“kami mau melapor ke polisi, polisi punya dapur sppg, kami mau melapor ke TNI, TNI punya dapur sppg, kami mau melapor ke DPR, DPR pun punya dapur sppg. jadi ini jalan terakhir kami untuk mengadu, kepada konstitusilah kami berharap”
—ucap seorang guru, pendidik anak bangsa. ironi.
Ini sedih sebenarnya.
Bapaknya dulu demo berharap negara lebih baik, anaknya bisa tumbuh di kondisi yang lebih baik.
Eh tahunya anaknya juga harus turun ke jalan dengan alasan yang hampir sama
KAYAKNYA BARU PEMERINTAHAN PRABOWO,
AJANG MARATHON JADI DEMONSTRASI YANG KEREN, BEBERAPA NOTES NYA :
- RUN BETTER THAN THE GOVERNMENT RUNS THE COUNTRY
- SORRY YEE, MY PACE IS MORE STABLE THAN THE RUPIAH
- YOUR HEART RATE IS STILL LOWER THAN USD $$$$$
- LARI LO LEBIH KUAT DARIPADA RUPIAH
- LARI YANG BENER! KITA DIKEJAR PAJAK!!
- RUN FASTER IF U WANT TO BE RICH
- YAKIN MAU STOP? PRBW* AJA NYALON 5X
- 10 + 6 = 21 KM
- Running 21.1 KM is hard, but being a WNI is harder.
- Cukup media yang dibungkam, jangan sampai kita diam!
- Pace turun masih mending, rupiah jangan.
- Yang dikejar PB, yang nyusul harga-harga.
- Lari 21K lebih gampang daripada cari kerja.
- Kalau capek istirahat, kalau rakyat capek gimana?
- Keep running before the dollar does.
- Naikkan pace, turunkan harga.
- Kaki kuat, dompet belum tentu.
- Lari demi kesehatan, bukan demi efisiensi.
- Personal best naik, daya beli turun.
- Finisher medal > janji kampanye.
- Lari pagi, lihat kurs rupiah, cardio lagi.
- Pajak mengejar, kami berlari.
- My pace is faster than government reform.
- Strong legs, weak rupiah.
#intinyadeh dosen Universitas Atma Jaya Yogyakarta dipecat abis lapor dugaan publikasi jurnal predator ke Kemendiktisaintek, libatkan belasan dosen, pejabat kampus, guru besar.
Sempet dipanggil Rektorat, dibilang rusak nama baik kampus, alih2 dilindungi sbg whistleblower.
(1/2)
Tidak ada yang namanya surat izin demonstrasi, adanya SURAT PEMBERITAHUAN.
Tapi mahasiswa ga bikin juga surat itu, nakal. Kenakalan mahasiswa ga seperti "kenakalan" aparat yang siram air keras ke aktivis!
Jangan salah sangka bahwa saat ini Prabowo takut pada mahasiswa karena melihat dulu mertuanya (Soeharto) ditumbangkan oleh Mahasiswa.
Sebab, bukan mahasiswa yang menumbangkan Soeharto secara langsung saat itu.
Prabowo tahu itu.
Yang berbahaya di mata Prabowo adalah intervensi asing dan penghianatan dari dalam.
Dua hal itulah yang menumbangkan rezim 32 tahun Soeharto.
Dan karena itulah Prabowo selalu menyebut “aseng aseng aseng!” dan hanya merekrut orang-orang loyalis (penjilat) di sekitarnya.
1. Peran asing
Ada peran Presiden Amerika Serikat periode 1993-2001 yakni Bill Clinton di balik lengsernya kepemimpinan Soeharto.
Kala itu Bill risau karena permasalahan Timor Timur tak kunjung terselesaikan dan malu saat dibahas di konferensinya oleh sidang keamanan PBB.
Saat itu Soeharto ditelepon oleh Medeleine Albrigt dari Manila yaitu menteri luar negerinya Bill Clinton.
Ia disuruh mundur.
Presiden AS Bill Clinton mendesak Soeharto untuk sepenuhnya mematuhi reformasi ekonomi.
Direktur Pelaksana IMF saat itu, Michel Camdessus, bahkan mengakui bahwa organisasinya menciptakan kondisi yang mewajibkan Presiden Soeharto untuk mundur.
2. Penghianatan dari dalam
Saat itu, Ketua DPR/MPR Harmoko, yang dikenal sebagai pendukung berat Soeharto, malah menuruti tekanan massa.
Ia mengeluarkan pernyataan agar Soeharto mengundurkan diri dari jabatannya sebagai presiden.
Hal itu dilakukan Harmoko karena merasa mendapat dukungan dari pimpinan ABRI.
Pimpinan DPR/MPR secara terbuka meminta Soeharto mundur.
Situasi ini diperparah oleh mundurnya 14 menteri dari Kabinet Pembangunan VII.
Mundurnya para menteri saat itu juga mencerminkan hilangnya dukungan pada Soeharto.
Rakyat menentang, ABRI menarik diri, dan para menteri juga mundur, bahkan pembantu terpercaya sekaligus buzzer resminya, Harmoko menyarankannya mundur, artinya Soeharto sudah tak punya pendukung lagi.
Keesokan harinya, Selasa, 19 Mei 1998, Soeharto mengundang sejumlah tokoh Islam sebanyak sembilan orang.
Mereka adalah KH Abdurrahman Wahid alias Gus Dur (Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama), Nurcholis Madjid (Direktur Yayasan Paramadina), KH Alie Yafie (Ketua Majelis Ulama Indonesia), Malik Fajar dan Sumarsono (tokoh PP Muhammadiyah), KH Cholil Baidowi (Muslimin Indonesia), Achmad Bagdja dan KH Ma'ruf Amin (tokoh NU), dan Emha Ainun Nadjib (budayawan).
Soeharto juga mengundang pakar hukum tata negara Yusril Ihza Mahendra.
Para tokoh agama ini pun menyampaikan bahwa rakyat Indonesia tetap menginginkan Soeharto mundur dari jabatannya sebagai presiden.
Tapi Soeharto berkukuh bisa mengatasi keadaan.
Ia menyatakan akan mengubah Kabinet Pembangunan VII menjadi Kabinet Reformasi dan akan membentuk Komite Reformasi.
Tapi esok harinya, Rabu, 20 Mei 1998, malam, Soeharto menerima surat hasil keputusan dari 14 Menteri Kabinet Pembangunan VII yang intinya menyatakan sikap tak bersedia menjabat sebagai menteri dalam Kabinet Reformasi atau reshuffle kabinet.
Soeharto merasa terpukul dan ditinggalkan oleh orang-orang kepercayaannya.
Karena itulah bagi Prabowo, asing dan penghianatan jauh lebih berbahaya dibanding demo mahasiswa.
Ingat kawan, kemarin guru demo aja dia malah melambaikan tangan dari mobil dikira mendapat dukungan.
1998: Fahri Hamzah pimpin KAMMI, turun ke jalan lawan Orde Baru.
Tuntutannya: cabut dwifungsi ABRI, berantas KKN, tegakkan demokrasi.
2024: Fahri masuk Kabinet Prabowo jadi Wakil Menteri.
2026: Di depan kamera, Fahri bilang mahasiswa yang demo "salah paham."
Bilang Prabowo punya "niat baik."
Bilang sistemnya sudah baik.
Di malam yang sama, Feri Amsari mencatat: dari enam agenda reformasi yang dulu diperjuangkan , lima sudah rusak.
Multifungsi militer kembali.
Polisi masuk ruang sipil.
DPR bukan lagi penyeimbang eksekutif.
Fahri tidak membantah satu angka pun.
Dulu Fahri di jalanan, tuntut cabut dwifungsi ABRI.
Sekarang Fahri di kabinet , dan dwifungsi itu sedang kembali dalam wujud baru.
Yang berubah bukan situasinya.
Yang berubah adalah posisi duduknya.
Kalau niat baik cukup jadi alasan untuk tidak dikritik , kenapa dulu Fahri turun ke jalan?
Nih denger para runners tone deaf.
Toh kalo kebijakan yang dikeluarkan bagus, nanti harga registrasi marathon elu gak semahal itu kocak.
Inget! Pukul ke atas bukan ke samping
Draft:
Selama aksi demo hampir tidak ada TV nasional yang meliput.
Tapi menjelang malam, ada massa yang tidak jelas tiba-tiba muncul dan mulai berbuat anarkis, TV mendadak breaking news, disiarkan secara live, dengan narasi seolah-olah inti dari demonstrasi adalah kerusuhan.
Polanya selalu mirip.
Kalau ada musisi bersuara, komennya:
Fokus bikin lagu aja.
Kalau ada penulis bersuara, komennya:
Fokus nulis puisi—fokus nulis aja.
Kalau ada guru bersuara, komennya:
Fokus ngajar aja.
Kalau ada pelukis bersuara, komennya:
Fokus lukis aja.
Kalau ada anak muda bersuara, komennya:
Fokus sekolah aja.
Kalau ada stand up komedian bersuara, komennya:
Fokus ngelawak aja.
Mereka selalu nyerang, seolah profesi profesi kita, tidak ada kaitan dengan kebijakan politik.
Media Inggris, BBC Sport, menyoroti standar ganda FIFA soal tuan rumah Piala Dunia.
"Indonesia, yang seharusnya menjadi tuan rumah Piala Dunia U-20 2023, dicopot hak tuan rumahnya setelah menyatakan bahwa Israel tidak akan diizinkan masuk.
Namun, ketika Amerika Serikat membuat keputusan serupa yang berdampak pada negara-negara peserta Piala Dunia, seperti Iran, FIFA menyatakan bahwa mereka tidak berdaya."
📝 @BBCSport
Sekitar dua tahun setelah lulus SMA, saya pernah nganggur berat, cari kerjaan susah betul. Tiap pekan sudah rutin beli koran KR sabtu khusus buat cari lowongan kerja, tetep ga dapet-dapet. Susah tembus. Sekalinya dapet ternyata kena tipu (Daftar jadi admin tapi tesnya disuruh jual tuxedo).
Ga enak sama orang tua, akhirnya saya ngekos di daerah Jalan Godean. Cari indekos yang paling murah. Sengaja ngekos biar nggak tinggal di rumah.
Saya terpaksa bohong sama orang tua, bilang kalau saya sudah kerja, padahal belum. Sekadar buat ngayem-ayemi bapak dan ibu.
Selama ngekos, ongkos hidup ditanggung dari hasil nge-dropship jualan kaos online yang hasilnya tidak tentu. Kadang sehari dapat pembeli satu, kadang nggak dapat sama sekali.
Nggak punya laptop, jualan full dari browsing di warnet deket kos, sengaja pilih happy hour pukul 01.00 sampai subuh biar murah.
Hidup harus ngirit setengah mati, sehari cuma makan dua bungkus nasi kucing dan dua potong tempe goreng, beli dari angkringan. Hidup benar-benar penuh dengan kepayahan.
Satu-satunya hiburan cuma nonton tayangan Upin-Ipin di tivi portabel hitam putih yang dulu saya bawa buat hiburan di kos.
Nangis? Tentu saja sering. Kelewat sering. Air mataku api.
Dan karena pengalaman itu, saya tak pernah berani ngecengin pengangguran, sebab saya tak tahu, ikhtiar apa saja yang sudah mereka lakukan agar tidak nganggur.