Gaji 3 juta
Pengeluaran 7 juta
Tapi kita masih hidup
Artinya kita bukan orang sembarangan
Selamat pagi... Orang-orang tercatat desil 10 tapi kenyataannya desil 1
😂🫢
@aabu_kayla Sekedar pengetahuan untuk yang komen babibu serang Presiden..
Kedudukan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dan Presiden dalam sistem pemerintahan Indonesia adalah sejajar (setara) dan sebagai mitra kerja. Dari sini gak perlu dijelaskan yak.. catat: Ketua DPR Puan Maharani
Sering kali dalam hidup, kita mengira bahwa semakin banyak yang kita miliki, semakin bahagia pula hidup kita. Padahal, kopi terasa nikmat karena secangkir, bukan segalon; mi ayam terasa lezat karena semangkuk, bukan sebaskom; dan pelangi pun begitu indah karena muncul sebentar, bukan seharian penuh.
Ternyata, segala sesuatu di dunia ini terasa jauh lebih baik ketika kita belajar untuk menikmatinya secukupnya, bukan semaunya!
Nikmat dan karunia apa yg paling kamu syukuri saat kamu menikmatinya dalam takaran yg pas hari ini? Tulis di kolom komentar, dan mari kita rayakan hidup ini dengan rasa syukur yg mendalam! ✨
🙏🙏 Momen langka bikin terharu, ketika seorang bapak pemulung mengetuk pintu kaca toko mengaku menemukan uang Rp5 ribu beserta sebuah struk di depan toko dan memilih menyerahkannya kepada kasir.
Kisah sederhana ini menjadi pengingat bahwa kejujuran tidak ditentukan oleh kondisi ekonomi seseorang.
Nilai sebuah kejujuran justru terlihat ketika seseorang memilih melakukan hal yang benar meski memiliki kesempatan untuk mengambil keuntungan.
Al-An’am — Ketika Allah Mengajak Kita Melihat Dunia dengan Hati
Al-An’am adalah surat keenam dalam Al-Qur’an.
165 ayat.
Namanya berarti “hewan ternak.”
Sekilas mungkin terdengar seperti tema yang sederhana.
Tetapi sebenarnya surat ini mengajak kita melihat sesuatu yang jauh lebih besar:
Siapa yang menciptakan semua yang kita miliki?
Kepada siapa hati kita seharusnya bergantung?
Dan untuk apa semua kehidupan ini diberikan?
---
Allah mengajak kita melihat ke sekeliling.
Langit.
Bumi.
Gelap dan terang.
Malam dan siang.
Hujan.
Tumbuhan.
Hewan.
Manusia.
Semuanya berbicara.
Bukan dengan suara,
tetapi dengan keberadaannya.
Seolah alam berkata:
“Lihatlah…
kamu tidak hidup secara kebetulan.”
Ada Yang menciptakan.
Ada Yang mengatur.
Ada Yang memberi kehidupan.
---
Tetapi manusia sering lupa.
Ketika mendapatkan nikmat,
kita sibuk menikmati pemberian,
tetapi lupa kepada Pemberi.
Kita mengejar rezeki,
tetapi lupa kepada Ar-Razzaq.
Kita takut kehilangan pekerjaan,
tetapi lupa siapa yang selama ini membuka pintu rezeki.
Kita takut kehilangan seseorang,
tetapi lupa bahwa semua yang kita cintai
sebenarnya adalah titipan.
Al-An’am mengajarkan:
Jangan sampai kita mencintai pemberian
lebih besar daripada mencintai Pemberinya.
---
Kemudian Allah membongkar sesuatu yang sangat manusiawi:
Kita sering mencari sandaran selain Allah.
Bukan selalu dalam bentuk menyembah berhala.
Kadang berhala itu berbentuk:
uang,
jabatan,
popularitas,
pasangan,
kekuasaan,
atau bahkan penilaian manusia.
Kita berkata:
“Kalau dia tetap bersamaku, aku akan baik-baik saja.”
Padahal manusia bisa pergi.
Kita berkata:
“Kalau uangku cukup, aku akan tenang.”
Padahal uang bisa habis.
Kita berkata:
“Kalau semua orang menyukaiku, aku akan bahagia.”
Padahal manusia mudah berubah.
Allah ingin hati kita belajar:
bergantung kepada Yang Tidak Pernah Berubah.
---
Lalu Allah menghadirkan kisah Ibrahim.
Ibrahim mencari kebenaran di tengah masyarakat
yang menyembah sesuatu selain Allah.
Ia melihat bintang.
Bulan.
Matahari.
Dan akhirnya menyadari:
Semua itu terbit dan tenggelam.
Semua itu berubah.
Maka sesuatu yang berubah
tidak pantas menjadi tempat bergantung
sepenuhnya.
Ibrahim menemukan:
“Aku hadapkan wajahku kepada Dia
yang menciptakan langit dan bumi.”
Ada perjalanan hati di sini.
Dari melihat ciptaan,
menuju mengenal Pencipta.
---
Bukankah kita juga sering begitu?
Kita mengejar sesuatu
karena mengira itulah sumber kebahagiaan.
Lalu setelah mendapatkannya,
ternyata hati masih kosong.
Kita mendapatkan pekerjaan impian.
Tetapi kecemasan tetap ada.
Mendapat pasangan.
Tetapi rasa takut tetap ada.
Mendapat uang.
Tetapi ketenangan belum tentu datang.
Karena mungkin masalahnya bukan
apa yang kita miliki.
Masalahnya adalah kepada siapa hati kita bergantung.
---
Kemudian Allah mengingatkan tentang rezeki.
Jangan membunuh anak karena takut miskin.
Mengapa?
Karena rasa takut terhadap masa depan
bisa membuat manusia melakukan sesuatu
yang sangat kejam.
Allah berkata:
“Kami memberi rezeki kepada kamu dan kepada mereka.”
Seolah Allah sedang menenangkan:
“Jangan takut pada masa depan
sampai kamu mengorbankan yang Allah amanahkan hari ini.”
---
Lalu Allah berbicara tentang kehidupan yang bersih.
Tentang makanan.
Tentang halal dan haram.
Tentang apa yang boleh kita nikmati.
Karena Islam tidak mengajarkan
bahwa dunia adalah sesuatu yang harus dibenci.
Kita boleh menikmati kehidupan.
Makan.
Bekerja.
Memiliki harta.
Mencintai keluarga.
Menikmati keindahan.
Tetapi jangan sampai kenikmatan
menguasai hati.
Nikmatilah dunia dengan tangan,
tetapi jangan letakkan dunia di dalam hati.
---
نحن بشر فقط، وأحيانا يكون تغيير أنفسنا أمرًا صعبا للغاية، ناهيك عن محاولة تغيير الآخرين.
"Kita cuma manusia biasa, merubah diri sendiri saja terkadang kewalahan, apalagi mencoba merubah orang lain."
Jangan sampai kenikmatan membuat kita lupa kepada Tuhan.
Hidup mengajarkan bahwa seseorang bisa menemukan Tuhan ketika berada dalam kesulitan, tetapi justru kehilangan arah saat berada dalam kemewahan.
Jadikan nikmat sebagai jalan untuk bersyukur, bukan alasan untuk terlena.
Semakin ingin menjadi baik,
kadang semakin banyak ujian yang datang.
Bukan karena Allah tak sayang,
tapi mungkin Allah sedang menguatkanmu
agar hatimu semakin dekat kepada-Nya.
Tetaplah baik. Tetaplah sabar.
Sebab setiap air mata dalam perjuanganmu,
Allah tahu.
@fucekket Setan = hutan dikencingi "kurang ajar tak tahu etika buang hajat dirumah orang"
Setan = hutan dialih fungsi jadi sawit "jatah sesajen lancar" 😂
Ustadz Adi Hidayat Pernah bilang :
Di dunia ini manusia yang paling harus kamu kasihani adalah dirimu sendiri, Surga belum jelas Amal masih kurang, Ibadah sering lalai, Omongan kadang gak dijaga, Suka banget nunda sholat dan akrab dengan rasa malas.