Kak...? Ini MUHAMMADIYAH 🙏😭 menurutku sangat wajar mereka menentang hal ini loh?????? 🙏😭 Universitas berbasis agama islam, di dalam islam kan menentang... jd sangat wajar. 🥲🙏 ga semua hal yg kamu inginkan bisa diterima kak apalagi kalau udh agama.
@inididii@pangbandrang Loh, itu Jawaban "tidak" itu ditujukan kepada pertanyaan "apakah itu malaikat?", bukan penolakannya terhadap adanya kloningan tersebut. Karena kloningan itu ngajar di majelis, tapi ia berbohong bhw dirinya adl Ibn Taymiyyah. Karena itu dipastikan bhw kloningan tsbt bkn Malaikat.
Ente juga gak lagi disana, joni. Tapi minimal ente kan punya kepala dan smartphone. Seharusnya ente tau disana anak-anak sedang kelaparan, dan kain kafan gak bisa dimakan
lebih mirip politisi.
1. Tau dikit, ngomongnya banyak
2. Seneng monolog/pidato bombastis
3. Ga mau engage dgn yg lbh pinter dari dia utk ngetes ide.
4. Effort belajar minim krn udah ngerasa pinter.
5. Seneng bodoh2in orang.
6. Seneng ngeles alih2 minta maaf
Pejabut banget
lah gimana sih.. ditaatinya bukan karena ia rebut kekuasaan, tp ia kemudian menerapkan syariat...maka ia wajib ditaati, sekalipun ia kemudian ada perilaku dzalim pada kondisi tertentu..
kl pakai narasi anda, ada yg berontak berontak, ambil kekuasaan, apa pun hukumnya kemudian yg dilegislasi (non syariat) wajib taat 😂😂😂
🤣🤣🤣🤣🤣
Sharh ngawur lu..
Hadits itu bicara perumpaan bahwa ada hadits sebelumnya (shahih muslim) kl pemimpin itu dari Quraisy.. tp saat haji wada beliau saw bersabda soal pemimpin yg bukan dr quraisy.. tp diumpamakan dr budak..
Bengak emang lu, pakai sharh ga jelas juntrungannya.. dari mana lu belajar sharh hadits demikian, coba lu kutip disini sharh hadits demikian?
@ahmadfaisal86@BukanAntarkota@ranglasi@ThatSun510 Diangkat secara ilegal gimana.. hadits itu bicara pemimpin dpt berasal dari siapa saja, tdk harus dari kalangan arab atau pun khususnya quraisy.
Gimana ceritanya itu artinya pemimpin ilegal pengangkatannya 😭😭🤦
@Seseseweher@BilalFahrur Dia nulis dengan jelas, "Saudi Arabia, negara yang di berkahi Allah". Bukan menulis "Makkah dan Madinah". Saudi Arabia itu negara yang baru muncul jauh sekali setelah Rasulullah wafat...
Perbedaan kasus @tomlembong dan @nadiemmakarim :
1) Tom Lembong membuat kebijakan impor gula sesuai kebijakan Pemerintah (Joko Widodo) - bukan melakukan pengadaan barang dan jasa (gula).
2) Nadiem melaksanakan “arahan” Presiden Joko Widodo dan selanjutnya merangcang sistem dan mekanisme pengadaan barang dan jasa bersama “teman-temannya” di luar organisasi kementerian.
Saya sih nggak terlalu kaget soal isu sensitif istana yang lagi beredar. Yang justru bikin saya kaget adalah fakta bahwa ternyata Komdigi bisa secanggih itu.
Bisa gerak cepat. Bisa responsif. Bisa menekan platform besar. Bisa bikin akses media sekelas YouTube/Google ikut kena tindakan (walaupun masih bisa diakses lewat VPN h3h3). Bisa bikin pernyataan resmi (padahal target subyek pembahasan di video bukan Komdigi, tapi Komdigi rela nyebokin).
Bahkan bisa sigap ambil langkah hukum dan bisa bypass aturan MK soal pedoman UU ITE yang nggak bisa digugat oleh badan/instansi.
Berarti kemampuan teknisnya ada.
Dan kalau kemampuan itu memang ada, harusnya ruang digital kita bisa jauh lebih bersih dari sekarang.
Harusnya iklan penipuan nggak semudah itu lewat. Harusnya nomor pribadi masyarakat nggak seenaknya dipakai SMS promosi.
Harusnya data kita nggak gampang bocor lalu dipakai buat nawarin pinjaman, j*dol, investasi bodong, sampai lowongan kerja palsu. Harusnya platform-platform digital yang merugikan masyarakat juga bisa ditindak dengan kecepatan yang sama.
Karena ternyata masalahnya bukan karena negara ini nggak punya alat. Alatnya ada. Jalurnya ada. Kapasitasnya ada.
Cuma selama ini kita terlalu sering melihat teknologi negara bekerja cepat ketika yang terganggu adalah kekuasaan, bukan ketika yang dirugikan adalah masyarakat.
Karena ternyata tombolnya memang ada.
Cuma rakyat sering kebagian tulisan:
“mohon menunggu”.
Tapi yaa kita sama-sama paham lah ya, kenapa isu-isu krusial yang lain terkesan sulit diberantas.
Sekelas warung remang-remang saja mesti "koordinasi" dulu biar bisnisnya tetap jalan.
Paham kan ya..
cc:cakraadinegara
hah sekarang non PNS bisa jadi direktur setara eselon 2 di pemerintah? udah gila. gw kira cukup berhenti di kotak obat nuntut diangkat jadi PNS tanpa tes, ternyata ada yg lebih membagongkan lagi. udah bro makin ga worth it lu yg pinter2 seleksi CPNS 😹
“Yaman” ini bisa jadi isu politik nasional dan bisa merembet ke negara yaman sendiri…
Prabowo itu makin kesini makin tidak peka dan goblok dalam menanggapi isu politik ataupun kritik..
Dia blm menyadari kalau dia itu sekarang menjabat posisi presiden/kepala pemerintahan bukan sebagai anaknya soemitro…
#prabowo
#GOBLOOOOK
@tempodotco rutinitas pak Prabowo:
jalan² ke luar negeri -pulang- pidato nyalahin Aseng - jalan² ke luar negeri - pulang- pidato nyalahin org pinter- jalan² ke luar negeri- rayakan ultah- pulang- pidato nyalahin masyarakat- jalan² ke luar negeri- pulang- pidato nyalahin orang lagi.
@httpscure @jondhez Narasi “lihat daycare-nya” itu klasik banget. Highlight satu hal baik, lalu pura-pura lupa konteks besar.
Pilkada 2017? Politik identitas all over the place.
Dan Anies Baswedan rode that wave.
Don’t rewrite history.
kalian boleh ndak suka sama mutualku ini, tapi
dia menjanjikan daycare saat kampanye pilkada DKI 2016, dan beneran membangun 32 daycare profesional ketika jadi gubernur.
saat menjadi mendikbud 2014, dia juga membuatkan daycare di kantor kementrian [yg kemudian digusur].
sayangnya, masyarakat kita ga terlalu peduli dengan hal-hal seperti ini, janji serupa di pilpres 2024 cuma dianggap remeh.
sekarang ketika ada kasus daycare malpraktek di jogja yg kemudian viral, kita cuma bisa menuntut pertanggungjawanan setelah kejadian, karena akar masalahnya tidak pernah jadi perhatian.
mereka gak care pentingnya daycare.
#lamjutkanmbg
Berat dosa khianat amanah. Especially if you're known as syekh atau guru agama yg idealnya jd penjaga akhlak bukan sumber kerusakan. Multi-layered pelanggarannya: pelecehan, sesama jenis, nodai tempat ibadah, jual nama Rasulullah–sahabat Ali–Imam Syafi'i, persepsi publik ke Islam
1). Luky Alfirman (eks. DJA)
- S1 Teknik Industri - Institut Teknologi Bandung
- S2 Economics (MA) - University of Colorado, Boulder
- S3 Economics (PhD) - University of Colorado, Boulder
2). Febrio Nathan Kacaribu (DJSEF)
- S1 Ilmu Ekonomi / Ekonomi Pembangunan - Universitas Indonesia
- S2 International & Development Economics (Master) - Australian National University
- S3 Economics (PhD) - University of Kansas