Jangan biarkan aku jadi serupa Ahasvéros, cukup saja Si Binatang Jalang. Aku tak ingin mengembara lantas tenggelam dalam senyap, seorang. Sekarat tak berdaya.
ᅠ
ᅠᅠ
ᅠ
ᅠ
ᅠ
Kutuntun ragamu untuk melekatkan diri pada sepotong kain penghangat ini. Kira-kira mulai dari tangan kanan menuju tangan kiri.
"Hujannya udah terlanjur besar, lo kompres dulu aja sampai agak mendingan. Gue tungguin, kok."
@Timajat
ᅠᅠ
ᅠ
ᅠ
ᅠ
ᅠ
ᅠ
ᅠ
Seketika saja, @Timajat, dinding-dinding itu memiliki mata, dahan pintu juga, tirai-tirai menelanjangkan diri demi dapatkan sebuah pandang.
Seketika saja, Hawa, mereka tak ingin kalah dari kita yang memiliki mata dan memiliki kaki yang bermata.
Seketika saja.
ᅠ
ᅠ
ᅠ
ᅠᅠ
ᅠ
ᅠ
ᅠ
Botol itu beralih tuan, kuagihkan padamu hingga dapat kau cengram penuh.
"Sama ini— lo pake jaket gue." Perkataan ini nampak seperti bualan yang basi bahwa aku tak pernah takut dingin, aku hanya takut kau kedinginan.
ᅠᅠ
ᅠ
ᅠ
ᅠ
ᅠ
ᅠᅠ
ᅠ
ᅠ
ᅠ
"Udah bel, ya?"
"Maaf tadi gue nggak cek hp lagi, padahal janjiannya di gerbang."
Maaf, Laskar. Aku memang selalu tak tahu malu, barangkali hanya ini mampuku memperdaya sedikit dari cerdikmu. Beberapa kesempatan dan sandiwara yang kurancang hanya
ᅠᅠ
ᅠ
ᅠ
ᅠ
ᅠ
ᅠᅠ
ᅠ
ᅠ
ᅠ
Karena akal tak akan pernah berguna, otak hanya akan menjadi organ yang diperam kelumpuhan. Daya takluk ditangan romansa yang menggelora.
Lantas kau salahkan saja hatiku, Laskar, ia yang kuasai sepenuh tubuhku dan ia juga yang hanya mempersilakanmu.
ᅠ
ᅠ
ᅠ
ᅠ
ᅠ
ᅠ
ᅠ
jantung menggolakan bulir-bulir merah itu.
Bukan, ini bukan penyakit demam yang bisa mendatangkan mimpi paling acak, ini adalah ulah jantungku yang terus menerus diburu hingga berdegup lebih liar dari kuda yang dipacu. Tepat ketika kau menyentuh kulitku.
ᅠ
ᅠ
ᅠ