Bagaimana mau melibatkan orang lain lebih jauh, sedang meregulasi reaksi tubuh pada hal tertentu saja masih gagal.
Biarkan sembuh dulu ya, meski prosesnya lama setidaknya nggak ada kamu yang berujung kecewa nantinya.
Jalan sunyi itu, bisa jadi sengaja dipilih untuk pulih
Sudah tahu polanya, tapi di coba lagi.
Dan endingnya sama juga kan, sesuai duga. Kalau nggak keras kepala bukan aku kan, kalau nggak dicoba nggak tahu hasilnya.
Sesuatu yang sudah kamu tutup, dibuka kembali. Tanpa peringatan membenarkan validasinya sendiri, menurut sudut pandang dan kacamatanya sendiri. Tanpa pernah sekalipun bertanya kepada sang empunya raga "kenapa?"
Harta (uang) vs Pendidikan (buku).
Uang (harta) hampir bisa menyelesaikan semua persoalan (kehidupan), tapi buku (pendidikan) mampu membuka pikiran dan ide-ide baru dalam penyelesaian masalah (kehidupan).
Pada akhirnya kita takkan mencari tahu hal apa pun, untuk sesuatu yang berujung akan menyakiti diri sendiri.
Terlepas dari apa pun, selalu sugesti diri bahwa buah pikir orang lain bukan kendali kita
“Seorang anak tumbuh dari apa yang ia lihat di rumahnya; sebagaimana pohon, ia tumbuh dari akar yang menumbuhkannya.”
Lingkungan pertama seorang anak bukanlah sekolah, melainkan rumah. Apa yang ia lihat setiap hari—kebiasaan, ucapan, buku, dan lain sebagainya, bahkan suasana—itulah yang diam-diam membentuk cara berpikir dan jiwanya.
Aku tidak berhenti karena seseorang berhenti percaya pada impianku. Aku tidak mundur karena seseorang mundur dari hidupku karena keras kepalaku pada impian itu. Aku memilih terus berjuang untuk hari-hari yang aku dambakan. Jika bukan dengannya, aku akan meraih impian itu dengan seseorang yang mengerti bagiku hal yang aku perjuangkan adalah segalanya.