Menonton Tojima Wants to be a Kamen Rider yg tayang di Netflix ini ibarat masuk ke dalam wahana rumah kaca yg saling memantulkan ilusi.
Jika dilihat sepintas saja, anime ini menyajikan komedi absurd tentang benturan antara logika pahlawan bertopeng era nostalgia dengan realitas masyarakat modern yg sinis dan pragmatis. Kita disuguhi pemandangan kocak yg secara lancang menguliti kenaifan tokusatsu klasik.
Ada adegan-adegan komedi yg bikin kita nyengir tapi excited, misalnya ketika tojima melakukan pose "henshin" (transformasi) yg kelewat dramatis dan memakan waktu lama di tempat umum, lengkap dengan teriakan jurus andalannya.
Kalau di televisi era Showa, adegan itu akan langsung disusul oleh ledakan kembang api dan asap berwarna-warni di latar belakang disusul musuh yg terpental secara epik. Tapi karena ia "terdampar" di tata kota modern, yg terjadi malah keheningan canggung, disusul komedi slapstick yg menyadarkan kita bagaimana kalau itu terjadi pada realita sekarang.
Alih-alih terpukau, orang-orang yg berlalu-lalang, para pekerja kantoran yg kelelahan atau anak sekolah yg sibuk dengan hp, hanya menatapnya aneh, merekamnya via ponsel seolah ia cuma orang aneh yg cari sensasi viral, atau bahkan menegurnya dikira kenapa-napa. Logika heroisme yg absolut itu seketika rontok dan terlihat konyol saat dihadapkan pada rutinitas keseharian dan apatisme warga kota.
Kelucuan yg awkward ini sebenarnya adalah pintu masuk bagus untuk membedah anime ini via Remediasi nya Bolter dan Grusin. Remediasi pada dasarnya berbicara tentang bagaimana sebuah medium baru membajak, meniru, sekaligus mengkritik medium yg lama. Di sinilah letak tumpukan lapis realitas yg jenius dari tontonan tersebut.
Kita harus ingat, tokusatsu klasik itu lahir dari medium live-action, sangat mengandalkan tubuh fisik manusia asli, kostum dari karet, percikan kembang api sungguhan, dan set miniatur bangunan dari kardus. Namun, anime ini meremediasi logika live-action fisik tersebut ke dalam medium animasi 2D yg secara visual sebenarnya bebas melakukan keajaiban apa saja tanpa terikat hukum fisika.
Ironisnya, alih-alih membuat karakter terlihat lebih ajaib di dunia animasi, medium anime ini justru dipakai untuk mensimulasikan realita "modern yg boring", yg akhirnya secara gak langsung menolak hadirnya logika teatrikal tokusatsu.
Ini adalah sebuah ironi media yg berlapis-lapis: kita sedang menonton anime yg berpura-pura menjadi dunia nyata, demi menertawakan logika live-action masa lalu yg pada zaman dahulu kita anggap sebagai tontonan yg nyata dan serius, tapi di saat yg sama senang atas nostalgia bentuk baru tersebut.
Pengalaman menonton yg menabrakkan tiga lapis realitas ini (logika tokusatsu masa lalu, simulasi dunia modern yg sinis, dan medium anime yg membungkus keduanya secara artifisial) akhirnya membawa kita pada satu refleksi budaya yg cukup melankolis.
Ketika penonton modern tertawa terbahak-bahak melihat "kamen riders" kebingungan saat harus ganti kostum atau kaget excited saat dengar teriakan "yeee!" dari orang biasa yg mendadak berubah jadi "shockers", kita sebenarnya sedang menertawakan kepunahan idealisme kita sendiri.
Kehadiran karakter yg terjebak di perbatasan antara dunia nyata dan komedi anime itu perlahan mengupas alam bawah sadar kita bahwa heroisme yg hitam-putih, adil, dan bisa menyelesaikan masalah struktural yg rumit hanya dengan satu terjangan "Rider Kick" itu memang selamanya hanya bisa eksis di dalam kurungan tabung televisi cembung masa lalu. Ia tak bisa lagi ditarik masuk ke realitas sosial kita hari ini yg terlampau abu-abu, rumit, logis, dan sepenuhnya digerakkan oleh pemilik modal serta mesin-mesin kapitalisme.
Dulu pas awal punya anak, aku janji ke diri sendiri, untuk ngasih 5 privileged ini ke anakku.
1. Bapak yang sholat 5 waktu
Semakin tua semakin sadar, cara kita hidup biar lebih tenang & bahagia ya berpasrah terhadap hal2 yg kita ngga bisa kontrol & dihal2 itu, kita pasrahkan ke Gusti.
& Sholat 5 waktu menurutku, adalah cara menunjukan kepasrahan & keimanan kita ke Gusti. Sholat baik = Hidup baik. Dan kalo aku bisa menurunkan ini ke anakku, tentu hidup anakku akan baik. Separuh permasalahnnya di dunia beres.
2. Bapak yg sehat.
Aku banyak kehilangan momen penting bareng bapak, karna bapak yang sakit2an. Jadilah aku wajib sehat.
3. Pelukan & Ciuman
Di 2tahun pertama kehidupan anakku, aku banyak memberikan peluk & cium. Dan ternyata ini bener2 ngaruh ke anakku, anakku tumbuh jadi anak yang lebih percaya diri & eksploratif.
Salah satunya ya karna dia merasa dicintai & disayangi oleh orang tuanya. Salah satunya ya dengan perbanyak peluk & cium. Bahkan sudah jadi kebiasaan, diusia 2.5th ini, tiap pulang kerja anak langsung lari minta peluk & cium.
4. Finansial & Waktu
Hal yg terbaik yg bisa kita kasih ke anak adalah waktu. Tapi untuk bisa memberi waktu "dengan tenang" kita butuh finansial yg sehat.
Jadi dua hal ini menurutku tidak bisa dipisah. Waktu & uang sama2 pentingnya.
5. Udara bersih dari asap rokok.
Tidak perlu dijelaskan karna sudah cukup jelas.
Share dong privileged apa yg bapack2 sekalian pengen kasih ke anak di kolom replyβ¬οΈβ¬οΈβ¬οΈ
Klo sudah ga cocok dgn teman, akhiri saja. Berarti waktu bertemannya sudah selesai. Ga usah mempersulit diri.
Pertemanan itu usaha 2 arah. Plus buatku, transaksional. Bukan satu pihak sj yg berusaha keras bikin nyaman.
Gpp, di dunia ini ga ada yg abadi. Termasuk pertemanan.
MCU pernah jadi 'dark' banget dengan ngebunuh setengah dari cast dalam tiga menit.
Se 'gelap-gelap'-nya DCU, belum pernah bisa bikin satu bioskop terdiam kayak Infinity War.
GINI LHO BIKIN TONTONAN SUPERHERO @ Holiwut. 20 Eps yang menyenangkan! Gonna miss the characters, casts so much. Btw Ryu Seungryeong deserves all awards!
THE FULL FIGHT
Now that it concluded, here it is
Best of Luffy vs Kaido , all 3 parts, the more you watch the better it gets
No anime fight is touching this, greatest animation talents of this generation all gathered