Istri almarhum: “Pak, suami saya meninggal minggu lalu. Saya mau tanya gaji terakhirnya.”
HR: “Sudah kami transfer prorata sampai tanggal meninggal ya, Bu.”
Istri almarhum: “Terus hak lainnya, Pak?”
HR: “Hak apa ya, Bu? Kan hubungan kerjanya sudah berakhir.”
Istri almarhum: “Iya, Pak. Yang berakhir hubungan kerjanya. Bukan kewajibannya.”
Ini yang keluarga hampir nggak pernah tahu, dan HR jarang nawarin sendiri.
Kalau pekerja meninggal, ada tiga sumber hak yang berbeda.
Pertama, dari BPJS Ketenagakerjaan program JKM: santunan kematian Rp42 juta, dibayar ke ahli waris, walaupun meninggalnya bukan karena kerja. Plus beasiswa untuk maksimal 2 anak, dari TK sampai kuliah, totalnya bisa sampai Rp174 juta. Ini PP 82/2019.
Kedua, dari perusahaan langsung. PP 35/2021 Pasal 57: kalau pekerja meninggal, ahli waris berhak atas uang pesangon 2 kali ketentuan, uang penghargaan masa kerja 1 kali, dan uang penggantian hak. Buat masa kerja 5 tahun, hitungannya bisa belasan kali gaji.
Ketiga, saldo JHT dan JP di BPJS Ketenagakerjaan, yang cair ke ahli waris.
Yang harus disiapkan ahli waris: akta kematian, KK, KTP, surat keterangan ahli waris dari kelurahan, dan buku rekening.
Buat JKM, datang ke kantor cabang BPJS Ketenagakerjaan atau lewat aplikasi JMO.
Buat pesangon, minta secara tertulis ke HR dengan menyebut PP 35/2021 Pasal 57.
Jangan tanda tangan surat “pernyataan tidak ada tuntutan” apa pun sebelum semua angkanya jelas.
Gue tahu ini bukan hal yang mau dipikirin di minggu pertama. Makanya ini buat disimpan, bukan buat dibaca sekarang.
Kalau ada teman atau saudara yang baru kehilangan pasangan yang masih bekerja, kirimin ini pelan-pelan. Bulan kedua biasanya lebih siap dengar daripada minggu pertama.
Menurut kalian, banyak nggak keluarga pekerja yang sebenarnya belum tahu hak-hak seperti ini ketika pencari nafkah meninggal?
Lewat di tl langsung bikin diem bentar. Merinding beneran denger doanya
“Jika bapak mengkhianati rakyat, maka saya orang pertama yang bersaksi di hadapan Allah SWT dan meminta melipat gandakan siksaan Bapak di Neraka”
UAH Kepada Prabowo.
Ngeri bgt, urusan amanah rakyat emang taruhannya langsung akhirat. Jangankan jd pemimpin, jd rakyat yg denger kalimat ini aja langsung deg-degan bgt 😭
HP temen gue hilang. Besoknya syok berat, tagihan Paylater Rp12 juta dari transaksi yang gak pernah dia lakuin.
Aplikasinya dengan enteng bilang, "Pelaku masuk pakai PIN asli, berarti kelalaian user."
Temen gue sampai depresi. Gue langsung turun tangan.
3 hari kemudian, tagihan itu resmi jadi Rp0. Total biaya jadi Rp0.
Ini yang gue lakuin:
Bukan nyari HP lewat GPS. Prioritas utama adalah, amankan semua akun finansial dari perangkat lain. Login dari device cadangan, force logout semua sesi aktif. Terus telpon operator, blokir SIM card sementara. Ini krusial biar pelaku gak bisa terima OTP via SMS.
Yang paling penting dan kebanyakan orang gak tahu yaitu, minta log IP address + Device ID dari semua transaksi. Email resmi ke CS, minta data lengkap. Ini bukti kuat kalau transaksi dilakuin dari perangkat dan lokasi yang BEDA dari lo.
Buat laporan polisi (STPL). Banyak orang males ke polisi, padahal ini bukti hukum resmi bahwa lo korban, bukan pelaku yang pura-pura hilang.
Kirim surat sanggahan resmi via EMAIL, bukan chat CS biasa. Lampirkan kronologi, foto STPL, permintaan pembekuan tagihan selama investigasi. Chat CS gampang diabaikan, email formal punya kekuatan hukum.
Mereka masih nolak? Lapor OJK. https://t.co/vDQmTDwwDW atau telpon 157. OJK punya wewenang penuh buat nindak platform yang abai perlindungan konsumen. Begitu laporan OJK masuk, respons mereka biasanya berubah 180 derajat.
Alasan "PIN asli = kelalaian user" itu gak valid secara hukum. POJK 6/2022 bilang perusahaan WAJIB punya verifikasi berlapis untuk transaksi tak wajar. Kalo sistem mereka gak bedain pemilik asli vs pelaku, itu kegagalan MEREKA.
Hasilnya, hari 1 laporan polisi + sanggahan. Hari 2 eskalasi OJK. Hari 3 tagihan Rp12 juta DIHAPUS jadi Rp0.
Btw, stop nyatet PIN di Notes HP lo.
Nikita Willy: "Sejauh mana batasan keterlibatan mertua dalam rumah tangga anaknya?"
Bu Rani: "Saya kalau mau ke rumah anak saya, saya WA mantu saya dulu."
Mungkin dia lagi capek. Mungkin kulkasnya kosong. Mungkin dia lagi ingin sendiri.
"Anak kita siap menerima kita kapan saja. Tapi menantu kita belum tentu."
Setuju ya bu ibu 🤔
Bu Rani bilang banyak orang tua sebenarnya tidak membenci menantunya.
Mereka hanya tidak siap menerima satu kenyataan:
"Anak kita sudah ada yang punya."
Karena sejak menikah, anak yang selama ini hanya menjadi bagian dari keluarga kita, kini juga menjadi bagian dari keluarga orang lain.
Dan tidak semua orang tua siap dengan perubahan itu.
Menurut Bu Rani, banyak konflik mertua dan menantu bukan karena ada yang jahat.
Tapi karena ekspektasi.
Mertua berharap menantunya punya pandangan hidup, kebiasaan, bahkan nilai yang sama dengan keluarganya.
Padahal menantu dibesarkan oleh orang tua yang berbeda.
"Kalau kita sebagai orang tua sudah memberikan restu kepada anak kita untuk menikah, biarkan mereka menjalani hidup dengan nilai-nilainya sendiri." — Bu Rani
Menurutnya, nilai yang diajarkan orang tua kepada anak belum tentu cocok untuk pasangan hidup anaknya. Karena itu, orang tua perlu siap menerima bahwa anaknya mungkin akan memiliki cara hidup yang berbeda setelah menikah.
cc:threadhallolalalah
Harga BBM Indonesia walaupun naik, masih SANGAT MURAH dibandingkan negara-negara ini.
Australia : Rp21.000
Kanada : Rp22.000
Jepang : Rp20.000
Singapura : Rp36.000
Jerman : Rp33.000
Belanda : Rp35.000
Italia : Rp32.000
Spanyol : Rp30.000
Indonesia : Rp14.000
Harga BBM di Indonesia masih relatif terjangkau. Ini berkat sinergi & komitmen pemerintah dalam memastikan BBM yang murah, dan mampu menjangkau seluruh lapisan masyarakat
Begitulah kata buzerp.....
Tapi yang tidak di ungkap adalah gaji rakyat disana, nih awak luruskan biar gak makin prabodoh
Gaji rata-rata penduduk
1. Australia : Rp45 juta/bulan
2.143 liter/bulan
2. Kanada : Rp40 juta/bulan
1.818 liter/bulan
3. Jepang : Rp32 juta/bulan
1.600 liter/bulan
4. Singapura : Rp75 juta/bulan
2.083 liter/bulan
5. Jerman : Rp55 juta/bulan
1.666 liter/bulan
6. Belanda : Rp60 juta/bulan
1.714 liter/bulan
7. Italia : Rp35 juta/bulan
1.093 liter/bulan
8. Spanyol : Rp30 juta/bulan
1.000 liter/bulan
9. Indonesia : Rp3,1 juta/bulan
221 liter/bulan
10. Gaji honor nakes dan guru: 250k/bulan
17,8 liter /bulan
Asli, di Bali sering banget bule dihajar. Ga perlu nunggu sampe ngerusak gitu.
Di Legian, beberapa bulan lalu ada bule dilempar ke sungai sama dua waria, sampe jadi berita.
Di Canggu, pas bulan puasa kemarin lihat bule dihajar security karena narik2 cewe yg lagi nunggu ojol, dipaksa masuk ke taksinya. Itu bule habis digibeng berkali-kali, ditendang sampe masuk ke dalam taksi. Berasa nonton film action gua.
Di Gianyar, bule lagi cosplay jadi begal taksol dihajar massa sampe babak belur. Kalo ga ada aparat dateng dikit lagi mampus itu. Untung aja ga ada provokator yg teriak "bakar!"
Di Seminyak, siang bolong, lihat bule dikepruk asbak sama waitress. Si bule marah2 minta ketemu manajernya, ternyata langsung disamperin sama owner cafenya.
Si owner tanya ke si waitress, diceritain lha kalo si bule bilang orang Indonesia itu murah dan bisa dibeli, sambil remes pantatnya. Si owner langsung melotot, tapi bukannya marah ke pegawainya, malah bulenya ditendang sampe tersungkur.
Si bule lari keluar, dikejar sampai dia nyeberang jalan. Dari seberang dia teriak2 "I was just joking, man. I was just trying to make a joke." sambil bikin gestur minta maaf "🙏". Di seberang ada yg nanyain si bule ada apa, abis cerita bukannya dikasih simpati malah dikeplak lagi.
The man calling out Ferrari over its new electric car is the same man who built modern Ferrari from the wreckage of 1991. Luca di Montezemolo joined the company in 1973, at age 26, as Enzo Ferrari's personal assistant. A year later, he was running the entire F1 team.
In his late 20s, that team won world driver titles with Austrian racer Niki Lauda in 1975 and 1977. He then moved up through Fiat, the Italian car giant that owns Ferrari, and even ran Italy's 1990 World Cup organizing committee.
By 1991, Ferrari was in trouble. Enzo had died three years earlier. Fiat had pushed yearly production to around 4,500 cars, and Ferraris were sitting unsold in showrooms. The F1 team was losing. By the early 1990s, magazine tests were showing Honda's mid-range NSX out-handling the Ferrari 348 on track. So Gianni Agnelli, the billionaire who ran Fiat, called Montezemolo back to fix it.
He moved fast. First he cut production by almost half, so Ferraris would feel rare again. Then he hired what fans still call the dream team: Jean Todt as team boss, Ross Brawn writing race strategy, and a young German driver named Michael Schumacher pulled away from a rival team in 1996.
The numbers from the run that followed still look unreal on paper. Between 1999 and 2004, Ferrari won six straight team championships, and Schumacher won five driver titles in a row. The team took more than two-thirds of every race held in that period. Schumacher retired with 91 career wins, 72 of them in a red Ferrari, still second only to Lewis Hamilton on the all-time list.
The road car business ran on one rule: keep them scarce. Production stayed near 7,000 cars a year even as demand kept climbing. Some buyers waited 15 years to get one. Ferrari built specific models designed to become legends, the Enzo, the 599 GTB, the LaFerrari hybrid hypercar. Across his 23 years in charge, the company's revenue grew about tenfold and sales more than tripled.
In 2014, the new Fiat boss Sergio Marchionne wanted to sell more cars. Montezemolo wanted to keep them rare. Marchionne won the argument, and Montezemolo was pushed out in October. A year later, Ferrari went public on the New York Stock Exchange at $52 a share. Today the stock trades near $350, and the company is worth close to $60 billion, an outcome that arguably proves both men right.
The Ferrari Luce launched Monday. It is a $640,000 four-door family car, fully electric, designed with Jony Ive (the man behind the iPhone) and his studio LoveFrom. Within hours of the reveal, Ferrari's Milan shares dropped about 8 percent. The next day, speaking at a business conference in Rome, Montezemolo said Ferrari was risking "the destruction of a myth" and asked for the Prancing Horse to be taken off the car. He should know what destroying the Ferrari myth looks like. He built that myth himself.
Lmao I have 2.
Mother Teresa and Mahatma Gandhi.
Mother Teresa let dying patients be treated with blunt reused needles, had a mortality rate about 40% in her clinics and when she was confronted about the conditions, said there’s something beautiful in seeing the poor accept their lot, and to suffer it like Christ’s Passion. Doctors called her facilities “homes for the dying”. And cancer patients were given aspirin for pain.
Gandhi too, the face of universal peace, the person that said “be the change you wish to see”, spent years in South Africa describing Black Africans as “savage”, “dirty” and living like animals. He campaigned actively to prove to British rulers that Indians were superior to native Black Africans. He also organized a brigade to help suppress a Zulu uprising. His defenders say he evolved. Maybe.
Nobody likes to talk about the entire sides of history.
And these are their summarized versions btw.
Buat yang MALAS MEMBACA tapi BUKAN PARJO PARCOK. Saya bantu translasi article the Economist biar ga IKUTAN DUNGU teriak antek asing dan "semua akan hilang ketika IHSG bullish":
"Presiden Indonesia, Prabowo Subianto, pernah menyaksikan negaranya hancur sebelumnya. Itu terjadi pada tahun 1998, saat krisis keuangan Asia. Kala itu, runtuhnya ekonomi memicu protes massa dan tumbangnya bapak mertua Pak Prabowo, Suharto, seorang diktator yang terkenal korup. Peristiwa itu juga melemparkan Pak Prabowo, yang sempat berharap bisa menggantikan Suharto, ke dalam pengasingan politik. Butuh waktu seperempat abad baginya untuk merangkak kembali, hingga akhirnya berhasil meraih kursi nomor satu pada tahun 2024.
Jadi, Anda mungkin berpikir dia akan sangat berhati-hati terhadap krisis fiskal lainnya: Anda salah.
Pemimpin negara dengan mayoritas Muslim terbesar di dunia ini telah memusatkan kekuasaan dan mengelilingi dirinya dengan sekelompok penjilat. Dia mendepak menteri keuangan yang dihormati dan menggantinya dengan Purbaya Yudhi Sadewa, yang pernah menyebut IMF "bodoh" dan mengatakan kepada The Economist pada bulan April bahwa presiden tidak perlu khawatir tentang "perkembangan ekonomi global [atau] harga minyak dunia". Para pelaku bisnis di Indonesia takut untuk bersuara, mungkin karena Pak Prabowo adalah mantan jenderal antikritik dengan rekam jejak hak asasi manusia yang dipertanyakan, atau mungkin karena belakangan ini dia kerap mengintimidasi bisnis-bisnis besar.
Pak Prabowo tampaknya mengisolasi diri dari kenyataan. Jadi, dia mungkin tidak akan mendengarkan nasihat yang masuk akal. Namun, inilah beberapa masukan untuknya. Proyek-proyek kesayangannya tidak terjangkau. Sebelum perang Iran, menghabiskan proyeksi 10% dari anggaran hanya untuk dua proyek saja—makan siang gratis di sekolah dan jaringan 80.000 koperasi desa—hanya sekadar pemborosan. Sekarang, krisis energi telah menghapus semua ruang untuk melakukan kesalahan. Pak Prabowo harus mengubah arah atau menghadapi risiko krisis.
Dia harus memotong pengeluaran untuk proyek-proyek kesayangannya, atau memangkas subsidi bahan bakar fosil Indonesia yang sangat besar, atau melanggar undang-undang yang membatasi defisit anggaran sebesar 3% dari PDB. Setiap pilihan memiliki risiko. Memangkas proyek mubazirnya akan membuatnya tampak lemah. Membiarkan harga energi naik akan mengundang kerusuhan. Jadi, Pak Prabowo mungkin akan mengambil jalan ketiga: membiarkan defisit menembus batas hukumnya.
Itu akan menjadi sebuah kesalahan. Memang benar, batas 3% adalah angka sewenang-wenang yang disalin-tempel dari Perjanjian Maastricht Eropa. Namun sejak krisis 1998, angka itu telah menjadi sinyal bahwa pemerintah Indonesia serius menjaga disiplin fiskal. Sekarang para investor mulai cemas. Pembayaran bunga sebagai bagian dari pendapatan pemerintah melonjak tajam. Lembaga pemeringkat kredit sedang bersiap untuk menurunkan peringkat. Di bawah kepemimpinan Pak Prabowo, modal asing senilai $6 miliar telah keluar dan rupiah telah melemah sebesar 11% terhadap dolar ke rekor terendah. Menjebol batas anggaran akan mendorong biaya pinjaman menjadi lebih tinggi.
Bahkan saat dia membuat ekonomi menjadi lebih genting, Pak Prabowo juga mengikis demokrasi Indonesia. Oposisi legislatif hampir sepenuhnya dilumpuhkan, dan proposal untuk mengakhiri pemilihan langsung gubernur provinsi bukan merupakan pertanda baik. Masyarakat sipil diintimidasi. Ruang untuk berbeda pendapat sangat sedikit, dan jika ada, minim pergulatan kreatif antar-gagasan yang saling bersaing. Terlalu banyak hal yang bergantung pada naluri seorang mantan tentara tunggal yang mendapat saran buruk.
Dia perlu mendengar kebenaran yang pahit. Ya, bahan bakar murah memang populer. Namun hal itu mendorong konsumsi di tengah situasi kelangkaan. Ya, orang-orang menyukai makan siang gratis di sekolah. Namun memberikannya kepada semua orang adalah pemborosan. Lebih bijaksana untuk fokus pada ibu hamil dan balita dari keluarga miskin, yang membutuhkan nutrisi lebih baik guna mencegah stunting (tengkes). Ya, petani Indonesia kerap diperas oleh tengkulak saat membeli pupuk. Namun ada cara yang lebih murah untuk mengatasi hal ini ketimbang membangun 80.000 koperasi desa, yang kemungkinan besar justru rentan korupsi. Dan ya, batas defisit 3% bisa saja dinaikkan suatu hari nanti. Namun pertama-tama, Pak Prabowo harus meyakinkan pasar bahwa keuangan Indonesia berada di tangan yang aman.
Persimpangan jalan baru
Indonesia telah membuat kemajuan besar dalam seperempat abad terakhir. Di bawah serangkaian pemerintahan yang cukup pragmatis, pendapatan per kapita telah meningkat lebih dari dua kali lapor dan demokrasi mulai berakar. Pak Prabowo bukanlah penguasa kleptokratis seperti mendiang bapak mertuanya, tetapi dia sedang mengikis kemajuan yang telah dicapai negaranya sejak masa-masa kelam dulu.
Presiden harus berhenti mencoba membungkam oposisi di legislatif, media, dan masyarakat sipil. Perbedaan pendapat yang tidak menemukan saluran dalam politik akan tumpah ke jalanan, seperti yang terjadi dalam kerusuhan tahun lalu. Bersikeras bahwa oposisi harus "sopan" adalah resep yang suatu hari nanti justru bisa mengubahnya menjadi kekerasan.
Masih ada harapan. Pak Prabowo peduli dengan warisan kepemimpinannya. Jadi, dia perlu menyadari bahwa negara kepulauan yang sangat besar, luas, dan multi-etnis seperti Indonesia tidak bisa begitu saja diberi perintah layaknya sebuah unit tentara. Indonesia membutuhkan seorang panglima tertinggi yang mendengarkan banyak suara, bukan yang mengelilingi dirinya dengan orang-orang yang hanya bisa berkata "ya""
yes, i do and it’s actually more important than most people think
the blue flame is what u want, what everyone wants. it means the gas is getting enough oxygen so it burns clean and efficiently. it comes from complete combustion which produces heat, carbon dioxide and water vapor... hotter, safer and better for cooking.
the yellow/orange flame is a warning sign. it means incomplete combustion maybe cos the burner is dirty or airflow is blocked. that color can produce carbonmonoxide which is very dangerous for your health. it also wastes energy and gives you bad heat.
learn something 👍
Wacana penutupan program studi yang dianggap tidak relevan dengan industri ini memunculkan pertanyaan dan kekhawatiran.
Ada kebijakan yang tampak efisien dalam jangka pendek, tapi bila tidak hati-hati, justru membelokkan arah perjalanan bangsa dalam jangka panjang. Sambil menunggu informasi lengkapnya, izinkan berbagi tentang paradigma ilmu murni dan ilmu terapan ini.
Ilmu murni kerap dipandang jauh dari praktik. Seolah berdiri di menara gading, tidak menyentuh denyut kebutuhan industri. Padahal, di sanalah akar dari hampir seluruh inovasi yang kita gunakan hari ini berasal. Rumus-rumus yang tampak abstrak, teori-teori yang dulu dianggap “tidak berguna”, justru melahirkan teknologi yang kini kita anggap keniscayaan.
Kita menikmati internet, kecerdasan buatan, hingga kemajuan di bidang kesehatan, tapi tak selalu ingat bahwa fondasinya dibangun oleh para ilmuwan yang bekerja tanpa kepastian aplikasi. Mereka meneliti bukan berbasis permintaan pasar, tetapi karena keingintahuan memahami bagaimana dunia bekerja.
Kita perlu ingat bahwa relevansi tidak selalu bisa diukur dalam horizon waktu yang pendek. Apa yang hari ini tampak tidak terkait industri, bisa jadi esok hari menjadi tulang punggungnya.
Negara yang hanya menyiapkan tenaga siap pakai, tanpa melahirkan pemikir-pemikir dasar, berisiko terjebak sebagai pengguna belaka. Kita menjadi pasar, bukan pencipta. Kita mengimpor solusi, alih-alih menghasilkan jawaban dari dalam negeri dan membaginya kepada dunia.
Lebih jauh lagi, kebijakan publik yang kuat juga lahir dari pemahaman dasar yang kokoh. Mulai dari ilmu epidemiologi (berbasis matematika dan biologi dasar) yang berjasa besar saat pandemi, lalu ilmu lingkungan (ekologi dan geofisika) dalam menghadapi bencana perubahan iklim, hingga ekonomi teoretis dalam merancang kebijakan fiskal. Semua itu berakar pada ilmu-ilmu yang sering dianggap “tidak praktis”.
Menutup atau melemahkan ilmu murni berarti mengurangi kemampuan kita untuk memahami dunia secara mendalam. Tanpa pemahaman itu, keputusan kita mudah terjebak jadi dangkal.
Tentu, keterhubungan dengan industri itu penting. Bila suka apel bukan berarti benci jeruk. ;)
Perguruan tinggi jelas tidak boleh terlepas dari kebutuhan zaman. Namun, menjawab tantangan itu tidak harus dengan menutup ilmu murni. Yang diperlukan adalah menjembatani, bukan menggantikan. Menguatkan ekosistem, bukan menyederhanakan secara berlebihan.
Pada akhirnya, pendidikan tinggi bukanlah soal mencetak pekerja bagi industri, tetapi tentang menyiapkan masa depan dan membangun peradaban bangsa.
Masa depan itu tidak pernah dibangun hanya dari apa yang terlihat berguna hari ini, pun membangun peradaban tak boleh direduksi jadi sekadar membangun industri.
Maka, barangkali yang perlu kita jaga adalah keseimbangan. Antara yang langsung terpakai dan yang menjadi fondasi. Antara keterampilan dan pemikiran. Antara kebutuhan hari ini dan visi hari esok.
Dengan menjaga keseimbangan itulah, kita dapat berdiri tegak sebagai bangsa yang tak hanya mengikuti kemajuan dunia, tetapi juga menciptakannya.