Kenapa pemimpin negara boleh lansia, tapi kerja corporate 30an dianggap ngga produktif?
Dan kenapa ngelamar kerja harus pake SKCK? sedangkan banyak pejabat negara aja mantan napi
Guys, ada momen di podcast Curhat Bang Denny Sumargo yang menurut gue paling menggetarkan dan paling menyentuh yang pernah gue dengar dari siapapun yang keluarganya terjerat kasus hukum.
Franka Makarim
istri Nadiem bicara untuk pertama kalinya
di depan kamera.
Dan cara dia bicara menurut gue jauh lebih keras dari tuntutan 27 tahun yang dilempar ke suaminya.
Satu fakta yang perlu diingat dulu sebelum membaca ini:
Nadiem Makarim adalah lulusan Harvard.
CEO startup termuda yang pernah masuk daftar paling berpengaruh di Asia Tenggara.
Meninggalkan semua itu untuk jadi menteri.
Dan berdasarkan catatan pajak pribadinya hartanya tidak bertambah selama menjabat.
Justru berkurang.
PPATK sudah memeriksa.
Tidak ada aliran dana ke Nadiem dari siapapun.
Dari vendor, dari Google, dari PT manapun. Nol.
Tapi dia masih ditahan 8 bulan.
Dituntut 27 tahun. Dengan uang pengganti Rp5,6 triliun yang diambil dari nilai IPO Gojek di SPT pajak bukan dari uang yang pernah dia terima.
Dan di tengah semua itu Franka pasang badan:
Franka bukan tipe orang yang sering muncul di publik.
Selama hampir satu tahun dia diam.
Menjaga empat anak.
Hadir di setiap sidang.
Menemani dari kejauhan.
Dan ketika dia akhirnya bicara yang pertama dia katakan bukan pembelaan.
Tapi pertanyaan:
"Jadi kejahatan suami saya apa?"
Yang paling miris momen anak-anak yang tidak mengerti:
Franka cerita soal putrinya yang berumur lima tahun.
Satu hari setelah jam kunjungan habis
anaknya berdiri di pojok lobi, menangis, dan bertanya:
"Kenapa Siera enggak bisa nginep di sini sama Dada?
Emang Dada enggak punya tempat tidur di situ?"
Dia tidak mengerti kenapa ayahnya
harus tinggal di sana.
Dia pikir ayahnya hanya menginap saja.
Dan Franka tidak bisa menjelaskan kenapa.
Karena memang tidak ada penjelasan yang masuk akal untuk anak usia lima tahun soal mengapa seorang ayah ditahan untuk sesuatu yang tidak pernah bisa dibuktikan.
Yang paling mengena dari seluruh obrolan ini:
Franka ditanya:
seberapa jujur Nadiem di matanya
dalam skala 1 sampai 10?
Jawabannya: 10.
Tidak ada bohong satu pun.
Dan dia kasih bukti yang sangat konkret:
Nadiem selama 20 tahun
hanya punya satu nomor HP.
Tidak pernah ganti.
Tidak ada yang perlu disembunyikan.
"Siapapun bisa lihat.
Anak buahnya bisa buka.
Istrinya bisa buka.
Everybody can access that."
Fakta persidangan yang perlu diketahui publik:
Pertama — grup WA yang disebut berulang kali sebelum penangkapan sebagai bukti perencanaan korupsi? Tidak pernah masuk ke dakwaan.
Tidak ada.
Kedua — Nadiem hanya hadir satu kali rapat sebelum pengadaan.
Dan yang dia bilang hanya: "
Teruskan." Dia tidak menandatangani persetujuan pembelian apapun.
Ketiga — 800 miliar yang dituduhkan masuk ke Nadiem?
Di persidangan dibuktikan itu adalah transaksi internal antar PT di dalam GOTO untuk persiapan IPO masuk dan keluar di hari yang sama.
Bank statement dari Citibank menunjukkan nol aliran ke individu manapun.
Keempat — harga Chromebook yang dituduh kemahalan?
Vendor, reseller, dan distributor semua bersaksi bahwa harga yang dinilai wajar oleh BPKP dalam audit adalah harga yang akan membuat mereka rugi kalau dijual di angka itu.
Artinya harga pengadaan sebenarnya sudah kompetitif.
Kelima — petinggi Google dari seluruh dunia bersaksi secara online selama 11 jam.
Sukarela.
Membantah seluruh tuduhan kongkalikong yang ada di dakwaan.
Yang paling tidak adil dari seluruh proses ini:
Jaksa menghadirkan 55 saksi dengan 7 ahli selama 3,5 bulan.
Tim Nadiem baru mulai pembelaan satu minggu lalu proses tiba-tiba mau dihentikan dan langsung masuk tuntutan.
Franka bertanya dengan sangat tenang tapi sangat keras:
"Apakah sebagai orang yang dituduhkan, yang hidupnya diambil dan ditangkap sebelum terbukti — kok tidak mendapatkan kesempatan yang sama?"
Ada orang yang meninggalkan posisi luar biasa di sektor swasta untuk melayani negara.
Hartanya berkurang selama menjabat.
Tidak ada satu sen pun aliran dana yang bisa dibuktikan masuk ke rekeningnya. Saksi-saksi di persidangan membantah tuduhan satu per satu.
Perusahaan teknologi global dari seluruh dunia rela bersaksi 11 jam untuk meluruskan faktanya.
Tapi dia masih dituntut 27 tahun.
Dan istrinya sekarang harus menjawab pertanyaan anak berumur lima tahun:
kenapa Dada tidak bisa pulang?
Kalau sistem hukum kita tidak bisa menjawab pertanyaan itu dengan jawaban yang jujur maka yang sedang kita saksikan bukan penegakan hukum.
Itu adalah sesuatu yang jauh lebih berbahaya dari korupsi yang dituduhkan.
Kalian pamit undur diri sebulan saja indonesia bisa save anggaran sampai 30 Triliun dan bisa untuk dialihkan kehal hal yang jauh lebih berguna
Artinya Tanpa kalian justru indonesia baik baik saja
Aduhh .. duhh .. duhh😂
Pake segala cari postingan lama.
Ngak perlu. Nih, biar saya perjelas ya.
*2012: saya pilih Jokowi di Pilkada Jakarta
*2014 & 2019 : saya coblos Jokowi
Saya tidak akan pernah memungkiri bahwa saat itu saya melihat nilai baik tentang KERAKYATAN & KESEDERHANAAN pada diri Jokowi. Catat: saat itu, Jokowi adalah kita. Perwujudan kita rakyat kecil.
Saat Jokowi membangun jalan tol, saya bersorak karena harapan saya akan kehidupan rakyat kecil terutama petani, pedagang & usaha kecil lainnya dpt lebih berkembang karena jalan penghubung antar daerah sudah tersedia.
Saat Jokowi membangun saluran air bersih saya sangat happy krn mimpi akan ‘memanusiakan manusia’ mulai terwujud. Rakyat di desa terpencil tak lagi minum air sumur yg letaknya berdekatan dengan septic tank!
Begitu pula dengan bendungan. Airport. Dan lainnya.
Namun,
Masuk di pertengahan periode ke 2. Saya menangkap hal yang berbeda. Nilai akan keberpihakan pada rakyat kecil & kesederhanaan mulai luntur. Saya bukan pemilih yang membabi buta tegak lurus, menghamba sampai tak lagi punya daya pikir logis dalam menilai!
*Saat issue 3 periode memarak, saya menulis di X bahwa saya tidak akan pernah setuju!
*Saat Jokowi memaksakan kehendak agar anaknya maju dengan cara apapun, masa saya diam.
*Saat Jokowi meng-amini cacatnya Konstitusi yg dirubah demi Gibran, ya masa saya malah senyum senyum …
*Begitu pula saat Jokowi bungkam dengan gaya hidup anak2 & keluarganya yang JAUH dari kata sederhana. Ini mencederai semangat awal para pemilih.
Dan masih banyak hal lain yg pada akhirnya membongkar semua apa & siapa Jokowi serta keluarga selama ini.
So,
Salah ya bro. Bukan pendukung awal yang ‘pergi’ .. kami2 ini setia pada nilai kerakyatan.
But anyway,
Saya yakin orang macam anda2 ini ya TIDAK AKAN PERNAH MAMPU menangkap esensi dari apa yg saya tulis😁
Oh iya, satu lagi:
*Komisaris?
Kejauhaann boss-qu😂😂😂😂 buat kau aja disana, yang dekat
*BuzzerRp?
Bukan ngak suka uang (who doesn’t?😊)
Tapi lebih pada takut di sambit mbak kasir di toko, karena bayar pake mata uang lain😁
Nih, saya mention @jokowi nya ya.
Bukti bahwa kami bukan para loser!
.
.
.
Demikian.
Akhhh … senangnya di challenge 😎 🌹
Tampaknya logika Bea Cukai ini, semua orang dianggap penyelundup.
1) Hape black market merajalela, solusinya bukan nangkepin penyelundup hape black market, tapi semua orang disuruh daftar IMEI.
2) Jastip ilegal merajalela, solusinya bukan legalisir jastip dan pungut pajak atau biaya impor ke pelaku impor, tapi batasin barang bawaan semua orang.
3) Barang pribadi orang yang dibawa ke luar negeri mesti didaftarin dulu biar gak dianggap barang selundupan waktu pulang. Itu pun gak dipikirin gimana prosedurnya yang mudah.
Buat saya itu semua adalah collective punishment: menghukum orang yang tidak bersalah.
Aku alumni SMA muhammadiyah, Kartu Pelajarku itu aku bawa ke RS, gratis pengobatan dan rawat inap di RS Muhammadiyah.
Sekolah? Kalau dibandingkan sekolah swasta lain dengan kualitas segitu, Muhammadiyah itu swasta paling murah.
S1 di PTN sepeserpun aku ga keluar uang, warga Muhammadiyah yang bayarin. Ga Ridho sama statement kaya gini.
kenaikan harga beras udah ngalahin kenaikannya pas krisis. harga tertinggi dalam sejarah
ini udah ada pejabat yang ngomong sebabnya apa dan solusinya gak?
apa udah bodoamat karena pemilu udah lewat dan udah gak butuh suara rakyat lagi? basic don't know shame!
Saya pilih pendidikan gratis, mereka pilih makan gratis
Saya pilih miskinkan koruptor,
Mereka pilih naikan gaji pejabat.
Saya pilih yg bisa bicara
Mereka pilih yg bisa joget
Saya pilih yg cerdas
Mereka pilih yg gemoy.
Level kita beda
Ini saran gw ke fans 02 yg gak punya kepentingan atau insentif apapun
Kalau pilihan lo udah yakin jd presiden ya udah, gak usah dibela mati2an
Sekarang saatnya kawal dan kritisi kebijakannya, krn suara lo yg buat dia jdi Presiden
lo lgi milih presiden, bukan mertua
Bangga telah ambil bagian memperjuangkan nilai nilai etika dalam berdemokrasi
Kalah menang suatu hal yg biasa dalam kehidupan perjuangan
Manusia di nilai dari akhlak, etika adab budi pekerti dalam hidupnya
Kokoh berdiri
Anies kasih nilai 11 dr 100 dan Ganjar kasih nilai 5 dr 10 disampaikan dalam menilai kinerja. Disampaikan dgn kata2 sederhana.
Tidak ada kata2
"enak ya bawa catatan."
"Ngambek ya sama saya karena ada dua pertanyaan sulit?"
Apalagi ada "gerakan" mencari2 jawaban..
Beda itu..
Saya sepenuhnya tidak setuju.
Sebagai orang Jawa, saya mengerti mana kritis & mana "kemlinthi".
Saya kira Gibran itu sosok yang sopan (seperti ekspektasi saya). Sejak malam ini, dengan pola yang ia ulang berkali-kali, ternyata saya salah memberi ekspektasi.
Cringe!
Apa kata Cak Imin dengan Prof Mahfud itu benar, semestinya debat ini adalah tempat gagasan seorang calon pemimpin keluar.
Bukan di sana tempat untuk gimik. Sebab seabrek urusan rakyat bukan bahan candaan, apalagi untuk bahan tertawaan.