Halo perkenalkan saya Yufeng, orang yang kamu pos videonya tanpa izin dengan narasi yang digoreng-goreng seperti ini. Apakah anda ada masalah dengan saya? Karena saya tidak mengenal anda dan saya sendiri tidak terima bahwa saya sebut "cosplayer tiktok cabvl"
Comifuro dari Kacamata "Wibu Tua" yang Baru Pertama Kali Hadir
CF 22 kali ini adalah pertama kalinya aku datang langsung setelah bertahun-tahun cuma "lihat dari jauh". Ada banyak hal yang bikin aku mikir, termasuk berbagai reaksi pengunjung.
Sebelum aku bahas ini dari kacamata wibu yang juga EO, ada beberapa konteks yang perlu kita tahu sama-sama.
Sejarah Singkat CF.
Comifuro awalnya lahir dari Gelar Jepang UI sebagai "doujinshi convention", konsepnya mirip Comiket di Jepang. Dari sana, acara ini berkembang, memisahkan diri dari Gelar Jepang, dan berdiri sebagai event mandiri.
Aku melihat, banyak orang membandingkan "era Balai Kartini" dan "era ICE BSD" yang dipisahkan oleh era Covid. Wajar kalau banyak orang punya nostalgia yang berbeda tergantung pertama kali mereka datang di era yang mana.
Dan aku sendiri tidak punya pengalaman langsung di era Balai Kartini, jadi aku enggak akan sok tahu seberapa besar bedanya dengan sekarang. Aku fokus sama hal yang aku rasakan sekarang aja.
Nah, masuk ke bagian yang paling bikin aku kaget.
Waktu dengar kata "Comifuro" atau "Comic Frontier", otak aku langsung ngebayangin booth-booth jual manga, doujinshi, artbook, dan orang-orang cosplay karakter anime.
Tapi ternyata CF jauh lebih luas dari itu, yang kurasa, CF lebih mirip Comic Fiesta di Malaysia daripada Comiket di Jepang.
Yang datang bukan cuma otaku anime, doujinshi, dan games. Ada komunitas berbagai TCG yang arenanya ramai banget, ada penggemar kucing dan anjing yang jualan merchandise pet-themed, ada penggemar musik, komunitas militer, dan banyak lagi.
Doujinshi dan komik, yang jadi judul acara ini, cuma mengisi sekitar kurang dari 20% booth yang ada. Sepengamatanku, produk paling dominan itu paper & acrylic-based merch.
Aku gak tahu apakah dari CF era Balai Kartini, sejauh apa bedanya dengan yang sekarang. Pun mengenai apakah perbedaan ini hal baik atau bukan, aku juga gak tahu.
Yang namanya pengunjung pasti punya ekspektasi berbeda-beda, tapi event expo itu secara fundamental berbeda dari event semacam konser, dimana kepuasan penonton bisa lebih terkontrol karena kontennya terpusat dan mayoritas produk dari EO itu sendiri.
Di expo, konten utamanya adalah tenant. EO cuma menyediakan panggungnya, dan "pertunjukannya" adalah semua yang jualan dan berpartisipasi di dalamnya.
"Tapi kan EO bisa bikin kurasi untuk tenant dong?"
Bisa, tapi tidak sesederhana itu. Ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan.
Biaya operasional venue ICE BSD itu tidak kecil. Penerimaan dari booth tenant adalah salah satu penopang utama supaya event ini bisa tetap jalan. Kurasi yang terlalu ketat artinya lebih sedikit tenant, dan itu ada konsekuensi finansialnya.
Lalu, "kurasinya berdasarkan apa?" itu sendiri sudah jadi pertanyaan yang susah dijawab. Kalau standarnya adalah nostalgia kita soal CF dulu, kita sedang mendefinisikan acara ini berdasarkan sudut pandang yang sempit. Banyak komunitas baru yang juga punya hak untuk mendapatkan ruang.
"Jadi, poin Kala nulis Artikel ini apa?"
Kita perlu sama-sama sadar, kalau kita datang dengan ekspektasi festival doujinshi dan fandom klasik, kita mungkin merasa event ini sudah bergeser jauh.
Tapi kalau kita punya ekspektasi CF adalah festival untuk berbagai komunitas kreatif dan pop culture, bisa dibilang CF tumbuh jadi sesuatu yang lebih inklusif.
Implikasi inklusifitas itu, makin banyak "orang random" dan "normies" berdatangan. Sebagai orang yang profesinya EO, aku mahfum soal padatnya manusia di CF ini.
Memang, layout dan pengkategorian booth, serta alur crowd di acara ini masih bisa diperbagus lagi. Mungkin aku akan bahas di stream soal pendapat dan saranku agar CF bisa makin baik lagi ke depannya.
Sedangkan, kalau soal "gatekeeping", justru kita sendiri yang bisa jawab.
Kalau mau CF lebih sesuai minatmu, ya dorong tenant yang kamu suka buat hadir dan membesar. Karena kalau tidak, minat orang lain yang akan maju.
If you're in Indonesia and need a new laptop, I advise buying before April 2026. Our boss heard from Jakarta that prices of new laptops are likely to hike massively in April even for local brands (~Rp 9 jt for an Axioo with Intel i3 processor. What about int'l brands like Asus?).
Steam is moving closer to ARM64 availability as Ubuntu begins public testing of a Snap package powered by FEX x86 emulation.
Ubuntu has started public testing of a special Steam version for ARM64 systems, using FEX to run standard x86 games on ARM hardware.
Early tests show excellent results: Cyberpunk 2077 achieves over 200 frames per second on powerful ARM setups like the NVIDIA DGX Spark, with other games running smoothly.
NVIDIA GeForce Now to Gain Native Linux Support
The company has not shared full technical details yet, but this move will give desktop Linux users a supported way to stream games without relying on workarounds.