Seekor anjing pomeranian di sebuah pet cafe bernama Dogs Ministry di Penjaringan, Jakarta Utara dilecehkan oleh seorang pelanggan. Pelaku adalah seorang pria berinisial OWL (22) yang melecehkan anjing pomeranian bernama Sissy pada Senin (1/6).
Manager Operasional Dogs Ministry, Yuliana Monica Petronela menjelaskan, peristiwa tersebut terjadi di area kafe Dogs Ministry. Pelaku berada di area tersebut setelah tak lama dari area lounge. Kata Monica, ketika pelaku di area kafe, ia bermain secara intens dengan anjing Sissy hingga memeluknya.
Peristiwa tersebut memicu perhatian dari para pegawai di Dogs Cafe. Hingga seketika, pelaku pun didapati mengeluarkan bagian kemaluannya. Ia pun merasa tak habis pikir atas kejadian tersebut karena dilakukan pelaku di tengah keramaian. Pada hari itu, Dogs Ministry sedang ramai pengunjung.
Setelah itu, Monica pun membawa pelaku ke Polsek Penjaringan. Ketika dibawa, pelaku tidak membantah maupun melakukan perlawanan. Saat ini kasus tersebut tengah diselidiki oleh polisi.
📸: Dok. kumparan/Ryan Iqbal.
Baca selengkapnya dengan klik link di bio. Cari tahu berita update lainnya dengan download aplikasi kumparan di App Store atau Google Play.
📝: newsupdate | update | news | videonews | R116 | E037 | V157
#bicarafaktalewatberita #kumparan
@adanginyah Ada, pertama karna strict parent yg apa apa ga boleh ini ga boleh itu, khawatir anaknya keluar, ga diarahin untuk kerja, karna emg dari awal mungkin kaya dan punya harta jd ortunya mikir ngapain anaknya kerja, pas situasi ekonomi kurang baik inilah yg terjadi
Mending apus deh kak, enak banget ngomong gini pakai framing “sudah menjadi bagian dari rezim”
Jangan ngawur ngasih framingan jelek gini, ngapain juga dikasih beban ekpektasi gitu, dia secara pribadi gak ada tanggungan setiap ada aksi harus reaksi personal.
Apalagi suaminya baru berpulang kemarin. Stop lah.
Narasi juga ngeberitain kok kayak biasanya, aneh banget jadi nyambungin ke INMF.
@CNNIndonesia Mereka selalu berteriak “Kritiklah yang sopan!”. Tapi ketika ada tokoh yang capable di bidangnya, mengkritik dengan bahasa dan body language yang mereka harapkan, alih-alih diapresiasi, malah diludahi.
Saya dapat info bhw ada 17 calon Dubes asing yg sudah tiba di Jakarta tapi sampai sekarang masih MENUNGGU waktu utk memberikan surat kepercayaan kpd Presiden. Dari mereka ada yg sudah menunggu 8 bulan. Ada juga Dubes dari negara ASEAN yg menunggu 6 bulan. Karenanya, mereka belum bisa bekerja secara resmi.
Ini memberikan kesan buruk bagi negara2 sahabat yg mengirim Duta Besarnya ke 🇮🇩, apalagi Dubes 🇮🇩 di luar negeri selalu dgn cepat menyerahkan surat kepercayaan kpd host country. Tanpa menyalahkan siapapun, Mohon masalah ini dapat segera dituntaskan Istana krn menyangkut reputasi diplomatik kita.
Saat masih kuliah di UGM, saya mendengar kabar seorang diplomat muda Indonesia di London berani tampil di BBC World Debate, berhadapan dgn diplomat senior Ramos Horta, di saat atmosfer internasional sedang menyudutkan Indonesia. Diplomat muda Indonesia itu tampil gemilang menjaga nama Indonesia tegak berwibawa. Di situlah pertama kali saya mendengar namanya: @dinopattidjalal.
Beberapa tahun kemudian, saat sedang menempuh progam PhD di Illinois, kami berjumpa langsung. Dino datang ke Chicago menjelaskan keadaan mahasiswa dan diaspora Indonesia pasca-9/11. Yg kami temui adalah diplomat muda yg cerdas, artikulatif, dan mampu menangani persoalan rumit dgn ketenangan diplomatik yg sulit ditiru.
Tahun 2012, sebagai Dubes di AS, Dino menggagas Kongres Diaspora Indonesia pertama di Los Angeles, mempertemukan diaspora dari seluruh dunia. Saya termasuk yg ia undang. Ia lalu mendirikan FPCI, komunitas kebijakan luar negeri terbesar dan berpengaruh, yg ikut melahirkan generasi diplomat baru, ujung tombak kita di panggung global.
Menguasai substansi, rekam jejaknya teruji, dan pengalaman memimpinnya luas. Itulah Dino. Karier diplomatiknya panjang dan ajeg, kecintaannya pada politik luar negeri Indonesia begitu dalam. Dino Patti Djalal, bukan karbitan jadi diplomat, bukan pula karbitan jadi pejabat.
Pemerintah Jerman lewat Kedubesnya di Indonesia nawarin solusi yang justru relevan banget buat negara tropis kayak kita:
“Solar Ice Maker”
Mesin pembuat es tenaga surya.
Ini jadi contoh kalau transisi energi tuh bukan cuma soal seminar, baliho hijau, atau pidato penuh buzzword.