Hi, teman-teman. Karena sekarang udah enggak aktif berjualan, aku mau jual murah sisa buku dari stok saat masih aktif berjualan sebelumnya.
Kalau lewat di TL kamu, bantu RT & like, ya. Terima kasih 🐾
Jadi, ada kabar sedih dari Kalimantan Selatan. Ternyata ada situs bersejarah keren banget di sana, yaitu ratusan lukisan dinding gua yg umurnya udah 2.000 tahun. Lukisan ini jadi saksi bisu kehidupan leluhur kita zaman dulu.
Sayangnya, sekarang keberadaan situs ini lagi terancam gara2 ekspansi kebun sawit di sekitarnya. Masalahnya, akar pohon sawit, perubahan suhu di dalam gua, sampai sisa pupuk kimia bikin lukisan kuno ini perlahan rusak dan memudar.
Abaikan hiasan dinding kantor seskab.
Fokus ke caption tweet kemensos. it's very concerning.
Menteri ngucapin terima kasih ke Seskab (eselon 2) krn meluangkan waktu untuk menerima laporan perkembangan pekerjaan.
Menteri lapornya ke Presiden lah. Seskab mah sekretaris biasa.
Ini seskab jadinya selevel wapres bahkan lebih.
Berapa banyak missing information selama ini yg terjadi karena menteri di-gatekeep ga bisa lapor langsung ke presiden?
Giorgia ini seorang wartawan di Italia. Tugasnya meng-cover buat International Desk.
Dan dia bilang "gak ada pertemuan atas nama presiden Indonesia hari ini"
🤣
Logikanya, seharusnya pertemuan kayak gini pasti sudah direncanakan jauh2 hari. Kayak siapa yang ditemui, apa agenda yang dibahas, apa expected outcome dari kunjungan tersebut, dll
Lah ini seorang Internasional reporter aja gak tau kalo presiden Indonesia mau dateng. Bahkan gak ada appointment sama sekali.
Berarti kunjungan dia ke Italia bukan agenda penting. Emang lagi pengen jalan2 aja.
Trus karena ditolak di Italia, mungkin wowo ngambek lalu lanjut liburan ke Austria dan Hungaria.
Ada yang ngespill surat pemecatan wowo dari TNI.
Salah satu alasannya:
"sering ke Luar Negeri tanpa ijin dari Kasab (Kepala Staf Angkatan Bersenjata) ataupun Pangab (Panglima Angkatan Bersenjata)"
Ohh pantes moment sih ini haha
TL rame krn dugaan pemalsuan riset oleh org Indonesia yg ketahuan waktu konferensi di Denmark
Peristiwa ini bkn cuma mencoreng nama Indonesia, tapi juga membuka tanya: seberapa kredibel ekosistem ilmiah kita?
Terus saya baca jurnal dari Ferdy Sambo, lalu dibuat kesal karenanya
Tau gak bahayanya kasus ini?
Selain nama Indonesia bisa jelek di mata ilmuwan dunia ya.
Tapi pemalsuan data untuk dipresentasikan di forum ilmiah itu dampaknya bisa luas. Mungkin ada researcher lain yang ga tau kalo mereka fake, kemudian kutip penelitian mereka, dan dijadiin bahan praktek/treatment.
Ini tuh semestinya kan bawa data dan temuan ilmiah. Nah bayangin temuan ilmiahnya fake.
Masa' harus nunggu ada yang jadi korban dari orang2 norak yang sekadar pengen keluar negeri gratis sih?
Minimal kemenkes turun tangan sih. Ngejagain marwah keprofesian dan keilmuwan soalnya.
Pemalsuan riset terorganisir yg baru ketahuan saat konferensi di Denmark ini jatuhnya WHITE COLLAR CRIMINAL.
Saya pun penasaran jejaring pelakunya. Di akun IG w.o.d.d sebenarnya udah di-spill nama2nya.
Tapi saya penasaran jejak digitalnya di internet. Dan ini yg saya temukan
Tanpa mengurangi rasa hormat kepada Pesta Babi, dari POV periset, memang salah satu prinsip dasar yg harus kita hormati ketika mengambil data dari manusia lain adalah consent selalu dapat dicabut kapan saja.
Periset harus menghargai ini sepenuhnya, dan mengakomodirnya.
Setelah membaca "paper" milik Ferry Irwandi yang diunggah di Google Drive, kok, saya melihat ada nuansa AI di sini, ya?
Hal ini karena ada yang tadi mengulasnya, dan memang saya temukan di beberapa frasa dan beberapa sisi lainnya.
Saya bukan praktisi ekonomi, tidak ngeh juga dengan syudududu-ekonomi, angka-angka, dan formula yang Ferry tulis.
Tapi frasa yang dipakai, termasuk gaya inferensinya, "cukup akrab" di benak saya sebagai output bergaya-AI.
Dan untuk "sisi lain" tadi, tadi sore, sudah ada yang mengulasnya sedikit. Yaitu inferensi yang (mungkin) dijadikan landasan itu bisa jadi berasal dari sebuah paper.
Karena seperti yang kita tahu, AI itu punya basis data yang diterbitkan secara daring, dan kadang-kadang ia mengambil inferensi dari hal yang sudah ada.
Plus, ternyata bener, tidak ada daftar pustaka yang dijadikan rujukan di semua PDF-nya.
Benar bahwa sesekali Ferry, jika tidak keliru, memakai APA sebagai gaya pengutipan (citation style). Tapi saya tidak tahu judul aslinya karena tidak dia cantumkan di halaman terakhir (yang seharusnya berisi daftar pustaka).
Di antara yang referensinya ditulis lengkap adalah ini (sekadar contoh saja): Ferry memakai "Poor Economics" sebagai rujukan.
Saya punya PDF buku itu.
Tapi setelah saya upyek-upyek isi PDF-nya (bahkan meminta AI untuk memastikannya), ternyata buku itu tidak memuat angka yang Ferry pakai.
"...Banerjee dan Duflo dalam Poor Economics (2011) dan evaluasi World Bank atas Indonesia BISA Program 2023 menunjukkan bahwa targeted nutrition interventions memberikan return 1,5-2 kali universal coverage dengan budget yang sama."
Poor Economics memang mendukung gagasan bahwa investasi gizi yang diarahkan ke kelompok berisiko, seperti anak dan ibu hamil, punya imbal hasil sosial yang besar, dan bahwa sekadar menambah pasokan kalori bukanlah solusi.
Tapi, angka 1,5 sampai 2 kali lipat itu tidak ada di sana.
Jadi, menurut saya, yang bisa "disangga" buku ini cuma arah argumennya, bukan besaran angkanya, seperti yang ditulis Ferry.
Makanya, kalau Ferry menyandarkan pernyataannya yang berinti angka 1,5-2x ke buku ini, dia membuat Poor Economics seolah menanggung lebih dari yang sebenarnya kedua penulisnya tulis di buku itu.
NB: saya bisa salah membaca Poor Economics, dan AI juga bisa tidak akurat. Jadi, silakan koreksi bacaan saya ini~
Namun pada intinya, Ferry jika memang serius dengan analisisnya, harusnya mengirim ini ke rumah jurnal. Klaim besarnya soal "makroekonomi" di sini jelas harus difalsifikasi pakar sejawat.
Bukannya berakhir di PDF tiga file yang diunggah di Google Drive begini.
😅
Walhasil, saya takjub dengan energi Ferry. Salut untuknya yang telah membikin tiga PDF yang cukup mewakili dedikasinya untuk Indonesia.
Salam hangat untuk Ferry dan Malakan.
Sudah nonton Pesta Babi?
Film dokumenter yang menyoroti perampasan tanah adat, kerusakan ekologis, dan proyek food estate di Papua Selatan, termasuk menyebut keterlibatan Samsudin Andi Arsyad alias Isam, dan sejumlah konglomerat lain.
Sebelumnya, Project Multatuli juga melaporkan jejak konflik agraria anak usaha Jhonlin Group dalam produksi biodiesel B50.
https://t.co/Ajgtk4Vjdw
Guys, barusan gue tonton Bocor Alus soal Letkol Teddy.
Video ini menguatkan dugaan yang selama ini beredar bahwa Teddy disebut sebagai salah satu pintu utama menuju ke presiden.
Berikut poin-poin penting yang Tempo beberkan..
- Menteri disebutkan melapor ke Teddy, tidak hanya ke Presiden
- Menteri dan pejabat yang dekat dengan Teddy disebutkan memiliki akses lebih mudah ke Presiden
- Tempo menyebut Teddy berada dalam grup komunikasi menteri dan wakil menteri untuk memantau kinerja mereka.
- Teddy disebutkan ikut mengawal program prioritas presiden dengan detail...
- Misalnya, untuk program perumahan, Teddy dikabarkan sampai mengecek penerima subsidi, pembiayaannya, hingga detail lapangan acara peresmiannya.
- Media sosial Teddy tidak hanya dipakai untuk melaporkan program presiden, tetapi juga untuk membranding dirinya sebagai tokoh yang teliti dan pekerja keras.
INFO PALING SENSITIF: Tempo menyebutkan ada cerita dari internal militer dan istana yang menduga bahwa Teddy sedang disiapkan menuju jenderal bintang satu.
Dan seperti yang kita tahu, karier militer Teddy sebelumnya juga sempat dipersoalkan sejumlah pihak.
Source Info: Bocor Alus Tempo
Source Gambar: Harian Jogja.