Namun sebuah tendangan dari Eyang Widarpa menyapu tubuh Cahyo dan membuatnya terpental lagi.
“ Itu bayaran karna sudah menyebutku demit tua gila… Kalian tidak usah ikut campur “ Eyang Widarpa memaksa.
Cahyo menggaruk-garuk kepalanya dan mencoba berdiri menghampirinya lagi.
“ Cahyo… apa batu yang dibawah gong itu yang dimaksud mbah rusman?” aku berbisik pada Cahyo.
Cahyo memperhatikan apa yang aku maksud.
“oo.. Pantes aja ga keliatan, air hitam itu menutupi keberadaan waturingin itu” ucap Cahyo.
Suara alunan gamelan yang mendayu-dayu terdengar dengan sangat indah , tetesan air yang jatuh ke sendang membuat suara itu menjadi terlalu nyaman untuk didengar. Namun sayangnya suara ini berasal dari demit-demit di alas mayit.
Permintaan disanggupi , seluruh pengikut kedua patih berkumpul menyaksikan . benteng istana menjadi dipenuhi oleh orang-orang yang sebelumnya saling bertarung.
Rupanya sang raja memiliki rencana,
“ Danan… eling Danan! Demit itu mempengaruhi kamu” Teriaku sambil menunjuk pada hantu Laksmi yang tertawa dengan mengerikan.
“ Bunuh…. Bunuh mereka Danan, balaskan dendamku!” Demit itu terus membisikan kata itu ke Danan.
Namun sebelumnya kami harus mengantarkan benda ini ke Cahyo dan Paklek , semoga saja ini bisa benar-benar berguna untuk mereka.
(Bersambung Part 5 – Desa Terkutuk)
#gendingalasmayit#ceritahorror#radiotengahmalam
“ Ar.. kalau info yang gua dapet, tabuh itu berarti pemukul gamelan ya?” Tanya Nizar.
“Bisa jadi , kalo bener berarti emang berhubungan sama suara gamelan itu… tapi pasti ada yang membuat tabuh itu jadi spesial” jawabku.
“Waturingin … itu bisa jadi nama tempat” ucap Ranto.
Tanpa menunggu , kakek tua itu meremas kepala setan itu , memakan tubuhnya hingga tidak berdaya.
“Gending alas mayit…” Ucap Eyang widarpa.
“ Apa itu mbah? “ tanya danan
“ Tanya sama bocah itu , sudah tidak ada yang mengahalangi ingatanya” ucap kakek itu.
topik-topik ringan tak berhenti bermunculan saat perjalanan. Wajar saja, selama kejadian di imah leuweung kita hanya membahas masalah-masalah yang serius. Perjalanan yang harusnya cukup lama jadi terasa cukup singkat , tanpa terasa kami sudah sampai di rumah paklek.
..
Namun, tiba-tiba, aroma yang tidak sedap dan tajam mulai mengisi udara. Awalnya, Hendra menghiraukannya, berpikir bahwa itu mungkin saja aroma dari luar yang masuk ke dalam rumah.
Aku merasa darahku membeku.
Dengan hati-hati, aku menoleh ke belakang.
Dan di sana, dalam bayang-bayang di sudut ruangan, aku melihatnya. Wajah-wajah itu. Mereka ada di sana, mengintai dari kegelapan, menatap langsung ke arahku. Aku tidak bisa bergerak. Aku tidak bisa bernapas.
“Kalian jangan main-main dengan pocong!” tegurnya suatu malam ketika dia melihat sekelompok anak muda sedang bersiap-siap untuk ‘berburu’ pocong lagi. “Kalian kira ini cuma lucu-lucuan? Pocong itu bukan mainan! Tiap bersinnya bawa kutukan, anak-anak.”
Dimas yang mendengar percakapan itu segera menghampiri pintu. “Reza, kamu baik-baik saja? Apa yang terjadi?” tanyanya cemas.
Reza hanya menatap Dimas tanpa ekspresi. “Kamu semua sudah membuatnya marah. Dan sekarang, dia akan mengambil apa yang dia inginkan.”
Tapi Riski tidak bisa membohongi dirinya kalau ada perasaan yg terasa mengganjal yg entah kenapa membuat dirinya lebih waspada dari pada biasanya saat berada di dalam rumah ini, seperti ada sesuatu yg sedang mengawasi dirinya dari suatu tempat yg entah dari mana datangnya.
Septi tidak tau siapa wanita tua itu, dia juga tidak mendengar seseorang masuk ke dalam rumahnya apalagi ke kamar ibunya, tapi jika ada orang yg berani melakukan itu pastilah orang sinting yg entah apa tujuannya masuk ke rumah ini, Septi bersembunyi, tubuhnya gemetar hebat.
bocah yg dia cari tidak ada di sana, hanya bentangan sajadah tempat Septi melihat lantai kosong yg sebelumnya dia lihat dengan mata kepala sendiri tempat anak kecil sedang meringkuk sendirian. Septi tentu saja terdiam sejenak, bingung dengan apa yg terjadi.
Lidya kemudian kembali melipat kertas-kertas itu, meletakkannya begitu saja di atas meja, dia bisa merasakan ada sesuatu yg tak menyenangkan dibalik gambar-gambar itu, bahkan setelah apa yg terjadi, Lidya tak bisa berhenti mengatur nafas nya,
pak Idris pun kembali menutup pintu, setelah memastikan Khair anaknya masih berada di dalam sana, pria paruh baya itu pun berniat kembali dan mendorong bagian lemari agar menjauh dari ruang utama, namun baru beberapa saat pak Idris berjalan, suara pintu terbuka kembali terdengar