@Hulkbuster032@Neiramecca@barcastuff_idn Di sini ada Mac Allister juga ditarik di kotak pinalti Mesir, tapi gak cek var. Mereka yang kata nya NETRAL gak ada yang membahas ini 😅
Piala Dunia dan Kontroversi: Dari De Jong, Neuer, Höwedes, sampai Salah—Drama Itu Sudah Jadi Bagian dari Sejarahnya
Kalau ada yang sekarang ribut soal kontroversi di Piala Dunia seolah turnamen ini baru “rusak” karena satu-dua keputusan wasit, rasanya mereka memang sedang memilih lupa pada sejarah.
Piala Dunia dari dulu bukan panggung yang steril dari perdebatan. Justru sebaliknya: ia selalu dipenuhi duel keras, keputusan abu-abu, momen yang membelah opini, dan insiden yang bertahun-tahun kemudian masih dibahas ulang seolah baru terjadi kemarin sore.
Lihat saja final 2010. Sampai hari ini, salah satu gambar paling melekat dari laga itu adalah kungfu Nigel de Jong ke dada Xabi Alonso. Itu bukan kontak ringan, bukan duel 50:50, tapi momen yang kalau dilihat dengan ukuran sekarang sangat layak dipandang sebagai kartu merah.
Namun pertandingan tetap berjalan, Belanda tetap utuh, dan final tetap dikenang bukan hanya karena gol Andrés Iniesta, tapi juga karena keputusan yang meninggalkan rasa janggal. Sejak titik itu saja harusnya orang paham: Piala Dunia selalu punya sisi gelap berupa keputusan yang tidak akan pernah diterima bulat oleh semua pihak.
Empat tahun setelahnya, di final 2014, kontroversi kembali hadir dengan wajah yang berbeda.
Kasus Gonzalo Higuaín lawan Manuel Neuer sudah terlalu sering dibahas untuk diulang dari nol, tapi tetap penting disebut karena ia menjadi salah satu contoh paling jelas betapa satu duel bisa memecah dunia menjadi dua kubu.
Ada yang melihat Neuer menghantam Higuaín dan menganggap Argentina dirugikan. Ada juga yang membela keputusan wasit dengan berbagai argumen teknis.
Apa pun posisi orang, satu hal tetap sama: sampai hari ini momen itu tidak pernah benar-benar selesai. Ia hidup terus sebagai bahan perdebatan, sebagai luka bagi satu pihak, dan sebagai pembelaan bagi pihak lain.
Dan final 2014 tidak berhenti di situ. Ada pula momen Pablo Zabaleta saat kakinya ditekel potong oleh Benedikt Höwedes.
Tekel yang cukup keras dan cukup kontroversial untuk masuk dalam daftar duel yang diperdebatkan. Lagi-lagi, poinnya bukan sekadar apakah itu harus dianggap pelanggaran besar atau tidak.
Poinnya adalah Piala Dunia selalu menghasilkan momen seperti ini: satu benturan, satu tekel, satu keputusan, lalu bertahun-tahun setelahnya orang masih membawa potongan adegan itu untuk memperkuat narasi masing-masing.
Sekarang maju ke 2026, dan cerita yang sama terulang lagi.
Mohamed Salah jatuh dalam duel melawan Julián Álvarez di kotak penalti, lalu perdebatan langsung pecah. Ada yang melihat itu sebagai pelanggaran yang seharusnya menghasilkan keputusan berbeda.
Ada yang menganggap itu kontak wajar dalam duel intens di level tertinggi. Ada yang menilai Salah terlalu mudah jatuh, ada pula yang merasa wasit mengabaikan momen penting. Polanya sama, nadanya sama, dan reaksinya juga sama seperti yang sudah-sudah: satu kubu merasa dirugikan, kubu lain merasa semuanya biasa saja.
Makanya agak aneh kalau ada yang memakai kontroversi-kontroversi seperti ini untuk merendahkan Piala Dunia, seolah turnamen ini jadi tidak sah, tidak megah, atau tidak layak dihormati hanya karena ada keputusan yang diperdebatkan. Justru sejarah Piala Dunia memang dibangun bersama momen-momen semacam itu.
Ketika tekanan setinggi langit, intensitas pertandingan segila itu, dan satu detail bisa mengubah nasib negara, maka wajar jika setiap keputusan wasit ikut membesar dan hidup lama di ingatan publik.
Piala Dunia bukan ruang laboratorium yang semua halnya bersih dan presisi. Ia adalah panggung paling emosional dalam sepak bola: tempat jutaan orang menonton, tempat satu negara menaruh harga dirinya, tempat satu gol bisa mengubah hidup pemain, dan tempat satu peluit bisa dikenang lebih lama daripada pertandingan itu sendiri. Karena itu, kontroversi bukan sesuatu yang asing di sana. Ia selalu ada, dari generasi ke generasi dari satu era ke era berikutnya.
@egga1412@Uppppphhhhh@tentarashiba@ainurohman Mau Negara manapun yang main di final, selagi main mereka bagus (jual beli serangan, gak ada yang main parkir bus) penonton pasti banyak
@egga1412@tentarashiba@ainurohman Emang tidak kalah seru, tapi kan ini bicara tentang settingan agar rating nya bagus. Soal perform itu masalah internal mereka, entah gaya bermain nya gak cocok atau ada masalah lain gue no komen, gue cuma mau ngebantah soal settingan agar rating nya bagus itu aja
@Am_Islach@adjiecation@ainurohman Mental Argen goyah?, Final Piala Dunia 2022 itu Argentina bisa sampe babak adu pinalti tuh dan jadi juara, padahal sebelumnya udah unggul 2-0 dari Prancis
@egga1412@tentarashiba@ainurohman Knapa gak bikin Argentina vs Portugal aja kalo cuma demi rating tv dan sponsor, kenapa gak India, China, Indonesia masukin ke Pildun biar ratingnya lebih tinggi
@aokipay12@whitecloudy21@tanyarlfes Manusia kalo hati nya udah dipenuhi iri dan dengki ya kek gitu jadinya, mau dikasih fakta seterang apa pun gak bakal dia terima