Ga perlu bercita-cita masuk kuliah di UNY jalur SM. Sebab kamu akan terjebak dgn Uang Pangkal dan UKT yg tinggi. Lebih baik duitnya jadiin modal merintis pekerjaan saja. Ga usah gengsi dgn kawan2mu yg kuliah tapi mencekik ortu dgn biaya perkuliahan yg makin mahal.
😘peluk cium
Melihat kasus Nadiem Makarik & Tom Lembong, gue cuma mau bilang:
Hati-hati buat siapa pun yang bantu MBG.
Rezim bisa ganti, narasi bisa dibalik, lalu kalian yg dikriminalisasi.
Dunia memang sementara, tapi rezim jauh lebih sementara.
Ada 2 tulisan saling terkait hari ini di @jakpost dan @hariankompas.
Jadi aku mau tanya, apa yang membuatmu masih percaya ahli, berita, atau institusi (ini govt dan non-govt ya)?
Atau faktor apa yang membuatmu mempercayai sebuah sumber (apapun itu)?
Seolah para ningrat itu hidup dengan harta yang jatuh dari langit. Sedangkan kuasa, harta dan istananya dari feodalisme; perasan keringat dan darah jelata disetiap jengkal sawah dan kebon tebu. Di masa perang mereka sembunyi mencawat ekor, di masa damai mereka mendaku semua kuasa dan melempar salah serapah ke muka kawula. Cangkeman.. 😠
@rasyidbaresiixx@PSSleman Ga usah sok paling tahu dan paling bener. Hari ini teman2 semua sedang fokus energi positif dan kerja keras utk kesuksesan acara. Event ini kolaborasi dg temen2 BCS. Yang kerja di lapangan itu mereka, artinya kamu menghina temanmu sendiri.
Alarm pengingat, Tragedi Kanjuruhan menjadi salah satu alasan kenapa kita harus menolak UU TNI dan RUU POLRI, 3 tahun silam Institusi ini terlibat dalam kekerasan, pembunuhan terhadap para suporter, akibatnya 135 suporter jadi korban meninggal.
#kanjuruhanbelumusai
📢#AliansiAutobaseIndonesia mengajak warga X untuk menolak UU TNI 📢 DROP HASTAG!
Sejarah membuktikan, masuknya Militer ke ranah sipil mengancam Supremasi Sipil & membunuh cita-cita reformasi, mewujudkan negara Indonesia yang demokratis
#TolakRevisiUUTNI#CabutUUTNI#TolakUUTNI
🚨 PANDUAN STORYTELLING UNTUK KONTEN #TolakRevisiUUTNI
Gusyy yg mau bikin atau nyebarin konten soal #PeringatanDarurat ttg apa yg terjadi di Indonesia saat ini ke TikTok dan Instagram, ini aku kasih panduan simplenya
Save&Share ya, harapannya biar ga bubble di Twitter aja
Tahukah kalian kalau Sjafrie Sjamsoeddin pernah cosplay sinterklas yang suka membagikan hadiah pada malam natal?
Gak percaya? Coba googling: Sjafrie Sjamsoeddin Santa Cruz.
Trading Halt dan Potensi Lengsernya Prabowo
18 Maret 2025 menjadi hari yang mungkin akan dicatat sebagai sejarah bagi banyak orang di Indonesia, khususnya pelaku saham. Pada pukul 11:19 WIB, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ambruk lebih dari 5%, turun 325,03 poin ke angka 6.146,91. Atas anjloknya harga saham, BEI harus menghentikan perdagangan sementara (trading halt), sesuatu yang terakhir kali terjadi saat pandemi COVID-19 melanda di Maret 2020.
Bayangkan, pasar saham yang biasanya ramai tiba-tiba “diam” karena semua panik. Namun, fenomena ini bukan hanya tentang saham atau uang di dompet para investor. Fenomena yang terjadi hari ini, berkaitan dengan cerita tentang hidup kita sehari-hari. Misalnya, harga beras yang naik, pekerjaan yang goyah, sampai harapan yang mulai pudar. Nah yang menjadi pertanyaan, “Apa yang sebenarnya terjadi di pasar saham?”.
Kalian bisa membayangkan kalau IHSG diibaratkan seperti termometer yang mengukur kesehatan ekonomi kita, dari akhir 2024 di angka 7.163, sekarang menjadi 6.146, turun lebih dari 11% dalam tiga bulan. Investor asing kabur membawa Rp 24 triliun, termasuk Rp 3,47 triliun sehari setelah Danantara diresmikan tanggal 24 Februari 2025. Trading halt diibaratkan sebagai tombol darurat yang ditekan oleh BEI, karena semua orang buru-buru menjual saham mereka.
Apa sih yang menyebabkan BEI menekan tombol darurat? Di dalam negeri, menurut saya terdapat tiga “biang kerok”: (1) Danantara, (2) pemotongan APBN, dan (3) RUU TNI. Sedangkan di luar negeri, tarif baru dari United State, perang Rusia-Ukraina, serta ekonomi US yang sedang sakit, membuat suasana tambah runyam. In my humble opinion, fenomena yang terjadi ini bukan hanya tentang angka, tetapi tentang kepercayaan yang ambruk.
-Sebuah Esai-
Dia mengaku kecolongan. Ia kemudian menggelar evaluasi bersama anggota organisasinya dan meminta maaf kepada sejumlah mahasiswa yang memprotes pertemuan tersebut.
Awalnya, Rafli menyatakan tidak berpikir bahwa bakti sosial itu bagian dari penggembosan gerakan mahasiswa.