Komisaris PT Pertamina Retail , BUMN pengelola ribuan SPBU seluruh Indonesia:
Usia 27 tahun.
Latar belakang: Koordinator Nasional BISON, relawan pemenangan Prabowo-Gibran 2024.
Ketua YLBHI Muhammad Isnur di hadapan KPF, Februari 2026:
"Ada pengakuan massa bayaran yang dipimpin oleh BISON."
Ginka , Koordinator Nasional BISON ,mengakui memerintahkan penggalangan 70 massa untuk demonstrasi 28 Agustus 2025.
Bulan-bulan berikutnya: diangkat Komisaris Pertamina Retail.
Tidak ada rekam jejak industri energi.
Tidak ada pengalaman korporasi.
Tidak ada penjelasan publik dari Pertamina soal kriteria pengangkatan ini.
Kalau ini bukan politik balas budi, tolong tunjukkan kriterianya ,supaya kita semua bisa daftar juga.
🙂
Bukan cuma mahasiswanya.
Rektornya ikut berdiri di depan dan sambil baca :
"Kami menolak MBG dan Koperasi Merah Putih yang secara terang-terangan memangkas dana pendidikan dan kesehatan."
Rektor Unsoed.
Universitas negeri.
Pejabat yang ditunjuk pemerintah.
Kalau yang biasanya diam karena takut kehilangan jabatan pun sudah angkat suara ,
Kira-kira sudah separah apa kondisinya di lapangan?
🚨 NTT MENOLAK GELAP🚨
Jika aksi sebesar ini terjadi di pusat, mungkin sudah memenuhi timeline dan layar televisi.
Hari ini suara itu datang dari Nusa Tenggara Timur.
Jangan biarkan tenggelam hanya karena jauh dari pusat media.
MAKE THEIR VOICES HEARD✊
Terlahir sebagai anak haram konstitusi, dan sekarang bermain curang di depan mata publik. Sungguh najis, hina, rendah serendah-rendahnya sebagai manusia.
Kelakuan terbaru termul, mereka menuduh presiden Prabowo adlh orang kuat dibelakang Roy Suryo.
Apakah kader @Gerindra akan diam aja?
@bang_dasco@fadlizon@habiburokhman@Dahnilanzar
Apakah pendukung Prabowo akan diam aja?
Kalo diam artinya mereka takut sama termul.🤭😂
Ciee yg dukung mbg hari ini di Monas dapet uang saku, penggorengan sama buah.
Skrg tau kan kita di persulit cari kerja dan pendidikan bukan prioritas pemerintah biar gampang di jadiin boneka rezim☺️👍
Saudara-saudara sekalian, mari kita dudukkan perkara ini dengan jernih BBC Indonesia. Penahanan mantan Menpora Roy Suryo dan @DokterTifa oleh penyidik Polda Metro Jaya terkait pusaran kasus tudingan ijazah palsu Presiden ke-7 RI Joko Widodo ini bukan sekadar babak baru hukum pidana BBC Indonesia. Ini adalah panggung teatrikal siber yang memperontonkan betapa elastisnya prosedur hukum jika menyentuh wilayah kekuasaan.
Tiga keanehan mendasar dalam eksekusi penahanan ini:
1. Kooperatif Tapi Digerebek Subuh
Hukum acara kita (KUHAP) mengenal "upaya paksa" jika tersangka mangkir atau tidak kooperatif. Faktanya: Kedua tersangka selama ini sangat kooperatif dan rutin melakukan wajib lapor. Keanehannya: Mengapa untuk administrasi Tahap II (pelimpahan ke Kejaksaan), polisi melancarkan operasi penangkapan subuh-subuh bak menangkap gembong teroris? Mengapa mekanisme pemanggilan secara patut sengaja ditinggalkan?
2. Siasat "Pasal Karet" agar Bisa Mengunci Badan
Ini pola usang yang terus berulang dan menggelitik akal sehat. Faktanya: Duduk perkara utama adalah pencemaran nama baik konvensional yang ancamannya di bawah 5 tahun—artinya secara hukum tidak boleh ditahan. Keanehannya: Agar bisa melegitimasi penahanan, diselipkanlah Pasal 35 Jo. Pasal 51 ayat (1) UU ITE tentang manipulasi dokumen elektronik dengan ancaman 12 tahun.
Konstruksi hukum sengaja "diperas" sedemikian rupa agar syarat objektif penahanan terpenuhi. Ini seperti menembak burung pipit menggunakan meriam.
3. Sidang Akhir Doktoral UI dari Balik Ruang Tahanan
Bagian dr. Tifa adalah yang paling surealis sekaligus ironis bagi dunia pendidikan kita. Faktanya: Saat ditangkap, dr. Tifa bersiap menuju kampus Universitas Indonesia (UI) untuk ujian akhir program doktoral kedokterannya BBC Indonesia. Keanehannya: Ia terpaksa mengikuti sidang S3 secara daring dari dalam ruangan Polda Metro Jaya BBC Indonesia. Di mana urgensi penangkapan mendadak itu sampai tidak bisa menunggu beberapa jam hingga ujian akademisnya selesai?
Ketika hukum pidana tidak lagi berjalan murni di atas rel etika, melainkan disetir oleh syahwat politik, maka prosedur hukum akan terasa dipaksakan dan penuh kepura-puraan.
Training Manajer Koperasi Desa Merah Putih buat ngurus minimarket
Yang gak diajarin:
- Manajemen stok dan inventaris ❌
- Pengelolaan uang tunai ❌
- Pertanggungjawaban keuangan ❌
- Penerimaan barang dan hubungan dengan supplier❌
- Pencegahan kehilangan barang❌
- Penataan produk di rak❌
- Penjadwalan staf dan manajemen tim❌
- Standar pelayanan pelanggan❌
- Keamanan dan kebersihan produk❌
- Pembacaan laporan penjualan dan data dasar❌
- Regulasi penjualan dan barang❌
- Perizinan usaha❌
Yang diajarin:
- Kicau mania ✅
- Huu haaa ✅
- Teroreroteroret ✅
Mental Pecundang:
Yang berkuasa, mereka.
Yang membuat kebijakan, mereka.
Yang melaksanakan, mereka.
Yang korup, anggota mereka.
Ketika semua berantakan, yang disalahkan: asing, aseng, oseng, Yaman, Soros, Singapura, mahasiswa, UGM, UI, Anies Baswedan, PDIP, rotasi bumi, arah mata angin, kutub utara, kutub selatan.
Pokoknya semua salah, kecuali mereka.
Source : thread heri subakti