Lionel Messi tentang menyamai rekor gol terbanyak dalam sejarah Piala Dunia milik Miroslav Klose:
"Sejujurnya, merupakan sebuah kehormatan bisa berada dalam daftar itu. Namun pada akhirnya, itu tetap hanya sebuah statistik. Hanya sebuah statistik."
"Saya mengulanginya karena terlihat seperti sesuatu yang indah melihat nama Anda ada di sana, tetapi pada akhirnya itu hanyalah angka yang tidak banyak berarti."
"Saya bahagia dengan semua yang telah saya capai. Sejujurnya, semua yang saya jalani sekarang terasa seperti sebuah hadiah."
"Puji Tuhan, saya telah meraih segalanya, baik secara individu maupun kolektif. Sekarang saya sedang menjalani fase yang berbeda dan menikmatinya."
"Dan jika semuanya berjalan seperti ini, dengan hasil-hasil dan pertandingan-pertandingan seperti sekarang, tentu itu jauh lebih baik... Saya hanya menikmati setiap momen."
๐ via @TouchlineX
Podcast ini IELTSnya mungkin di bawah 6.0 tapi saling mengerti dan diskusinya enak. Ini tuh gambaran kenyataan penggunaan bahasa inggris sehari-hari. Jadi kalau ada yang grammar nazi di kehidupan sehari-hari. Getok aja. Hahaha
Sekitar dua tahun setelah lulus SMA, saya pernah nganggur berat, cari kerjaan susah betul. Tiap pekan sudah rutin beli koran KR sabtu khusus buat cari lowongan kerja, tetep ga dapet-dapet. Susah tembus. Sekalinya dapet ternyata kena tipu (Daftar jadi admin tapi tesnya disuruh jual tuxedo).
Ga enak sama orang tua, akhirnya saya ngekos di daerah Jalan Godean. Cari indekos yang paling murah. Sengaja ngekos biar nggak tinggal di rumah.
Saya terpaksa bohong sama orang tua, bilang kalau saya sudah kerja, padahal belum. Sekadar buat ngayem-ayemi bapak dan ibu.
Selama ngekos, ongkos hidup ditanggung dari hasil nge-dropship jualan kaos online yang hasilnya tidak tentu. Kadang sehari dapat pembeli satu, kadang nggak dapat sama sekali.
Nggak punya laptop, jualan full dari browsing di warnet deket kos, sengaja pilih happy hour pukul 01.00 sampai subuh biar murah.
Hidup harus ngirit setengah mati, sehari cuma makan dua bungkus nasi kucing dan dua potong tempe goreng, beli dari angkringan. Hidup benar-benar penuh dengan kepayahan.
Satu-satunya hiburan cuma nonton tayangan Upin-Ipin di tivi portabel hitam putih yang dulu saya bawa buat hiburan di kos.
Nangis? Tentu saja sering. Kelewat sering. Air mataku api.
Dan karena pengalaman itu, saya tak pernah berani ngecengin pengangguran, sebab saya tak tahu, ikhtiar apa saja yang sudah mereka lakukan agar tidak nganggur.
@Qu3en_Bakery Naik gaji wkwk, tawaran naik jabatan ditolak demi hidup yang lebih plong toh gk dpt jabatan gaji tetap naikk walau gk segede yg punya jabatan tapi gpp dehh udah lebih dari cukup wkwk
Breaking news:
IHSG jebol hari ini kayanya gara2 ini deh guys
Moody's Ratings memberikan peringkat kredit perdana Baa2 kepada Danantara Investment Management (DIM) dengan outlook negatif, sejalan dengan peringkat kredit Pemerintah Indonesia (Baa2/Negative).
Peringkat tersebut didukung oleh hubungan yang sangat kuat antara DIM dan pemerintah, mengingat DIM merupakan bagian dari struktur BPI Danantara, dimiliki 100% oleh BPI Danantara, serta adanya ekspektasi dukungan luar biasa dari pemerintah apabila diperlukan.
Moody's menilai DIM sebagai entitas terkait pemerintah (Government-Related Issuer/GRI) dan belum memiliki kekuatan kredit mandiri yang signifikan karena masih berada pada tahap awal pengembangan dan belum memiliki rekam jejak operasional yang panjang. Oleh karena itu, peringkatnya lebih ditentukan oleh keterkaitannya dengan pemerintah.
Dari sisi likuiditas, DIM dinilai sangat kuat dengan dukungan suntikan modal Rp70 triliun pada 2025 dan tambahan Rp50 triliun yang direncanakan pada 2026, serta akses pendanaan melalui obligasi Patriot Bonds senilai Rp68,4 triliun dan fasilitas kredit bergulir (revolving credit facility) sebesar US$10 miliar.
Outlook negatif diberikan karena mengikuti outlook negatif peringkat utang Pemerintah Indonesia. Jika peringkat kredit Indonesia diturunkan, maka peringkat DIM berpotensi ikut turun. Sebaliknya, kenaikan peringkat DIM sangat bergantung pada kenaikan peringkat kredit Indonesia di masa depan.
*Sumber: Bloomberg* KISI