PURI JAGATSUKMA
Part 1- Kang Jawir
Sebuah puri yang tersegel sejak ribuan tahun yang lalu muncul di desa misterius. Berbagai pusaka, dedemit, ilmu hitam tersembunyi di dalamnya.. dan ia memanggil orang-orang yang terpilih...
@bacahorror@IDN_Horor@ceritaht#BacaHorror
Malam itu, Daru berteriak memanggil Kang Jawir, namun beberapa warga buru-buru menahan tubuh anak kecil itu.
Kang Jawir tidak peduli pada keributan di belakangnya. Ia berjalan tenang, langkahnya diselingi gerakan joget khasnya, sambil bersenandung pelan di bawah hujan yang mulai reda.
“Kang Jawir nggak jahat!” Daru meronta. Pak Sunyoto bergegas menenangkannya, mengelus kepala bocah itu.
“Bukan kamu yang harus mengejarnya, Daru…” katanya lirih.
Pak Sunyoto lalu berdiri bersama beberapa warga, mencoba menghampiri sosok lusuh itu.
“Kang Jawir! Jangan lupa pulang ke desa!” Teriak Pak Sunyoto yang ragu menggambarkan perasaanya.
Kang Jawir berhenti sejenak. Hujan gerimis membasahi tubuhnya, namun di wajahnya tersungging senyum samar. Ia bergumam pelan, seakan bicara pada dirinya sendiri,
“Danan, Cahyo, Nyai Jambrong… mungkin mengikuti jalan kalian bukanlah hal yang buruk…”
Nyai Runtak yang masih digendongnya hanya tersenyum, mengelus rambut kekasihnya itu.
Dari kejauhan, suara Daru kembali pecah.
“Kang Jawir! Kami nungguin! Bapak sama warga memang takut… tapi mereka tahu Kang Jawir dan Nyai Runtak bukan orang jahat!”
Kata-kata polos itu membuat Kang Jawir akhirnya menoleh. Ia melompat berputar, lalu berdiri dengan kedua tangan di pinggang.
“Enak aja! Kang Jawir pasti balik! Desa Leuwimunding teh wilayah Kang Jawir! Kalau ada yang macam-macam, sebut aja nama Kang Jawir!” serunya sambil menepuk dadanya sendiri.
Tanpa menunggu reaksi warga, Kang Jawir kembali berbalik. Langkahnya cepat, berlari bersama Nyai Runtak meninggalkan desa.
Nyai Runtak tersenyum getir. “Haha… itu janji yang berat, Jawir.” Ia tahu, perjalanan menuju Puri Jagatsukma bukan sekadar bertaruh nyawa, tapi juga jiwa mereka.
Pasangan aneh itu lenyap dalam kegelapan malam. Mereka melangkah menuju takdir yang menunggu di Puri Jagatsukma—tempat penuh rahasia, pusaka, dan dedemit yang telah terkurung ribuan tahun.
Hidup atau mati, mereka tidak peduli. Yang penting, kesempatan orang jahat memasuki puri itu sudah mereka rebut.
Namun kini, ada satu janji yang mengikat mereka.. :
untuk kembali ke Desa Leuwimunding, tempat yang ingin mereka lindungi.
***
(Bersambung Part 2 - Nyai Jambrong)
JURANG PENARI
Part 3 - Gending Dari Dasar Jurang
Aku harus menuruni jurang malam ini juga, sang Danyang penunggu jurang menantiku.
Puluhan nyawa dipertaruhkan..
@bacahorror@IDN_Horor@bagihorror
JURANG PENARI
Part 2 - Jeritan Mayat
Desa yang damai itu ternyata menyimpan masa lalu kelam. Desa itu pernah mati dengan tumpukan mayat yang memenuhinya dan jurang itu menjadi tempat pembuangan jasad tanpa identitas itu..
@bacahorror@IDN_Horor@bagihorror
Ajian Gambuh Rumekso. Angin menyayat tubuh-tubuh gaib itu, membuat mereka melengking, menjerit, lalu satu demi satu buyar. Namun sebagian masih bertahan, menatapku penuh kebencian.
“Aku ingin bertemu dengan tuan kalian!” teriakku. “Ndoro Sampur!”
Dongggg!!!
Suara gong tiba-tiba menggema dari dasar jurang. Samar-samar, tabuhan gamelan mengiringi suara itu, menanjak, menembus dada dengan irama mistis yang membuat bulu kuduk berdiri.
Seorang penari dengan wajah hancur melayang mendekat. Matanya bolong, bibirnya sobek. Ia menatapku tajam.
“Kau… bukan manusia biasa. Ndoro Sampur pernah melihatmu… di antara para danyang.”
Deg! Jantungku menghantam tulang rusuk. Mereka tahu… tentang masa laluku dengan para danyang lain. Aku hanya bisa berdoa agar ini tak membuat segalanya semakin rumit.
“Ndoro Sampur… menyambutmu,” ucapnya dengan suara retak. Ia menoleh ke jurang yang menganga hitam pekat. “Tapi kaulah yang harus menemuinya…”
Aku menelan ludah. “Katakan padanya, aku datang. Tapi jangan sakiti warga desa… jangan sakiti para pekerja!”
Penari itu tersenyum bengkok. “Itu tergantung jawabanmu…” lalu ia menghilang bersama hujan, meninggalkan udara dingin menusuk tulang.
Aku memandang jurang itu. Hitam, dalam, bagaikan mulut raksasa yang siap menelanku. Tempat di mana mayat-mayat pernah dibuang, tempat yang tak pernah disentuh manusia. Aku tahu, ke sanalah langkahku harus menuju.
“Mbah! Tolong carikan tali! Semakin panjang semakin baik. Aku harus ke bawah!” seruku sambil berbalik.
“Nak Danan?! Jurang itu… jurang itu bunuh diri!” suara Mbah Kartem bergetar, campuran takut dan cemas.
“Sudah tidak ada jalan kembali!” jawabku mantap. Mbah Kartem menatapku sebentar, lalu berlari
menuruti.
Saat aku berdiri sendirian, hujan membasuh wajahku, aku merasa… seolah jurang itu sedang menghisap jiwa. Lalu kudengar langkah kaki berlari mendekat.
Mbah Kartem kembali, membawa gulungan tali panjang. Tapi ia tidak sendirian.
“Kami bantuin pasang talinya, Mas!” seru Wahyu, napasnya terengah.
“Pakai safety set dulu, Mas. Cuaca gini bahaya,” ucap Mas Yusdi sambil menyorongkan helm dan perlengkapan keselamatan.
Yusron mendekat, matanya merah. Tangisnya tersamar hujan, tapi aku tahu itu air mata penyesalan.
“Kami… kami akan bantu pasang tali. Kami orang proyek, paham soal beginian. Tolong… selamatkan teman-teman kami, Mas.”
Aku mengangguk, hatiku menghangat. “Doakan aku…”
“Kami akan berjaga sampai Mas Danan kembali!” sahut Yusdi tegas.
Aku menarik napas panjang. Di tengah mencekamnya malam, di bawah hujan yang tak kunjung reda, aku merasa sedikit tenang. Ada yang menantiku di atas. Ada yang akan menjaga.
Namun sebelum aku sempat menuruni jurang, seorang pria lain mendekat, menembus kerumunan, hanya dengan celana pendek, sandal jepit, dan sarung yang tergantung di pundaknya.
“Mas! Siapin tali satu lagi, sama helmnya sekalian!” katanya, nyengir.
Aku terpaku. “Panjul…!? Cahyo!?”
Ia menyeringai. “Ngakunya kerja, eh malah urusan sama demit. Ngawur kamu, Nan!”
Dan untuk pertama kalinya di tempat itu, aku tertawa kecil. Di balik teror jurang, di tengah murka para penari, ada kehangatan yang menyalakan keberanian.
Aku tahu… aku tidak sendirian.
***
(Bersambung Part 3)
MARYAM
Namanya Maryam. Sejak lahir, ia terikat & terbelenggu oleh sosok yang bukan dari dunia ini.
Sosok terkutuk yang namanya pantang disebut lebih dari tiga kali. Jika itu dilakukan, malapetaka akan datang tanpa ampun.
Dia… Dimryat.
- a horror thread -
#Maryam#bacahorror
JURANG PENARI
Part 1 - Suara dari Alam Bawah
"Mereka ditimbun hidup-hidup, dan kini setiap mereka menari harus ada nyawa yang dipersembahkan..."
@IDN_Horor@bacahorror@bagihorror
Tapi sebelum pintu benar-benar tertutup, penari itu mendongak. Matanya menembus kegelapan, menatap lurus ke arah Danan. Senyum tipis, nyaris tak terlihat, merayap di bibirnya… namun sorot matanya berpendar aneh.
“Bukan… hanya… ini. Makhluk serakah! Kalian sudah mencuri dari kami… maka kami berhak mengambil kalian… satu per satu!!”
Pintu menutup rapat. Balai desa kembali sunyi.
Di luar, dentang gong kedua terdengar lebih keras, lebih dekat. Danan berdiri tegak, tak bergeming. Mengembalikan Cundrik Srenggono hanyalah sebuah penawaran, bukan jaminan keselamatan.
Berbeda dari ancaman itu, hujan perlahan mereda. Sosok-sosok penari dan makhluk-makhluk di luar memudar, menghilang ke kegelapan. Butuh waktu, namun akhirnya malam kembali tenang…
BRAKK!!
Pintu dibanting terbuka. Danan dan Mbah Kartem masuk, menyeret seorang pekerja, Yusron. Wajahnya pucat, tangannya menggenggam erat.
“Siapa lagi yang mencuri dari mereka?!” bentak Mbah Kartem, matanya berkilat marah. “Mencuri? Yusron? Kamu… mencuri apa?” Yusdi menatapnya tak percaya.
Yusron mulai menangis, bahunya terguncang. Penyesalan membebani suaranya.
“Aku… aku nggak tahu bakal begini… Sebelum ke sini, aku ketemu seorang kakek. Dia bilang kalau aku bisa menemukan Cundrik itu di pohon pinggir jurang… aku bakal kaya.”
Ia mengaku menemukan benda itu persis seperti arahan sang kakek. Begitu menyadari betapa istimewanya Cundrik tersebut, ia langsung menyimpannya dan menyembunyikannya dari pekerja-pekarja lainnya.. Ia tak tahu nyawa taruhannya.
“Ron!!! Temen kita mati, Ron!!!” Wahyu meledak, Ia meremas kerah Yusron, mengepalkan tangannya dan memukul wajah Yusron. Danan cepat menahannya.
“Benda keramat itu memang bisa memberi kekayaan, kekuasaan, membuat siapa pun tergila-gila padamu. Tapi bayarannya… bukan satu nyawa. Bukan dua. Lebih dari itu!” Mbah Kartem bersuara serak, namun dipenuhi amarah.
Mbah Kartem sudah mengawai Jurang Pengantin sejak berpuluh-puluh tahun. Ia menyadari ada begitu banyak tipu daya di tempat yang dianggap keramat dan sakral itu.
Saat Mbah Kartem hendak bicara lagi, Danan mengangkat tangan, menghentikannya. Danan mulai menyadari sesuatu.
“Cukup, Mbah. Aku sudah mengerti sekarang.”
“Maksudmu apa, Nak Danan?” Mbah Kartem menatapnya tajam.
Danan menyapu pandangan ke seluruh pekerja di ruangan. Wajahnya keras.
“Ada seseorang di antara kita yang sejak awal sudah mengincar Jurang Penari ini… dan dia belum berhenti.”
***
(Bersambung Part 2)
Nasib guru honorer memang perlu diperhatikan, wajar saja kalau mereka tertarik dengan yayasan yang bisa memberikan fasilitas yang jauh lebih baik.
Tapi gimana kalau rumah yg ditempati adalah perangkap dari para pelaku praktek kanibal?
Film Labinak Tayang 21 Agustus ini di Bioskop!
#FilmLabinak