Tahun ini adalah tahun ke-21 saya berlangganan New Left Review. Pertama kali berlangganan tahun 2005, karena mencari artikel Perry Anderson tentang Antonio Gramsci. Kebetulan waktu itu riset tentang konsep civil society. Akhirnya jatuh hati dan setia menjadi penikmat NLR.
Jurnal ini berdiri 1960, didirikan Stuart Hall, E.P Thomson dll. Saya menjadi akrab dg gaya khas NLR dan menikmati pemikiran Immanuel Wallerstein, Perry Anderson, Ben Anderson, Robert Brenner, Eric Hobsbawm, Raymond William, Robin Blackburn, Louis Althusser hingga Wolfgang Streeck, Aaron Benanav, Susan Watkins, dan Alexander Zevin.
Merawat tradisi berpikir kritis, mempertentangkan gagasan, kesediaan saling mendengarkan, dan menghargai disensus menjadi prasyarat bagi masyarakat yang sehat. Bagi yang berminat tema atau judul tertentu bisa DM, saya akan carikan dan share.
Saya sangat bangga dan berkesan dg gestur KH Hasan Abdullah Sahal saat berjabat tangan dg Presiden Prabowo ini.
Tangan kanan menjabat tangan, tangan kiri menunjuk.
Jon, I’m not trying to diminish your achievements in any way. But your whole life seems to be tied to breaking the rules one way or another, and somehow, you’re never the one to be blamed.
Aktor intelektual tidak terungkap, aktor lapangan tidak jadi dipecat.
Setelah ini, siapapun bisa mengalami ini, disiram air keras, diteror, dibunuh, para pelakunya dilindungi negara.
Kronologi Ilmiah Bencana Gletser dan Banjir Bandang di Nepal
-Dr. Daryono anggota IABI
Rangkaian bencana ini bermula di wilayah elevasi tinggi Pegunungan Himalaya, di mana akumulasi pemanasan suhu atmosfer mempercepat proses dinamika kriosfer secara ekstrem.
Lelehan es yg meningkat secara intensif menembus celah-celah gletser gantung (hanging glacier) dan terakumulasi di batas antara es dan batuan penopang.
Air lelehan tsb menguraikan daya gesek dasar gletser dan melemahkan stabilitas struktural massa es raksasa yg berada di lereng-lereng terjal pegunungan.
Ketidakstabilan tersebut mencapai titik kritis saat massa es padat dan batuan dengan volume masif mengalami keruntuhan mendadak (glacier collapse).
Terjadilah proses penjatuhan bebas dari ketinggian lebih dari satu kilometer langsung menuju dasar lembah terjal.
Benturan mekanis berkecepatan tinggi ini melepaskan energi kinetik yg sangat besar, sebanding dgn guncangan tektonik skala sedang (Mag. 5,0 - 5,2) yg seketika menghancurkan material es menjadi pecahan mikroskopis, lumpur, dan lelehan air akibat konversi suhu dari gesekan mendadak.
Runtuhan es dan material longsoran tsb kemudian menyumbat alur sungai utama di lembah bawah secara mendadak, membentuk struktur bendungan alami (landslide and ice dam).
Penyumbatan ini menahan aliran alami sungai dan menjebak pasokan air lelehan baru dari hulu. Dlm hitungan jam, terakumulasi danau raksasa sementara di balik benteng debris tersebut, menciptakan tekanan hidrostatik ekstrem yg mendorong dinding penahan alami dari dalam.
Ketika struktur penahan yg tak stabil tersebut mencapai batas ketahanan maksimumnya, bendungan debris jebol secara seketika (breach).
Pelepasan volume air yg sangat besar dlm waktu singkat ini memicu gelombang banjir bandang (outburst flood) berbentuk dinding air pekat bercampur lumpur, batuan raksasa, dan debris padat.
Gelombang tinggi ini bergerak ke arah hilir dgn kecepatan amat tinggi, menyebabkan lonjakan muka air sungai yg sangat drastis dlm durasi hitungan menit.
Daya hancur material aliran debris (debris flow) yg memiliki massa jenis jauh lebih berat daripada air biasa tersebut dgn mudah merobohkan benteng bantaran sungai, menghancurkan jembatan, serta menyapu bersih infrastruktur pemukiman warga di tepi aliran.
Minimnya jeda waktu antara jebolnya benteng es dan datangnya gelombang air di kawasan permukiman hilir menyebabkan proses evakuasi tidak sempat dilakukan, yg pada akhirnya memicu timbulnya korban jiwa dan kerusakan lingkungan berskala masif. Korban jiwa meninggal telah mencapai 392 orang per Jumat, 28 Agustus 2026.
Fenomena ini menjadi bukti nyata bagaimana perubahan iklim global dapat memicu bencana beruntun (cascading hazard) dari puncak kriosfer hingga menghancurkan kawasan hilir dlm rentang waktu yg sangat singkat.***
alasan kenapa banyak oknum di Indonesia doyan bakar hutan menurut riset:
> akun Prof Felix Zulhendri, PhD nge-spill jurnal ilmiah kolaborasi stanford university & world bank yg ngebongkar biang kerok karhutla di indonesia (MDPI)
> alasan utamanya murni hitungan matematika bisnis, yaitu gap biaya pembukaan lahan (land clearing) yg jomplangnya beneran kebangetan.
> kalo buka lahan secara legal dan mekanikal pake alat berat buldozer, biayanya ngabisin $150-$180 alias sekitar Rp3,2 juta per hektar.
> bandingin kalo lewat jalur pintas bakar hutan, oknum cuma keluar modal $3-$5 atau sekitar Rp90 ribu perak doang per hektar.
> padahal begitu lahannya bersih dan disulap jadi kebun sawit, potensi cuan (npv) tanahnya bisa melesat dari $3.000 sampe $20.000 per hektar.
> alhasil selisih modal receh vs potensi cuan ratusan juta ini bikin para oknum gelap mata, lebih milih bakar hutan ketimbang mikirin paru-paru jutaan warga
Easily one of the greatest coaches MMA has ever seen
RIP to a true king 👑 who blessed the world by shaping great men both inside and outside the octagon
Kita adalah rakyat yang berkali-kali dikecewakan, tetapi memilih untuk tidak menjadi bangsa yang kehilangan harapan.
Kita melihat harga naik, hidup yang kian berat, janji yang tak selalu sampai kepada kenyataan. Kita menyaksikan ketidakadilan, lalu pulang ke rumah, bekerja lagi esok pagi, menyekolahkan anak-anak, menghidupi keluarga, dan tetap percaya bahwa negeri ini suatu hari akan menjadi lebih baik.
Betapa baiknya rakyat Indonesia.
Mereka tak banyak menuntut. Hanya ingin hidup yang layak, pendidikan yang baik untuk anak-anaknya, pekerjaan yang halal, hukum yang adil, dan pemimpin yang sungguh-sungguh mengingat bahwa kekuasaan adalah amanah.
Maka di usia kemerdekaan yang ke-81 ini, semoga yang merdeka bukan hanya bendera yang berkibar.
Semoga rakyatnya merdeka dari kelaparan, dari ketakutan, dari ketidakadilan, dari pendidikan yang tak terjangkau, dan dari hidup yang membuat mereka harus terus-menerus mengalah.
Ya Allah, jagalah negeri ini.
_____
Upacara Kemerdekaan RI di Pesantren Masyarakat Merapi Merbabu bersama santri dan segenap pengurus, lanjut tasyakuran makan kembulan bersama. 17 Agustus 2026.