@riadis99
airnya belum benar-benar mencium tanah,
namun langit terlalu gelap tak bercahaya
gemuruh dan angin menyambut deras,
tidak pada kata-kata
tapi pada sunyi yang sengaja dipelihara,
di jantung yang telah menua
hujan sengaja bertandang, di ruang yang aku sediakan bernama ikhlas
...
kemudian,
menikmati dingin yang menghujam pori-pori
#puisibebas
~@Lis2500670111#sajakIDenT
pucuk daun yang telah tumbuh dewasa, berkabar pada tanah ...
mengapa cuaca tak memberi masa bersenang ...
mengapa ...
justru benalu yang membuat layu tanpa hujan dan kecupan
...
gugur ...
bersama takdirnya
-@Lis2500670111
Secangkir kopi dan sepotong roti, menunggu tuan dan nyonya.
Di meja kosong, secarik kertas menyembunyikan pesan singkat.
"Kapan aku dipinang, atau aku akan terbuang"
~@Lis250067011
secangkir kopi pahitnya tersesat di tenggorokan,
saat rindu mempertanyakan adanya.
bulan Juni menggigil,
panas kopi tak menggugurkan dinginnya.
@PelangiPuisi#sajakIDenT
airnya belum benar-benar mencium tanah,
namun langit terlalu gelap tak bercahaya
gemuruh dan angin menyambut deras,
tidak pada kata-kata
tapi pada sunyi yang sengaja dipelihara,
di jantung yang telah menua
sejarah itu ...
usai ketikannya,
namun kisahnya tak benar-benar pergi
kecewa se-mili cinta jaraknya
gila berkali-kali
mati lalu bangun lagi
@riadis99#Puisibebas#sajakIDenT
doa-doa mengintai namamu,
dalam selembar sajadah kurahasiakan sajak patah dan menyisir hujan yang lebat dalam sejarah
kerap kali...
gelap malam merangkai pecahan-pecahan kaca
gumpalan debu ataupun legamnya jelaga yang lekat di pikiran
pagi,
membawa kabar kematian perempuan tua yang dipasung musibah dari berbagai arah
dan kata-katamu.. menghunus di jantungku, menandai awal perjalanan menuju pemakaman
@Ziah190977#sajakIDenT