If you said "the concept of hajj is so capitalistic", you were actually criticizing the act of worship itself and not the whole systemic process and pricing of hajj imposed by the government (linguistically speaking).
Salah satu alasan kenapa Argentina harus kalah.
Terlalu banyak orang rasis dan si paling kulit putih di sana.
Mana sekarang societynya pro-Israel lagi.
Tengoklah Speed pas laga Argentina vs Cape Verde. Dirasisin dan diejek-ejek sebagai monyet.
Sorry ya. Sepak bola ga bisa dipisahkan dari politik.
Baik politik maupun sepak bola itu kegiatan manusia. Selalulah ada ekspresi politik dalam sepak bola.
Dan manusia ya itu makhluk yang berpolitik, senantiasa punya kepentingan.
Entah demi melindungi harkat-martabatnya atau ya buat menindas orang.
Ketika wanita merasa dirinya pihak yang harus diyakinkan, bukan pihak yang juga perlu menunjukkan ketertarikan
Karena hubungan yang sehat itu dibangun oleh dua orang yang saling mendekat, bukan satu orang yang terus diuji oleh orang yang bahkan belum membuktikan hal yang sama.
Ini sungguh proyek yang TIDAK DIBUTUHKAN warga DKI.
Lahan Publik seluas 2.4 Ha. Di daerah pusat kota. Apa coba yg dibuat? Fasiltas MICE, yg sdh sangat saturated!
Ini kalau jadi kombinasi rusun dan rumah flat bisa jadi 2000 unit ukuran 60 m2 dgn tinggi bangunan 6-8 lt,
Pemicu utama kekecewaan org² (inc dr luar salafi) bukan di frasa "ustadz rezim", tp visual yg ditampilin Fuad. Dr bergamis sampe niat buat zabiba. Implikasinya bisa melebar ke mana²
Berdekade Muslim hadapi sekuritisasi efek operasi GWOT, yg katanya pelaku dakwah malah reproduksi
Ga sreg sama timing penyampaian yg misplaced di social context yg sensitif, + sembari diam sama policy failure. Tp parody response dr Fuadh Naim yg berbasis sentimen sektarian itu keterlaluan & ga elegan. Ga mikirin implikasinya gimana. Pake rumus Islamophobes, dah kyk Bill Maher
Gue gak masalah sama transparansi. Yang gue tolak adalah konsep hubungan di mana satu orang harus terus membuktikan dirinya gak bersalah, sementara yang satu lagi bebas memelihara kecurigaannya
Karena orang yang gak bisa percaya akan selalu menemukan alasan untuk curiga, bahkan saat tidak ada apa-apa yang ditemukan.
1/
Kasus Chromebook bukan sekadar perkara laptop.
Ini adalah cerita tentang bagaimana pendidikan nasional bisa diseret oleh arogansi kekuasaan, konflik kepentingan, tata kelola yang rusak, dan kultus teknologi.
Saya menyaksikan sebagian proses itu dari dekat.
Utas Lanjutan.....
26/
15 September 2021, ICW merilis kajian tentang pengadaan perangkat TIK untuk digitalisasi pendidikan.
ICW menyoal besarnya anggaran, urgensi, potensi masalah tata kelola, dan risiko dalam proyek tersebut.
Sekali lagi: alarm sudah berbunyi.
https://t.co/i6ipKxczy3
Mungkin anda semua mudah lupa, tapi saya ingatkan lagi: Kerusakan pendidikan yang diakibatkan program merdeka belajar jauh lebih besar dampaknya dari sekedar korupsi Chromebook.
Tapi melalui Korupsi Chromebook, kita mendapatkan panorama bagaimana jaringan ini bekerja, bagaimana yayasan (yang pernah terlarang disebutkan namanya) ini membagi peran dalam platform, kurikulum, dan menjadikan guru sebagai garda terdepan agen siar kebijakan merdeka belajar.
Eksploitasi guru yang dilakukan era Nadiem, diseleksi, dikumpulkan, dilatih di Jakarta untuk membela kebijakan pendidikan yang memenuhi Tiktok dan instagram telah menghancurkan watak guru sehingga profesi guru berada pada titik terendahnya: melanggar etika, menjadikan kelas sebagai ruang konten publik, anak sebagai figura dan meninggalkan tugas utama mereka untuk mengajar.
Kejahatan ini jauh lebih berbahaya, karena mengadu domba guru, membuat kasta baru GKK, dan memisahkan; sehingga guru-guru yang jelas akan kehilangan sertifikasi guru sebab pasal-pasal tunjangan guru hilang, secara paradoks mendukung orang yang akan menghapusnya. Ini adalah bentuk alienasi paling sempurna yang dialami profesi guru.
Aktor-jaringan ini, tidak punya kendala moral untuk kembali menggunakan guru sebagai pion pembela mereka dan mengeksploitasi guru menjadi penambang data anak. Jika anda pikir itu hanya persoalan guru, saya perlu membawa berita buruk: para guru ini adalah guru yang mungkin akan mengajar anak-anak anda semua, yang sampai hari ini anak-anak kita mengalami masalah literasi dan numerasi dasar yang sangat parah dan sulit diobati.
Jika seandainya dosa tersebut bisa dikonversi menjadi pidana, tuntutan jaksa untuk korupsi Chromebook hanyalah bagian kecil dari buku hitam merdeka belajar.
Jika anda berfikir mengungkap kembali kerusakan pendidikan oleh Nadiem Makarim adalah hal yang harus dibedakan dari kasus Korupsi Chromebook, anda salah besar, sebab korupsi Chromebook bagian dari besarnya kerusakan pendidikan era Merdeka Belajar, yang mungkin tidak bisa semuanya diadili dalam peradilan kita.
Sorry but men are partly to blame for this.
Men are actively keeping the gynocentric world alive by letting nagging bitches ruin their family and lives.
Slogan "kecil dimarahi ibu, besar dimarahi istri" itu hanya akan menghasilkan nagging bitch kayak gini👇
sepertinya sepele, tp sengaruh itu loh penggunaan kata dlm birokrasi 😂
bu susi tau banget ini, dulu pas jd menteri pernah melarang penggunaan "kata-kata bersayap".
dg konsep susinisasinya yg to the point, beliaw bisa menghemat 200 miliar hanya dari efisiensi kata-kata 😱😄 👍
Semua argumen mas ini hanya didasarkan sakit hati dan solidaritas pada tech bros. Menurutnya inovasi pendidikan eksponensial gegabah itu nomor satu. Gaji guru nomor 1.5 kalau ga mau disebut menomorduakan.
Menurut gw cara pikir kayak gini akan bikin pendidikan gak maju2 sampai kapanpun.
After Nadiem dan antech2nya apakah pendidikan kita jadi lebih maju? Nggak. Skor PISA makin jeblok iya. Ketika di-confront jawabannya faktor covid.
Orang yang diwawancarai adalah guru. Bukan influencer it's self. Dia layak dapat panggung daripada kebanyakan kita, yang bukan guru.
Justru orang tech idealnya tanya ke mereka, sebagai techian, apa yang paling dibutuhkan untuk boost pendidikan kita, untuk siswa, untuk guru. Bukan malah merasa harus paling layak didengar pendapatnya dan para stakeholder seperti kerbau dicucuk hidungnya suruh nurut kalian. Kebalik. Kalian dengerin lalu upayakan bikin solusi. Ini dunia mereka, techian yang bantu.
Techian kan ada emang untuk membantu domain expertise bidang lain sehingga bisa memberikan value yang bisa dinilai paling efektif dan efisien. Para senior/dosen bidang tech juga sering bilang gini. Makanya soft skill 'MENDENGARKAN' ini jadi penting. Bukan mau menang sendiri, orang suruh ikut maunya elu tanpa dengerin kebutuhan paling fundamental stakeholder.
Kalau ini Gojek or Bukalapak which is swasta, go ahead. Nyari founding sendiri, stakeholder juga lebih kecil. Ini negara bos. Pake APBN yang dari duit pajak gue, elu dan semua pembayar pajak.