the last time me & @anyarompas saw bang saut situmorang, at his hotel the afternoon before he left for china. with the two things he loves the most in this world, poetry and meat pie.
cepetan balik bang, nanti aku bikinin south african steak and pepper pie. udah diajarin rustum!
abang juga harus balikin backpack jae bang, dia mau pake buat camping bulan depan. cepetan balik ya, please.
im too fucking distraught to write this post. buat yg ingin bantu abang tolong baca foto ke-2 dan selanjutnya dari dea anugrah.
π Baru aja kemarin Keigo Sensei meninggal, skrg dunia buku harus kehilangan lagi ππ
R.I.P. Benjamin Alire SΓ‘enz π, penulis Aristotle and Dante Discover the Secrets of the Universe ππ»
Gw mau ngomel agak panjang. Monggo dibaca.
Dalam supply-demand, ketika supply naik, harga jadi turun.
Hal yang sama terjadi pada IPK tinggi dan cum laude.
Kalau semua orang cum laude, maka cum laude berhenti jadi istimewa.
Ketika terlalu banyak lulusan berpredikat cum laude, nilai IPK sebagai sinyal kualitas jadi turun "marwah"-nya.
Gw pernah liat wisuda suatu kampus, rektornya dengan bangga mengumumkan rata-rata IPK adalah 3,65.
Peserta sidang wisuda tepuk tangan.
Gw bingung karena implikasinya jadi ada beberapa kemungkinan:
1. >50% mahasiswanya pintar sekali
2. Kurikulumnya super mudah
3. Dosen2nya mengamalkan hadits "Barangsiapa memudahkan urusan orang lain yang sedang kesulitan, Allah akan memudahkan urusannya di dunia dan akhirat" di dunia perkuliahan alias Dosen Bonus
Fenomena ini ga langka, malah cukup aman disebut "jamak", yaitu: Fenomena "false signalling"
Semua orang tampak unggul di transkrip, tapi memble saat uji kompetensi di dunia nyata.
Sama halnya di level wajib belajar 12 Tahun. Mulai jarang gw dengar cerita anak tidak naik kelas. Tapi justru makin sering terdengar berita anak SMA tidak bisa perkalian dasar.
Balik lagi ke soal IPK.
Kalau terlalu banyak orang cum laude, predikat itu berhenti jadi istimewa. Nilai IPK sebagai sebuah indikator sinyal : disiplin, kualitas kognitif, dan pencapaian akademik, jadi turun nilainya.
Market akhirnya mencari sinyal lain yang relevan: portofolio, sertifikasi, prestasi, pengalaman, atau balik lagi dari mana kampus asalnya.
Gw gatau bagaimana cara mengakhiri omelan ini, masih panjang sebenernya. Dan gw pun enggak tau solusinya mulai dari mana. Tapi gw cuma mau bilang:
"Ketika sistem pendidikan berhenti menjadi juri yang jujur, Market menghukum dengan berhenti percaya"
[Omelan ini terinspirasi setelah baca tulisan Guru Besar UGM Eduardus Tandelilin di bawah ini]
Chatib Basri (mantan Menkeu, sekarang Harvard Visiting Scholar) nulis di Kompas pagi ini soal rupiah Rp17.345:
intinya, jangan trauma 1998. fondasi sekarang beda.
3 poin yang penting:
1. CDS Indonesia naik tipis β investor belum kabur. beda dengan 1998 yang krisis kepercayaan total.
2. inflasi terkendali. pelemahan rupiah tidak otomatis berarti krisis perbankan. instrumen kebijakan sudah jauh lebih lengkap (BI rate, intervensi, stabilizer fiskal).
3. risiko terbesar bukan kurs β tapi disiplin anggaran. kalau defisit terjaga dan komunikasi transparan, capital outflow bisa ditekan.
bridge ke dev/freelancer:
β income USD naik sekitar 2.6% bulan ini (kalau charge USD)
β biaya hidup kemungkinan naik dalam 6β12 bulan (efek impor ke harga lokal)
β net effect-nya adalah, dev yang dibayar USD masih net positive, tapi tetap perlu waspada inflasi domestik
nyambung dengan poin minggu lalu, yaitu punya 1 income stream USD itu hedge yang nyata, bukan teori.
source: artikel lengkap di Kompas, 4 Mei 2026 (opini halaman 7)
Adik-adik, kakak-kakak semuanya. Kali ini gw mau bicara tentang sesuatu yang sudah menyiksa rakyat Indonesia selama bertahun-tahun. Bukan korupsi. Bukan inflasi. Tapi sesuatu yang lo rasain setiap kali mau mudik atau liburan dan buka aplikasi Traveloka, lalu langsung menutup aplikasinya lagi karena tidak sanggup melihat angkanya.
Yes. Tiket pesawat domestik Indonesia. Yang harganya bisa lebih mahal dari tiket ke luar negeri. Yang bikin relawan bencana harus muter lewat Malaysia dulu baru bisa ke Aceh. Yang udah dikeluhkan jutaan orang tapi tidak pernah beneran berubah.
Gw udah baca risetnya. Gw udah cek datanya. Dan sekarang gw mau cerita ke lo semua, pelan-pelan, dengan bahasa yang bisa dimengerti semua orang, kenapa ini terjadi dan siapa yang sebetulnya diuntungkan dari penderitaan kita bersama. π§΅
"Kearah Sastera Revolusioner" oleh Pramoedya Ananta Toer, diterbitkan di Koran Star Weekly edisi 22 Desember 1956.
Bagi Pram, sastra adalah perpanjangan cerminan politik, menjadi medium pergolakan yang juga ikut mendorong perubahan. Pengarang adalah insinyur jiwa bangsanya.
Dunia Kita β Mochtar Lubis
Format: EPUB
Total kata: 1.476 kata
Estimasi baca: 7 menit
Kategori: Ilmu Politik, Ilmu Sosial, Sejarah
Berdasarkan arsip dari: @dallaballer (https://t.co/bSB5ykhYvy)
Dapat dibaca dan diunduh gratis di: https://t.co/5kh2tVghmb
Guys, ada sesuatu yang sangat ironis yang terjadi dalam dua hari berturut-turut di Indonesia.
1 Mei β Hari Buruh.
Prabowo hadir di Monas.
Berdiri di panggung bersama puluhan ribu buruh. Bernyanyi.
Berpidato.
Mengumumkan cicilan KPR 40 tahun dan potongan ojol 8%. Kaos 200 ribu lembar dibagikan. Sangat meriah.
2 Mei β Hari Pendidikan Nasional.
Prabowo rapat tertutup di Hambalang.
Tidak ada seremoni khusus.
Tidak ada pidato untuk guru dan siswa.
Tidak ada satu pun agenda yang secara khusus merayakan atau memperingati Hardiknas.
Bukan kebetulan ini adalah pilihan.
Ketika seorang presiden memilih hadir secara dramatis di Hari Buruh dengan panggung besar dan ribuan orang tapi memilih rapat tertutup di rumah pribadi pada Hari Pendidikan Nasional itu bukan soal jadwal yang padat.
Itu adalah pernyataan tentang apa yang dianggap lebih penting secara politik.
Buruh hadir secara fisik dan bisa dimobilisasi.
Guru honorer yang gajinya Rp300 ribu per bulan tidak membawa massa ke Monas.
Anak-anak di sekolah rusak tidak bisa berteriak di depan istana.
Siswa disabilitas yang dibuang sistem tidak punya organisasi yang bisa mengancam stabilitas politik.
Makanya satu dirayakan dengan meriah.
Yang satu dilewati dengan rapat tertutup di Hambalang.
Dan ini bukan pertama kali Hambalang dijadikan tempat rapat kabinet:
8 Maret 2026 β lima rapat dalam satu hari di Hambalang. Membahas pendidikan, geopolitik Timur Tengah, mudik Lebaran.
2 Mei 2026 β rapat tertutup lagi di Hambalang. Membahas aspirasi buruh dan perguruan tinggi.
Pola ini konsisten.
Dan setiap kali hasil rapatnya dirilis isinya selalu berakhir dengan kalimat yang sama:
"Pemerintah terus berkomitmen untuk menghadirkan kebijakan yang melindungi, mencerdaskan, dan menyejahterakan seluruh lapisan masyarakat Indonesia."
Tanpa angka.
Tanpa target.
Tanpa timeline.
Tanpa akuntabilitas.
Sementara di luar Hambalang kondisi pendidikan Indonesia hari ini:
Guru honorer masih ada yang menerima gaji Rp150-300 ribu per bulan. Ratusan ribu ruang kelas kondisinya rusak sedang hingga berat. Anak disabilitas masih bisa dikeluarkan sekolah secara diam-diam dan tidak ada yang menindak.
Perguruan tinggi terbaik masih terkonsentrasi di Jawa. Angka putus kuliah karena faktor ekonomi masih sangat tinggi.
Dan pada Hari Pendidikan Nasional 2026 solusi yang ditawarkan adalah: manfaatkan fakultas teknik perguruan tinggi untuk membangun daerah.
Bukan ide buruk.
Tapi itu bukan jawaban atas masalah struktural yang sudah puluhan tahun tidak selesai.
Ki Hajar Dewantara pasti sangat sedih:
Hardiknas ditetapkan untuk mengenang beliau β yang percaya bahwa pendidikan adalah hak setiap anak Indonesia tanpa kecuali.
Yang berjuang agar anak-anak pribumi bisa mengakses pendidikan yang bermartabat.
Yang mendirikan Taman Siswa karena sistem yang ada tidak berpihak kepada rakyat kecil.
Dan di hari yang didedikasikan untuk mengenang perjuangannya presiden rapat tertutup di rumah pribadi.
Tanpa satu pun momen yang secara khusus menyapa guru, siswa, atau orang tua yang berjuang keras menyekolahkan anaknya.
"Ing ngarsa sung tulada."
Di depan memberi teladan.
Teladan seperti apa yang diberikan ketika Hari Buruh dirayakan dengan meriah tapi Hari Pendidikan Nasional dilewati tanpa pesan khusus untuk anak-anak Indonesia?
Indonesia merayakan Hari Buruh dengan kaos, panggung, dan janji-janji besar.
Dan keesokan harinya Hari Pendidikan Nasional dilewati dengan rapat tertutup di kediaman pribadi presiden yang hasilnya hanya satu paragraf rilis.
Bukan salah buruhnya.
Mereka memang harus diperjuangkan.
Tapi kalau energi, perhatian, dan kehadiran fisik presiden hanya muncul ketika ada massa yang bisa dimobilisasi dan tidak hadir ketika yang membutuhkan perhatian adalah guru honorer yang tidak punya serikat besar dan siswa yang tidak bisa berteriak di depan istana maka yang terjadi bukan keberpihakan.
Itu politik.
Dan politik yang mengorbankan pendidikan demi popularitas jangka pendek adalah utang yang akan dibayar oleh generasi berikutnya bukan oleh kita yang sekarang.
Apa konsekuensi dari hanya jerat penganiayaan?
1. Ancaman hukuman dari maksimal 15 th jd hanya 4 th.
2. Pembuktian unsur membunuh menjadi hanya melukai
3. Menurunkan tingkat keseriusan perbuatan termasuk perencanaannya
Intinya? Mau bilang ini kejahatan biasa aja
Payah