Kata abah, buat bangkit.
Bila ternyata ikhtiar kita ini, menemukan ujungnya yang tidak seperti kita inginkan. Yasudah kita kembalikan kepada Allah.
Pada masalah apapun yang kita hadapi, kita katakan kita punya Allah.
#yuksemangatlagi
Kehilangan orangtua itu bukan berarti kita harus ngelah ngeluh, ada waktunya didik diri kita jadi versi terbaik. Meski sulit, yang dipenting kan dicoba. Mau sampe kapan stagnan begitu?
Mobil Kijang itu memang sudah tua mah, tapi di situ tersimpan semua kenangan kita bareng-bareng. Semoga aku punya cukup uang untuk menggantikannya suatu hari nanti. Aamiin
Emang ya, Mah. .
Allah itu baik banget. Dia merubah kita perlahan-lahan, sabar dan penuh kasih. Dan Allah nggak pernah ninggalin kita sendirian. Di tengah kesulitan, selalu ada kemudahan yang datang. Dia berdiri di samping kita, menopang dan menguatkan setiap langkah kita. :)
Berusaha adil itu ternyata susah ya mah, apalagi pas beban jatuh ke pundak ku semua, berasa gak berdaya.
Tapi untungnya Allah masih kasih aku mamas dan seisinya.
Namun bab kehilangan adalah penderitaan yang paling menyakitkan. Kita terus mencari kesibukan dan kesenangan untuk mengisi ruang kesakitan.
Melupa bahwa semuanya yang menyakitkan adalah ilusi belaka.
Menipu diri sendiri bahwa kita terus baik-baik saja.
Jejak Rasa
Ada orang yang sejak kecil sudah terbiasa menjalani semuanya sendiri. Tidak punya banyak tempat bersandar selain dirinya dan Tuhannya. Dari kecil dia belajar jatuh, bangkit, dan memperbaiki dirinya tanpa banyak bantuan.
Dalam kehilangan, ada yang mampu merelakan dengan lapang dada,
namun ada pula yang memeluknya terlalu lama,
hingga kesepian membentuk ilusi bahagia,
yang terasa lebih ramah
dibanding dunia yang terus berjalan tanpa mereka
#pastigwsde
Mau sampai kapan kau tampak bodoh?
Jalan yang kau pilih bersama orang lain itu seharusnya kau pikul sendiri.
Jangan lagi kau titipkan bebannya pada anak-anakmu yang bahkan tak tahu apa-apa.
Aku coba lagi.
Aku coba tertawa, menyibukkan diri, seolah semuanya baik-baik saja . .
Padahal aku hanya berusaha lari dari kecewa dan sakit hati yang diam-diam tersimpan dalam hati seorang anak.
Aku rasa, ketika bicara tentang ibu, bahkan ayah, mungkin akulah yang paling lemah.
Terlihat kuat, tapi batin ini tersayat.
Seperti terpahat luka demi luka, milimeter yang terus menganga.
Entah, sampai kapan sembuhnya?
Tak apa, dunia ini memang hanya tempat sementara.
Kita coba lagi, serahkan segalanya pada-Nya.
Dari awalnya yang bukan siapa-siapa,
dan tak punya apa-apa.
Semua kebaikan itu sirna,
ketika satu kesalahan menganga.
Tak ada lagi belas kasihan,
yang tersisa hanya cacian.
Padahal kami ini pasti,
pernah menolong di kala sunyi,
pernah tersenyum di tengah letih,
pernah berdoa agar semua baik-baik saja,
meski nama kami tak pernah disebut.
Mau lari kemana lagi kamu nak?
Karna yang kamu butuhkan itu Allah dan cuma Allah yang bisa menopang apa yang ada didalam dada. Karna yang membolak-balikkan hati manusia, dan juga keadaan kita adalah Dia sang pemiliknya.
Mah, kemaren itu bener-bener rasanya sesak. Bingung, seperti hilang arah. Dan tiap hari bisanya netesin air mata karna gak kuat, bertahan dibalik keteguhan.