sekolah dengan guru yang mau resign karena gajinya tidak cukup untuk makan
Tidak butuh bioskop.
Mereka butuh guru yang digaji layak supaya anaknya tidak tumbuh dengan IQ 78.
Mereka butuh sekolah yang layak supaya anaknya bisa bersaing.
Mereka butuh sistem pendidikan yang mengajarkan berpikir kritis bukan menghafal untuk ujian.
Karena bioskop tidak mengubah nasib.
Bioskop hanya menghibur orang yang nasibnya tidak berubah.
Dan angkanya bicara sendiri:
1.000 layar bioskop dengan asumsi biaya pembangunan, peralatan, dan operasional bisa menghabiskan ratusan miliar bahkan triliunan rupiah dari APBN.
Uang yang sama bisa dipakai untuk:
menggaji 25.000 guru berkualitas selama satu tahun penuh. Atau membangun ratusan perpustakaan desa dengan koleksi buku yang memadai.
Atau memberikan beasiswa bagi ribuan anak desa yang putus sekolah karena tidak mampu.
Tapi yang diusulkan adalah bioskop.
DPR bukan Dewan Perwakilan Rakyat.
DPR adalah Dewan Penghibur Rakyat.
Rakyat tidak dirancang untuk pintar karena rakyat yang pintar tidak bisa dihibur dengan bioskop.
Rakyat yang pintar akan tanya:
kenapa anggaran pendidikan dipotong tapi ada uang untuk bioskop desa?
Kenapa guru digaji Rp1,5 juta tapi ada dana untuk layar sinema?
Kenapa stunting masih 21% tapi kita bahas distribusi film nasional?
Dan pertanyaan-pertanyaan itu jauh lebih berbahaya bagi mereka yang duduk di kursi DPR daripada rakyat yang diam di depan layar bioskop desa sambil lupa bahwa hidupnya tidak berubah.
Ironic fact:
Skripsi, tesis, disertasi, PKM, bahkan project-project sains yang banyak bikin produk inovatif hanya berakhir di tumpukan laporan pertanggungjawaban, ngga pernah bener-bener diproduksi massal dan berakhir di market.
I see a lot of them. Ketika dana project cair dan habis, yaudah, end of story. Gatau salah di mana.
[cm] Mo sungkem sama yg bikin zmeet. Kemarin panik bgt lupa sewa zoom buat sempro, untung nemu platform ini. Konsepnya self service, bayar lgsg dpt link+hostkey detik itu juga. Gak pake drama nunggu admin bales chat. Ketik aja "zmeet" di google kalo kalian butuh yg instant!
pagi mahasiswa se-Indonesia, semangat yang lagi uas, menjelang uas, ataupun ngejer mau segera wisuda. kalau butuh zoom yang free bisa cobain campaign dari https://t.co/JfFuVSWCFi. kalau mau berbayar juga bisa under 5k. Subsidinya beneran gila buat kalian #zonauang#mahasiswa
lama tak bersua. selamat long weekend, buat semester tua jangan lupa skripsinya. buat semester bawah selamat nugas dan menjalani minggu" akhir uasnya. kalo butuh zoom buru" yg cepet. cobain https://t.co/JfFuVSWCFi aja, btw ada campaign free juga. letsss go! #zonauang#mahasiswa
Pendidikan Fisika
Pendidikan Kimia
Pendidikan Biologi
Pendidikan Matematika
Pendidikan Bahasa Inggris
Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Pendidikan Bahasa Arab
Pendidikan Agama Islam
Pendidikan Guru Sekolah Dasar
Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah
Pendidikan Anak Usia Dini
Bimbingan dan Konseling
Manajemen Pendidikan Islam
Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan
Pendidikan IPS
Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan
Pendidikan Sejarah
Pendidikan Geografi
Pendidikan Ekonomi
Pendidikan Vokasi
Pendidikan Teknologi Informasi
Pendidikan Seni
Pendidikan Musik
Pendidikan Tari
Pendidikan Luar Biasa
Administrasi Pendidikan
Teknologi Pendidikan
Pendidikan IPA
Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini
Pendidikan Bahasa Jepang
Pendidikan Teknik Mesin
Pendidikan Teknik Bangunan
Pendidikan Administrasi Perkantoran
Pendidikan Sosial Antropologi
Pendidikan Masyarakat
Pendidikan Non Formal
Pendidikan Luar Sekolah
Kurikulum dan Teknologi Pendidikan
Pendidikan Profesi Guru
Pendidikan Bahasa dan Sastra Daerah
Pendidikan Akuntansi
Pendidikan Manajemen
Pendidikan Kewirausahaan
Pendidikan Kimia
Pendidikan Biologi
Pendidikan Fisika
Pendidikan Matematika
Tadris Bahasa Indonesia
Tadris Matematika
Tadris Biologi
Tadris Fisika
Tadris Kimia
Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial
Pendidikan Ilmu Pengetahuan Alam
Pendidikan Agama Kristen
Pendidikan Agama Katolik
Pendidikan Seni Rupa
Pendidikan Drama
Pendidikan Kesejahteraan Keluarga
Pendidikan Tata Boga
Pendidikan Tata Busana
Pendidikan Rekayasa
Pendidikan Multimedia
Pendidikan Teknik Elektro
Pendidikan Teknik Otomotif
Pendidikan Teknik Informatika
Pendidikan Koperasi dan Kewirausahaan
Pendidikan Bisnis
Pendidikan Kepariwisataan
Pendidikan Bahasa Mandarin
Pendidikan Bahasa Prancis
Pendidikan Bahasa Jerman