Saya gak bisa percaya gitu aja dengan org yg gak pernh saya kenal wajahnya, apalagi karakternya, tibaยฒ menyebar narasi yg saya ga tau manipulatif atau gak.
"tp kamu juga kan gak tau gimana real life-nya #Kimseonho ? "
Setidaknya saya nonton 2d1n. 95 episode.
PIUTANG PLN KE PEMERINTAH NAIK 156%.
ARTINYA PEMERINTAH NUNGGAK BAYAR KE PLN SEHINGGA PLN TIDAK PUNYA DUIT.
TIDAK PUNYA DUIT SEHINGGA TIDAK BISA BEKI BATUBARA
TIDAK BISA BELI BATUBARA, SUPLAI LISTRIK BERKURANG.
SIAP2 MENYALA BERGILIR
BUKAN PEMADAMAN BERGILIR
Dari foto laporan keuangan PLN yang beredar, ada satu angka yang langsung mencolok begitu kamu lihat.
Piutang dari Pemerintah tercatat Rp 110,738 triliun di periode terbaru, naik drastis dari sebelumnya Rp 43,290 triliun. Kenaikannya lebih dari 156% dalam satu periode.
Bukan naik tipis. Ini lonjakan yang sangat besar dan perlu dijelaskan.
PLN adalah perusahaan negara yang menjual listrik ke rakyat dengan tarif yang tidak selalu mencerminkan biaya produksi sebenarnya.
Untuk pelanggan rumah tangga 450 VA dan 900 VA bersubsidi, PLN menjual listrik jauh di bawah harga pokok produksinya.
Selisihnya ditanggung pemerintah dalam bentuk subsidi dan kompensasi.
Tapi pemerintah tidak selalu bayar langsung.
PLN dulu bayar dulu ke produsen energi, ke kontraktor, ke supplier batu bara dan gas, lalu nagih ke pemerintah belakangan. Tagihan yang belum dibayar pemerintah ini yang dicatat sebagai "piutang dari pemerintah" di neraca PLN.
Sederhana:
PLN sudah keluar uang, tapi pemerintah belum bayar.
KENAPA ANGKANYA BISA MELEDAK SEGITU?
Ada beberapa faktor yang menjelaskan lonjakan ini.
pertama adalah program diskon listrik 50% Januari-Februari 2025. Pemerintah mengumumkan diskon tarif listrik untuk seluruh pelanggan di bawah 2.200 VA selama dua bulan. Biayanya ditanggung negara tapi dibayar PLN dulu. Total tagihannya saja sudah Rp 13,61 triliun hanya dari program dua bulan itu.
kedua adalah mekanisme pembayaran yang lambat. Selama ini pemerintah membayar kompensasi ke PLN per tiga bulan atau bahkan per enam bulan sekali. Artinya PLN harus talang dulu berbulan-bulan sebelum uangnya balik. Semakin lama jeda bayar, semakin besar piutang yang menumpuk.
ketiga adalah subsidi dan kompensasi yang terus membengkak. Pada 2025, realisasi subsidi dan kompensasi listrik sudah menyentuh lebih dari Rp 210 triliun. Sementara tarif dasar listrik tidak naik karena alasan politik. Selisih antara biaya produksi dan tarif yang dibayar rakyat inilah yang jadi beban yang terus menumpuk.
DARI MANA PEMERINTAH BAYARNYA?
Sumber pembayarannya ada di APBN, tepatnya dari pos Belanja Subsidi dan Kompensasi Energi. Pada 2024 saja, total subsidi dan kompensasi energi (BBM, gas, listrik, pupuk) mencapai Rp 434,3 triliun. Khusus listrik yang dikompensasi, salah satu contohnya adalah pelanggan 900 VA non-subsidi yang mendapat kompensasi Rp 400 per kWh, artinya dari harga seharusnya Rp 1.800 per kWh, mereka hanya bayar Rp 1.400 per kWh. Selisih Rp 400 itu ditanggung APBN, dan ada 50,6 juta pelanggan yang masuk kategori ini.
Masalahnya bukan soal ada atau tidak anggarannya.
Masalahnya adalah timing pencairannya.
Komisi XI DPR sempat melaporkan bahwa kompensasi kuartal I-2025 untuk PLN senilai Rp 27,6 triliun belum dibayarkan.
Bahkan ada tagihan 2024 yang dibebankan ke APBN 2025. Jadi tagihan lama belum lunas, tagihan baru sudah datang.
PLN yang punya piutang besar tapi belum cair ini berdampak ke kemampuan perusahaan membayar supplier dan produsen listrik swasta tepat waktu.
Kalau pembayaran ke IPP terlambat, ada risiko gangguan pasokan.
Dalam jangka panjang, ini juga mempengaruhi rating kredit PLN dan kemampuan pinjam untuk investasi infrastruktur.
Untuk kita sebagai pelanggan, selama tarif listrik tidak disesuaikan dengan harga pokok produksi, maka subsidi dan kompensasi akan terus menggelembung, piutang PLN ke pemerintah akan terus naik, dan beban APBN akan semakin berat.
Ada wacana perbaikan skema pembayaran menjadi bulanan agar piutang tidak menumpuk terlalu lama.
Tapi selama tidak ada reformasi tarif dan pembenahan kontrak IPP, akar masalahnya tetap ada.
Rakyat bayar murah.
PLN tombok dulu.
APBN yang bayar belakangan
Dan siklusnya terus berulang setiap tahun
APAKAH KEDEPANNYA BENERAN GELAP?
Honorer jalur titipan ini emang meresahkan sih. Mana kalau di Puskesmas kadang gak liat kebutuhan profesinya, pokoknya masuk aja dulu. Akhirnya over tenaga, jaspel makin berkurang dan terjadi penumpukan tenaga di profesi tertentu ๐
Mau naroh ini ada terjemahan bahasa Indonesianya. Kaget juga waktu Mukmin bawain stand up gimmick absen kayak gini, apakah karena memang terinspirasi di sini atau memang jenius aja kepikiran ngabsen.
Memang banyak yang konteksnya membingungkan untuk orang Indonesia tapi kayaknya kita bisa paham sih sedikit-sedikit.
Repost utk anak2 muda yg tanya apa maksud saya dgn "wisdom without fear". Intinya: menyuarakan kebenaran lebih nikmat dari mengejar kekuasaan. You should try it too. Boleh disebar.
Saat masih kuliah di UGM, saya mendengar kabar seorang diplomat muda Indonesia di London berani tampil di BBC World Debate, berhadapan dgn diplomat senior Ramos Horta, di saat atmosfer internasional sedang menyudutkan Indonesia. Diplomat muda Indonesia itu tampil gemilang menjaga nama Indonesia tegak berwibawa. Di situlah pertama kali saya mendengar namanya: @dinopattidjalal.
Beberapa tahun kemudian, saat sedang menempuh progam PhD di Illinois, kami berjumpa langsung. Dino datang ke Chicago menjelaskan keadaan mahasiswa dan diaspora Indonesia pasca-9/11. Yg kami temui adalah diplomat muda yg cerdas, artikulatif, dan mampu menangani persoalan rumit dgn ketenangan diplomatik yg sulit ditiru.
Tahun 2012, sebagai Dubes di AS, Dino menggagas Kongres Diaspora Indonesia pertama di Los Angeles, mempertemukan diaspora dari seluruh dunia. Saya termasuk yg ia undang. Ia lalu mendirikan FPCI, komunitas kebijakan luar negeri terbesar dan berpengaruh, yg ikut melahirkan generasi diplomat baru, ujung tombak kita di panggung global.
Menguasai substansi, rekam jejaknya teruji, dan pengalaman memimpinnya luas. Itulah Dino. Karier diplomatiknya panjang dan ajeg, kecintaannya pada politik luar negeri Indonesia begitu dalam. Dino Patti Djalal, bukan karbitan jadi diplomat, bukan pula karbitan jadi pejabat.
ini method gw untuk stay sane being adult so far:
1. Laa ilaha illallah wahdahu laa syariika lah, lahul mulku wa lahul hamdu, wa huwa 'alaa kulli syai-in qadiir.
2. La ilaaha illaa anta subhaanaka inni kuntu minazh zhaalimiin.
3. Rabbi innฤซ limฤ anzalta ilayya min khairin faqฤซr.
Hari wisuda ini istimewa. Besok hari-hari biasa. Namun, ujian yang sesungguhnya adalah di hari-hari biasa ke depan.
Itulah pesan yang kami sampaikan saat pulang ke UGM untuk melepas wisudawan sekaligus menyambut mereka bergabung ke Kagama.
@hasyimmah Bingung gw Klo ada yg blg p Anies pake politik identitas TPI suruh nunjukin dibagian mananya juga ga paham. Pdahal yg selalu provokasi dan nyerempet2 dgn narasi yang busuk juga siapa....tp pas kita lawan narasi itu, kitanya yg dituduh politik identitas.
Kayaknya, Presiden bersama kabinetnya perlu belajar dari pak RT ini bagaimana menjadi pemimpin yg cerdas dan kerja nyata utk masyarakatnya !
-------------
Malam Prabowo Donat
Guys, Rocky Gerung baru ngomong sesuatu soal Purbaya di depan ribuan mahasiswa ITB dan kalimatnya menurut gue paling telak dan paling jujur yang pernah diucapkan soal posisi Menteri Keuangan kita.
Bukan dari ekonom.
Bukan dari analis.
Dari filsuf.
Dan justru itu yang bikin kalimatnya paling menancap.
Kalimatnya sederhana.
Tapi sangat keras:
"Pak Purbaya itu dia cuma kasir.
Mana ada kasir menghasilkan growth."
Selesai. Tiga kalimat.
Tapi gue mau bedah ini lebih dalam karena ini jauh lebih penting dari yang kelihatan di permukaan.
Apa maksud Rocky dan kenapa ini sangat relevan:
Rocky tidak sedang menghina Purbaya sebagai manusia.
Dia sedang mengoreksi sesuatu yang fundamental soal bagaimana kita memahami ekonomi dan bagaimana pemerintah sedang menyesatkan rakyat dengan narasi yang salah.
Menteri Keuangan adalah penjaga kas negara.
Dia yang mengatur anggaran masuk dan keluar.
Dia yang memastikan utang tidak meledak.
Dia yang menjaga fiskal tetap sehat.
Tapi dia bukan yang menciptakan pertumbuhan. Pertumbuhan lahir dari kementerian teknis yang produktif perindustrian, perdagangan, kelautan, perikanan.
Pertumbuhan lahir dari pabrik yang berproduksi, dari nelayan yang bisa melaut, dari petani yang bisa menjual hasil panennya dengan harga yang adil.
Tapi yang terjadi sekarang adalah semua orang dari Prabowo sampai media membebankan ekspektasi pertumbuhan 6% kepada seorang kasir.
Dan ketika kasir tidak bisa menghasilkan pertumbuhan padahal memang bukan tugasnya untuk melakukan itu dia disalahkan.
Rakyat kecewa.
Presiden tidak puas.
Market tidak percaya.
Padahal pertanyaan yang sebenarnya harus diajukan adalah:
Di mana kementerian teknis yang seharusnya menghasilkan pertumbuhan itu?
Kementerian Perindustrian yang seharusnya menumbuhkan manufaktur tapi kontribusi manufaktur terhadap GDP kita turun dari 30% menjadi 18%.
Deindustrialisasi terjadi diam-diam selama bertahun-tahun.
Kementerian Perdagangan yang seharusnya membuka pasar tapi investor asing semakin ragu masuk karena kepastian hukum yang berubah-ubah.
Regulasi EV yang tiba-tiba mau dikenakan pajak setelah sebelumnya bebas pajak.
Komisi ojek online yang dipaksa turun ke 8% sehingga platform bleeding.
Kementerian Kelautan dan Perikanan yang potensinya luar biasa tapi realisasinya masih jauh dari optimal.
Itu yang seharusnya ditagih.
Bukan Purbaya yang memang tugasnya jaga kas bukan cetak pertumbuhan.
Dan ini yang paling miris:
Purbaya sudah berulang kali bilang "fundamental kita kuat, rupiah kita undervalued, kita sedang ekspansi."
Tapi dolar tetap ngacir ke Rp17.600.
IHSG tetap ambruk.
Market tidak percaya.
Rating agency downgrade outlook kita dari stable ke negatif.
Rocky bilang Purbaya "disiksa oleh keinginan rakyat untuk melihat pertumbuhan" dan itu sangat tepat. Orang yang salah jabatan dipaksa menanggung beban yang bukan tugasnya.
Dan ketika hasilnya tidak sesuai ekspektasi dia yang jadi kambing hitam dari masalah yang sebenarnya ada di tempat lain.
Dan sambungkan ini dengan apa yang Prabowo bilang hari yang sama:
"Kalau tidak beres, copot. Sederhana."
Pertanyaannya sangat sederhana:
Kalau Purbaya yang salah kenapa kementerian teknis yang tidak menghasilkan pertumbuhan tidak dicopot?
Kalau Purbaya yang tidak kompeten kenapa orang-orang di sektor riil yang seharusnya menggerakkan ekonomi tidak ditagih?
Atau jangan-jangan lebih mudah menyalahkan kasir daripada mengakui bahwa masalahnya ada di arsitektur kebijakan yang lebih besar?
Dan Rocky kasih satu poin lagi yang sangat penting:
"Tradisi berpikir di universitas begitu masuk dalam birokrasi berubah menjadi hierarki.
Tidak mungkin ada inovasi dari dalam birokrasi."
Ini menjelaskan segalanya.
Kenapa orang pintar yang masuk ke pemerintahan akhirnya diam.
Kenapa yang berani justru dihukum.
Kenapa Nadiem yang mencoba inovasi berakhir dengan tuntutan 27 tahun.
Kenapa yang pandai menunduk justru yang bertahan dan dipuji.
Birokrasi tidak mendesain dirinya untuk menghasilkan pertumbuhan.
Birokrasi mendesain dirinya untuk mempertahankan hierarki.
Dan selama itu yang terjadi pertumbuhan 6% hanya akan menjadi angka di slide presentasi bukan kenyataan yang dirasakan rakyat di dompet mereka.
Rocky Gerung benar.
Purbaya bukan masalahnya.
Purbaya adalah kasir yang dipaksa berperan sebagai mesin pertumbuhan sementara mesin pertumbuhan yang sesungguhnya tidak berjalan dengan benar.
Tapi yang lebih besar dari soal Purbaya adalah ini:
kita sedang hidup dalam sistem yang menghukum keberanian, memproteksi loyalitas,
dan membebankan ekspektasi kepada orang yang salah jabatan sementara yang seharusnya bertanggung jawab terlindungi oleh hierarki yang tidak bisa diganggu gugat.
Dan selama sistem itu tidak berubah mau ganti Purbaya dengan siapapun, mau klaim pertumbuhan berapa persen pun dolar akan tetap ngacir.
Market akan tetap tidak percaya.
Dan rakyat akan tetap merasakan hidupnya makin sempit.
Guys, Raditya Dika baru ngobrol panjang bareng cinta laura dan ada beberapa hal yang dia bilang yang menurut gue bukan cuma berlaku buat kreator tapi berlaku buat siapapun yang lagi membangun sesuatu.
Pelajaran 1: Konten yang paling personal adalah konten yang paling universal
Ini yang paling gue suka dari seluruh obrolan ini.
Radit bilang semakin dia menarik ke dalam semakin kontennya tentang dirinya sendiri, tentang keresahannya sendiri semakin banyak orang yang relate.
Waktu dia nulis soal jomblo jutaan orang bilang "gue juga." Waktu dia nulis soal anaknya tidak pernah mau dengerin bapaknya ribuan bapak-bapak langsung merasa diwakili.
"Semakin kita tarik ke dalam,
semakin banyak yang nikmatin.
Itu secret sauce-nya."
Banyak orang berpikir konten yang bagus itu harus luas, harus menjangkau semua orang, harus generik. Radit membuktikan kebalikannya:
justru yang spesifik dan jujur itulah yang menembus.
Pelajaran 2: What dan How dua komponen yang keduanya harus kuat
Radit menjelaskan kenapa ada konten yang viral sesaat tapi langsung dilupakan, dan ada konten yang bertahan bertahun-tahun.
Jawabannya: dua komponen.
What apa yang mau kamu ceritakan.
How cara kamu menceritakannya.
Kalau what-nya kuat tapi how-nya lemah
kontennya menarik tapi tidak enak dikonsumsi.
Kalau how-nya bagus tapi what-nya tidak relate ke banyak orang kontennya mulus tapi tidak meninggalkan bekas.
Keduanya harus bagus.
Dan what yang paling kuat adalah yang datang dari keresahan pribadi yang tulus bukan yang direkayasa supaya viral.
Pelajaran 3: Komedi bukan bakat,
tapi formula yang dipelajari
Banyak yang berpikir Radit lucu karena bakat lahir. Ternyata tidak.
Waktu kecil dia baca buku anekdot nenek lalu dia garis bawahi dengan pulpen merah setiap bagian yang bikin dia ketawa.
Dan dia tanya ke dirinya sendiri:
kenapa ini lucu?
Dari situ dia cari formulanya.
Dia pelajari strukturnya.
Dan baru setelah itu dia praktikkan
ke dirinya sendiri.
Pelajaran besarnya:
hampir semua skill kreatif bisa dipelajari kalau kamu mau menganalisa kenapa sesuatu bekerja bukan hanya menikmatinya.
Pelajaran 4: Internet menghilangkan gatekeeper manfaatkan itu
Radit bilang kalau tidak ada internet dia tidak akan ada di posisinya sekarang.
Dulu untuk bisa dibaca orang dia harus lewat penerbit, editor, kurasi, seleksi.
Sekarang dia tulis, langsung bisa dibaca siapapun di seluruh dunia.
Tapi ada konsekuensinya:
karena semua orang bisa publish,
banjir konten juga makin deras.
Yang membedakan bukan lagi akses
tapi kualitas what dan how tadi.
Pelajaran 5: Produk digital adalah mesin bisnis yang paling efisien
Radit iseng search "how to make one million dollars" dan menemukan satu prinsip yang mengubah cara dia berbisnis:
buat produk yang marginal cost-nya nol.
Artinya: produk yang biaya produksinya tidak naik ketika kamu jual ke satu orang versus seribu orang. Itu adalah produk digital.
Dari situ dia bangun website untuk jual kelas menulis dan digital download stand up comedy.
Biaya bikin kontennya sama tapi bisa dijual ke berapa pun orang tanpa tambahan biaya.
Dan dia pegang prinsip dari buku Super Fans:
kamu tidak butuh jutaan penggemar.
Kamu hanya butuh 1.000 super fans yang bersedia bayar.
Kalau 1.000 orang mau bayar Rp100.000 per bulan itu sudah Rp100 juta per bulan.
Pelajaran 6: Bikin dirimu tidak berguna di kantor
Ini paradoks yang menurut gue paling menarik.
Radit bilang tugasnya sekarang adalah membuat dirinya semakin tidak berguna di kantor.
Kalau dia masih harus ngecek editing secara detail โ berarti sistem belum jalan.
Kalau dia masih harus approve hal-hal kecil berarti pendelegasian belum beres.
Yang harus tetap ada di Radit hanya keputusan makro dan strategis karena itu datang dari kepalanya sendiri dan tidak bisa didelegasikan.
Prinsip ini bisa diterapkan di bisnis apapun:
tujuan akhir seorang founder adalah membangun sistem yang berjalan tanpa dirinya ada di setiap detail.
Pelajaran 7: Temukan pekerjaan yang terlihat seperti kerja tapi terasa seperti main
Radit mengutip Naval Ravikant:
Cari pekerjaan yang rasanya kayak main-main buat kamu, tapi orang lain ngelihatnya kayak kerja."
Radit suka nonton drakor?
Bikin paid newsletter yang mengkurasi drakor terbaik tiap bulan. Itu kerja tapi buat yang menjalankannya terasa seperti hobi.
Intinya: nilai ekonomi harus ditemukan dari hal yang kamu genuinely nikmati bukan dipaksakan dari hal yang kamu pikir akan menghasilkan uang.
Pelajaran 8: Kejujuran adalah fondasi tapi pilih mana yang siap diungkap
Radit mengaku nulis satu kalimat setiap malam sebelum tidur. Apapun yang berkesan dari hari itu.
Di akhir tahun dia tinggal pilih mana yang mau dijadikan materi.
Tapi tidak semua keresahan siap diungkap ke publik. Ada yang perlu waktu untuk berdamai dulu.
Ada yang terlalu traumatik untuk dibahas sekarang.
Prinsipnya: konten yang paling kuat adalah kejujuran yang sudah kamu damaikan dengan dirimu sendiri โ bukan kejujuran mentah yang belum selesai diproses.
Radit bukan sukses karena keberuntungan atau bakat semata. Dia sukses karena dia konsisten menganalisa apa yang bekerja,
berani jujur tentang dirinya sendiri, dan punya prinsip yang jelas soal apa yang mau dia bangun dan kenapa.
Dan yang paling penting: dia memilih untuk melakukan hal yang genuinely dia sukai dan uang mengikuti setelahnya. Bukan sebaliknya.