Manusia bermental budaklah yg melanggengkan pemimpin dzolim
Yg bermental budak itu adalah :
1. Suka diberi sembako cuma² ala kadarnya
2. Suka serangan fajar
Maka tetaplah bodoh dan miskin manusia bermental budak sengsara nya ga ilang² penguasa dzolim tertawa terbahak bahak
"Think twice before you speak, because your words and influence will plant the seed of either success or failure in the mind of another."
— Napoleon Hill
"Suatu saat, di kelak kemudian hari, kekayaan yang ada di segelintir orang akan pelan-pelan menetes ke bawah"
Yang disebut Prabowo itu, dikenal sebagai trickle-down effect: salah satu ilusi ekonomi terbesar dalam sejarah kapitalisme modern.
Secara sederhana, ini adalah keyakinan bahwa kalau kelompok kaya dibiarkan makin kaya, diberi ruang akumulasi lebih besar, diberi insentif, atau dilindungi kepentingannya, maka pada akhirnya kekayaan itu akan “menetes” ke masyarakat bawah lewat investasi, lapangan kerja, dan pertumbuhan ekonomi.
Masalahnya, sejarah membuktikan bahwa teori ini sangat jauh dari kenyataan. kekayaan tidak otomatis menetes, yang terjadi justru kekayaan justru mengendap, berputar di lingkaran yang sama, lalu berubah menjadi kekuasaan politik.
Bahkan IMF sendiri pernah menunjukkan bahwa ketika porsi pendapatan kelompok terkaya naik, pertumbuhan malah justru cenderung melemah, sama halnya yang terjadi di Indonesia.
Pendeknya, trickle-down economics adalah dongeng paling sukses yang pernah dijual elite kepada rakyat miskin.
Dan dia adalah bagian dari elite yang menjual dongeng itu.
Indonesia kini resmi punya "celengan" raksasa milik negara: Danantara.
Tetangga kita pernah punya mimpi yang sama persis. Namanya 1MDB.
Mimpi itu berubah jadi perampokan uang negara terbesar dalam sejarah.
Dan dalangnya bukan presiden, bukan menteri.
Tapi pemuda 31 tahun tanpa satu pun jabatan.
Ia berpesta dengan para bintang Hollywood di Las Vegas. Bahkan membiayai film “Wolf of Wall Street” yang dibintangi Leonardo Dicaprio.
A thread 🧵 by Narasi Visual
Imam Al-Ghazali menulis kitab ini menjelang usia 50 tahun, beberapa saat sebelum wafat. Ini bukan buku teori.
Ini catatan jujur seorang manusia yang pernah menjadi profesor hukum di Baghdad dengan tiga ratus murid, lalu merasa hampa di puncak kejayaannya. Kitab ini adalah pengakuan yang tidak banyak ulama berani menulisnya.
.
Pergolakan rohani ini menyebabkan Imam Al-Ghazali sakit hingga tidak mampu mengajar, walau secara fisik tubuhnya kelihatan sehat.
Ia mempertanyakan segalanya dari awal: apakah indera bisa dipercaya, apakah akal cukup untuk menemukan kebenaran. Bagi Imam Al-Ghazali, kebenaran yang belum diuji sampai ke akarnya bukanlah kebenaran, melainkan warisan yang diterima begitu saja.
.
Imam Al-Ghazali menceburkan diri ke dalam ilmu kalam, filsafat, dan berbagai aliran pemikiran, bukan untuk membenarkan keyakinannya, tapi untuk mengujinya.
Ia bahkan menyatakan bahwa membantah suatu ilmu tanpa memahaminya terlebih dahulu sama seperti menembak dalam kegelapan. Ia masuk ke dalam setiap aliran sampai ke dasarnya, baru kemudian menilai.
.
Setelah melalui semua itu, Imam Al-Ghazali menemukan bahwa inti tasawuf bukan pada teorinya, melainkan pada pengamalannya. Substansi tasawuf terletak pada pengalaman dan rasa, bukan sekadar wacana.
Inilah yang mengubahnya. Bukan argumen baru. Bukan kitab baru. Tapi keberanian untuk hidup sesuai dengan apa yang sudah ia ketahui.
.
Kitab Bebas dari Kesesatan bukan bacaan untuk orang yang ingin merasa nyaman dengan keyakinannya. Ini bacaan untuk siapa saja yang pernah bertanya: apakah selama ini aku benar-benar tahu, atau hanya merasa tahu?
Kalau pertanyaan itu pernah mengganggumu, buku ini ditulis untukmu.
⏪️ أمرأة اعتنقت الاسلام حديثا تعيش في مدينة نيويورك 🇺🇸 ، تشارك الأسباب التي جعلها تحب الإسلام. وتتمسك به .. تقول :
▪︎ أحد الأسباب الرئيسية التي تجعلني متمسكة بالإسلام وأخطط للاستمرار عليه طوال حياتي -إن شاء الله- هو إيمانه بـ المسؤولية الذاتية والمساءلة في هذا العالم.
▪︎ الإسلام لا يمنحك "بطاقة خروج مجانية من السجن" أو مبرراً لتتصرف كما تشاء، ولا يعتمد على فكرة أن شخصاً ما قد مات نيابةً عن ذنوبك لكي تعيش بلا مبالاة وتكتفي بالاستغفار في اللحظات الأخيرة قبل الموت.
▪︎ في الإسلام، بمجرد أن تعرف الحقيقة وتدرك كيف يجب أن تتصرف، يتعين عليك الالتزام بذلك، وإلا فستتحمل عواقب أفعالك وتُحاسب عليها.
▪︎ المسؤولية في الإسلام لا تقتصر على تجنب الكبائر (مثل القتل)، بل تعني أن لكل شخص في حياتك حقاً عليك؛ والديك، عائلتك، صاحب العمل، جيرانك، والمجتمع والقوانين التي تعيش في ظلها.
▪︎ حتى نفسك وجسدك لهما حقوق عليك؛ من حيث كيفية اعتنائك بصحتك، ممارستك للرياضة، تجنب الكسل، تنظيم نومك، ونظافتك الشخصية.
▪︎ الإسلام نظام مهيكل للغاية ليجعل منك إنساناً أخلاقياً وصالحاً، وهناك الكثير من الكتب المستمدة من القرآن والسنة التي تفصل هذا الأمر.
▪︎ ما أحبه في الإسلام هو وجود مسؤولية ومحاسبة يومية تدفعك لتكون أفضل نسخة من نفسك، ليس بطريقة أنانية أو بدافع التنافس مع الآخرين، بل من خلال الالتزام بمعايير المعاملة الحسنة للجميع وتقديم ذلك على "الأنا" أو الغرور.
▪︎ لقد كنت مسيحية لسنوات طويلة، ورغم معرفتي بجذور المسيحية العميقة (التي أرى أنها تعرضت للتحريف مع الوقت)، لم أعد أؤمن بتلك المفاهيم، ولم أكن مرتاحة أبداً لكيفية استخدام بعض الناس لفكرة الغفران كبطاقة مجانية للتصرف بلا مبالاة في الحياة الدنيا.
▪︎ أرى أن الإسلام يمثل طريقة عادلة ونقية للعيش؛ فهو يجعلك تدرك أنك تسعى بصدق لتكون شخصاً أفضل لنفسك، ولمجتمعك، وللناس من حولك.
▪︎ أشعر بامتنان شديد لأن الله هداني إلى الإسلام، وأنا مطمئنة لفكرة أن كل ما يحدث في هذا العالم سنُحاسب ونُسأل عنه يوم القيامة. الحمد لله.