Akademia Indonesia juga punya lore sendiri sebenarnya.
Kita sudah lewat arc jurnal predator. Sudah lewat prosiding Scopus industrial complex. Sudah kenyang seminar yang peserta dan pematerinya saling mengutip demi KPI.
Sekarang masuk season baru: conference influencer.
Karakter utamanya bukan ilmuwan. Content creator dengan lanyard.
Dunia akademik Indonesia in a nutshell 🤣🤣🤣
Ada yang sendirian bikin pemalsuan sitasi sampai jutaan di Google Scholar…
Ada yang gerombolan bikin riset palsu pake AI, ganti-ganti jilbab & nametag, presentasi di ISPPD 2026 Denmark cuma buat travel grant keliling dunia!
Risetnya fiktif, datanya dari Peruvian Andes sampe Sudan Selatan, tapi pelakunya orang Indonesia semua.
Nama Indonesia dipertaruhkan di mata ribuan ilmuwan dunia.
Ini cerminan sistem atau budaya ‘cari gampang’ yang udah kelewat batas?
@liffitrindewor@ardisatriawan@EYulihastin Nah ini, salah satu kekuatan dari konferensi kredibel itu peserta+jejaringnya. Bisa sampai ada yang ngeh sama penulis dan research yang sus itu membuktikan peserta aslinya kredibel juga
Ada yang lagi rame:
DUGAAN Beberapa orang Indonesia melakukan pemalsuan riset terorganisir dan TERUNGKAP di Konferensi ilmiah di Denmark??
Masih menunggu kesimpulannya.
Karena ini berpotensi mencoreng nama baik ilmuwan Indonesia di mata internasional.
Stabilitas PNS menghambat inovasi nasional
talenta hebat yang seharusnya membangun teknologi atau industri baru, akhirnya menghabiskan waktu 20 tahun hanya untuk mengurus surat menyurat atau regulasi.
PNS menciptakan keamanan dan kenyamanan dalam bekerja yang membunuh insting survival dalam melahirkan inovasi besar.
Not unpopular opinion, but a fact u should know. Gak semua ASN seperti oknum yg malas dan hilang hilangan. Dengan adanya oknum itu, ada banyak ASN muda yg kerjanya mati matian, ada yg beban kerjanya gak karuan, ada yg dijadiin tempat sampah dari jobdes yg ditolak senior/sesepuh
Valid, sudah terbukti di dunia @PNS_Ababil . Makin rajin makin ditumpukin banyak kerjaan. Sementara para pemalas inkompeten dapat beban kerja sedikit. Dan konyolnya ujungnya nilai SKP pegawai rajin dan pemalas sama aja. 😑
Soal copyright:
Di dunia akademis, ada perusahaan mafia raksasa bernama Elsevier.
Grup pemilik Elsevier merampok £3.3 miliar per tahun.
Mafia Jurnal Elsevier menguasai distribusi jurnal akademis di planet.
Padahal, mereka tidak berkontribusi terhadap pengecekan kualitas jurnal.
Dosen dan peneliti yang mengecek keabsahan jurnal yang dipublikasi tidak menerima royalti apapun dari Elsevier.
Untuk mempublikasikan paper ke jurnal milik Elsevier, harus bayar.
Untuk mendownload paper dari jurnal milik Elsevier, juga harus bayar.
Elsevier sendiri hanya gabut saja. Mereka tidak melakukan apapun kecuali merampok dan memalak.
Akibat biaya random dan mencekik yang dipalak oleh Elsevier, hingga ratusan dollar per access paper, universitas-universitas di negara miskin menjerit.
Perkembangan riset di negara-negara miskin itu pun terhambat bahkan mati.
Bukan hanya negara-negara miskin, universitas di negara-negara kaya juga menjerit dan sempat mengadakan boikot.
Budaya publikasi preprint ke Arxiv salah satunya berasal dari sini. Jika paper dipublikasi gratis sebelum dipublish, kita tinggal download preprintnya saja.
Sekelompok peneliti di Kazakhstan pun membuat alternatif bernama Sci-Hub yang dengan berani membajak sebanyak-banyaknya paper dari Elsevier dan menguploadnya secara gratis
Ini termasuk dengan menjadi ASN lho ya. Hanya krn seseorang terserap ke bidang X, bukan berarti dia diberi kepercayaan untuk menjadi “posisi kunci” sbg pembuat kebijakan. Sebagian besar cuma bisa jadi “yes man” terhadap permintaan yang gak masuk akal krn sistem kerja yg hirarkis.
Nasib mau taat peraturan. Perlu mengurus dokumen ke kelurahan. Hari 1: petugasnya lagi dinas keluar. Datang besok aja karena tidak jelas kapan balik.Hari 2:akhirnya ketemu petugas, katanya: hrs ada surat keterangan dr RT dan domisili. Hari 3:ke RT,RT lagi rapat kelurahan.Lanjut..