How is it possible to have four students die in school in just a little over a year?
1. Zara Qairina Mahathir: July 16, 2025, Papar, Sabah (coroner’s inquest)
2. Yap Shing Xuen: Oct 14, 2025, Petaling Jaya, Selangor (killer acquitted of murder due to insanity)
3. Muhammad Idlan Fareeq: Sept 25, 2026, Kuala Pilah, Negeri Sembilan (murder investigation)
4. Irene Sofiya Mohd Khairool Faisal: Oct 3, 2026, Yong Peng, Johor (murder investigation)
If Fadhlina can’t do something substantive, she should resign.
Does the govt need to start collecting statistics now on the number of deaths or murder/suicide of school students?
Tun Dr Mahathir Mohamad menitiskan air mata ketika menziarahi pusara isterinya, Tun Dr Siti Hasmah Mohamad Ali, selepas empat hari pemergian Allahyarham.
Tun Dr Mahathir tiba pada 11.05 pagi dan meluangkan masa kira-kira 20 minit di pusara Allahyarham di Pusara Negara, Presint 20, Putrajaya.
🎥 Nazahiyah Mohd Hadzir
#digitalbernamatv #tundrmahathir #tundrsitihasmah #pusaranegara #alfatihah
Datuk Seri Mukhriz Mahathir berkongsi detik-detik terakhir sebelum ibunya, Allahyarham Tun Dr Siti Hasmah Mohd Ali menghembuskan nafas terakhir pada pagi tadi di Institut Jantung Negara (IJN), Kuala Lumpur.
#AWANInews
Journalists are a rowdy bunch, and press conferences are often chaotic.
In August 2020, we were waiting for Tun M’s presser to start, and the room at Yayasan Al Bukhary was loud with our banter…. until suddenly it went quiet: Tun Hasmah entered the room.
📌 Former PM Ismail Sabri is alleged to have failed to declare the following assets to the MACC, including:
• RM14.7 million
• S$6.1 million
• US$1.46 million
• CHF3 million
• €12.16 million
• ¥363 million
• £50,250
• NZ$44,600
• AED34.75 million
• A$352,850
• A 5kg Suisse fine gold bar
• A 100g Suisse fine silver bar
• A 5g 999-gold coin
🧵1
A massive mudslide struck Gyirong Port on the China-Nepal border, with CCTV footage showing a wall of debris slamming through the crossing in seconds, tossing vehicles and buses.
Nepal reports at least 8-16 dead with hundreds of travelers listed as missing, including 291 foreigners.
Roads, power, and communications on the Chinese side were cut.
President Xi ordered all-out search efforts.
About 430 MW of hydropower capacity, roughly 12% of Nepal's total, was affected.
A video showing medical staff shielding their patient as a powerful earthquake struck southern Japan during surgery has gone viral.
Kumamoto General Hospital said the operation was completed safely, and the hospital has since resumed outpatient services.
the excerpt from i compagni below reminds me of the 1957 Malay film ‘Mogok’ (tr. Strike) directed by K. M. Basker
the dialogues / arguments amongst the workers of the factory demonstrates the complexity in organising a strike and this particular scene is timely
🎷Saxophone Diplomacy: Thai PM Anutin Charnvirakul plays the saxophone and croons with Malaysian PM @anwaribrahim. Listen to them sing "My Way" and "Can't Help Falling in Love" at an official luncheon during the Thai leader's visit in Kuala Lumpur earlier today.
US President Donald Trump was struck by the size of the roses during a tour of Zhongnanhai gardens in Beijing, so President Xi Jinping offered to send him some.
Xi praised the new 'constructive and strategic' relationship with the US, before Trump concluded his China trip.
“We should be partners, not rivals," says Chinese President Xi Jinping to US President Donald Trump at a summit in Beijing.
In his opening remarks, Trump touted his “fantastic relationship” with Xi, and said US business leaders were in the city to "pay respects" to Xi and China https://t.co/JOoFE7Iw8Z
📍🟡 “I think it’s going to hit us in June. We’re going to start seeing production stoppages, people losing overtime, shift reductions…”
The Economic Adviser to the Prime Minister’s Office Nurhisham Hussein joins The Breakfast Grille to answer:
• Why oil supply will not resume immediately after the war ends
• Why this shortage will impact every aspect of our lives beyond petrol prices
• Budget cuts to the Ministry of Health and Ministry of Education
Full interview ⬇️
Pelakon veteran ternama tanah air, Jalil Hamid menghembuskan nafas terakhir pada 12.30 tengah hari tadi.
Berita duka pemergian seniman berusia 69 tahun itu disahkan anak Allahyarham, Afiqah Jalil di akaun Instagram.
Menurut Afiqah, bapanya meninggal dunia selepas tertidur usai menunaikan solat Subuh.
Kata Afiqah, Allahyarham ditemui tidak sedarkan diri oleh ibunya ketika masuk ke bilik tidur sebelum disahkan meninggal dunia di rumah.
#AWANInews
Berita lanjut di: https://t.co/FDPt1goruG
📌The Finance Ministry has proposed RM5.4 billion in budget cuts for the Health and Higher Education Ministries amid the West Asia conflict.
MOF is also expected to save RM664 million on its own, with overall savings reaching up to RM10 billion.
Other ministries flagged for potential savings include:
• Home Ministry : RM647 million
• Defence Ministry : RM508 million
• Rural and Regional Development Ministry : RM571 million
• Education Ministry : RM466 million
• Digital Ministry : RM508 million
🧵1
A huge fire tore through the floating village of Kampung Bahagia in Sabah, Malaysia, destroying more than 200 homes and leaving over 400 people displaced.
The blaze spread quickly overnight because of strong winds and tightly packed wooden houses.
Kerajaan Negeri Selangor mengambil langkah segera bagi mendepani kesan krisis tenaga dan rantaian bekalan susulan perkembangan semasa di Timur Tengah. Antara langkah awal yang diputuskan ialah penubuhan Pasukan Petugas Khas Krisis Tenaga Selangor, semakan semula keutamaan Belanjawan Negeri 2026, serta pelaksanaan Dasar Bekerja Dari Rumah bermula 15 April ini. 
Fokus kita jelas, melindungi rakyat, mengurangkan tekanan kos sara hidup, menyokong industri, dan memastikan ekonomi negeri terus bergerak, insya-Allah.
#KitaSelangor
Former TV3 broadcast journalist Karam Singh Walia passed away this morning at the age of 68.
Renowned as a leading environmental journalist, he was known for high-impact reports on pollution and sustainability, often weaving pantun and proverbs into his investigative stories.
He had been battling liver and kidney disease since 2022.
📷: NST
One month after starting the war in Iran, this is the statement of the President of the United States on Easter Sunday.
These are the ravings of a dangerous and mentally unbalanced individual. Congress has got to act NOW. End this war.
Indonesia berduka karena tiga prajurit yang bertugas sebagai penjaga perdamaian (peacekeeper) di Libanon gugur. Beberapa prajurit juga mengalami luka berat, termasuk dalam insiden ketiga kemarin, di tempat penugasan mereka.
Ketika saya ikut memberikan penghormatan kepada jenasah Mayor Inf (Anumerta) Zulmi Aditya Iskandar, Serka (Anumerta) Muhammad Nur Ichwan dan Kopda (Anumerta) Farizal Rhomadon, hati saya ikut tergetar. Memang seorang prajurit disumpah untuk siap mengorbankan jiwa dan raganya ketika tugas negara memanggil. Namun, saya bisa merasakan duka yang mendalam dari keluarga mereka (istri, anak dan orang tua) yang hadir di Cengkareng semalam. Saat saya ikut mengucapkan bela sungkawa yang mendalam kepada mereka, saya tahu arti air mata yang jatuh di pipi mereka.
Merasakan ini semua, secara pribadi saya mendukung langkah-langkah pemerintahan Presiden Prabowo yang mendesak Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk melakukan investigasi secara serius, jujur dan adil. Indonesia berhak untuk itu. PBB (utamanya UNIFIL) dengan penuh rasa tanggung jawab, harus bisa menjelaskan mengapa sejumlah insiden beruntun yang mengakibatkan jatuhnya korban jiwa dan luka-luka “peacekeeper” dari Indonesia itu terjadi.
Saya tahu bahwa investigasi dalam situasi pertempuran yang amat dinamis sering tidak mudah. Tetapi, bagaimanapun tetap dapat dilaksanakan dengan harapan hasilnya dapat dinalar dan masuk akal (acceptable, believable narrative). Saya pernah mengemban tugas PBB di Bosnia (former Yugoslavia) tahun 1995-1996. Dengan pangkat Brigadir Jenderal, saya menjadi Kepala Pengamat Militer PBB. Investigasi terhadap pelanggaran gencatan senjata juga sering kami lakukan.
Sebagai bentuk dukungan terhadap langkah-langkah pemerintah kita, menyusul gugur dan luka-lukanya prajurit Indonesia tersebut, saya ingin menambahkan satu, dua hal.
Satuan pemeliharaan perdamaian PBB, contohnya Kontingen Garuda XXIII/S yang sedang mengemban tugas di Libanon saat ini, tugasnya adalah untuk menjaga perdamaian (peacekeeping), bukan “peacemaking”. “Peacekeeper” tidak dipersenjatai secara kuat dan tidak pula diberikan mandat untuk melaksanakan tugas-tugas pertempuran. Ini diatur dalam Chapter 6 Piagam PBB. Bukan Chapter 7 yang punya misi “to enforce the peace”, dalam arti melaksanakan tugas yang “lebih keras” untuk sebuah “peacemaking”. Mereka bertugas di “blue line” atau di wilayah “blue zone”, yang bukan merupakan daerah pertempuran atau “war zone”.
Kontingen Indonesia, hakikatnya bertugas di “Blue Line” yang memisahkan teritori Israel dengan teritori Libanon. Sekarang ini, kenyataannya yang semula mereka berada di sekitar “Blue Line” kini sudah berada di “war zone”, yang sehari-hari sudah berkecamuk pertempuran antara pihak Israel dan Hizbullah. Bahkan dikabarkan pasukan Israel sudah maju 7 km dari “Blue Line”. Keadaan ini tentu sangat berbahaya bagi “peacekeeper” karena setiap saat bisa menjadi korban dari pertempuran yang tengah berlangsung.
Dengan argumentasi ini, seharusnya PBB, New York segera mengambil keputusan dan langkah yang tegas untuk menghentikan penugasan UNIFIL dan atau memindahkan lokasi mereka ke luar medan pertempuran yang masih membara saat ini.
Dewan Keamanan PBB harus segera bersidang dan bisa mengeluarkan resolusi yang tegas dan jelas. Saya masih ingat ketika sebagai Menkopolkam RI, harus menghadiri Sidang DK PBB tahun 2000 karena ada insiden di Atambua yang menewaskan 3 orang petugas kemanusiaan PBB akibat unjuk rasa yang terjadi di wilayah Atambua, NTT waktu itu. PBB tidak boleh pilih kasih dan menggunakan standar ganda.
Sebagaimana yang dilakukan Presiden Prabowo, secara pribadi, saya juga merasa punya kewajiban moral untuk ikut memperjuangkan keadilan bagi prajurit-prajurit TNI yang menjadi korban di Libanon ini. Mengapa?
Ketika menjadi presiden Indonesia dulu, saya berinisiatif dan mengusulkan kepada PBB untuk mengirimkan satu batalyon plus Indonesia sebagai bagian dari Pasukan Pemeliharaan Perdamaian PBB di Libanon.
Ini ada sejarahnya.
Pada bulan Agustus 2006 terjadi perang antara Israel dan Libanon. Korban berjatuhan utamanya di pihak Libanon. DK PBB belum melakukan langkah-langkah yang efektif untuk menghentikan peperangan tersebut. Ketika PM Malaysia Abdullah Badawi (Alm) berkunjung ke Jakarta, saya mengusulkan agar beliau, dalam kapasitasnya sebagai Chair of OIC (Organisasi Kerjasama Islam) untuk menggelar “emergency meeting” guna mendesak PBB untuk segera bertindak.
Beberapa hari kemudian, PM Abdullah Badawi menggelar pertemuan darurat OKI di Kuala Lumpur. Di samping Indonesia dan Malaysia, pemimpin lain yang hadir adalah Presiden Iran Ahmadinejad, Perdana Menteri Turkiye Erdogan dan Perdana Menteri Libanon Siniora. Juga hadir beberapa kepala negara/kepala pemerintahan yang lain.
Dalam pertemuan itu pula, saya menyampaikan Indonesia siap untuk mengirimkan pasukan satu batalyon diperkuat sebagai bagian dari “peacekeeping mission” di perbatasan Israel dan Libanon. Artinya, setelah terjadi “ceasefire” atas usaha dari PBB, Indonesia siap mengawasi pelaksanaan gencatan senjata tersebut.
Saya masih ingat, karena dipersyaratkan penggunaan kendaraan tempur mekanis dan Anoa kita belum siap, segera saya menelepon Presiden Perancis Jacques Chirac, dengan tujuan Indonesia ingin membeli kendaraan tempur VAB buatan Perancis untuk segera bisa dikirim ke Libanon. Alhamdulillah, Perancis bersedia dan bahkan proses pengirimannya berlangsung secara cepat karena dalam pengadaan alutsista tersebut saya menggunakan format G to G (government to government). Memang waktu itu kita tidak melibatkan pihak swasta.
Kontingen Indonesia pertama, Garuda XXIII/A, tiga bulan kemudian (November 2006) sudah bisa berangkat ke Libanon. Untuk diketahui, 3 orang anggota kabinet Presiden Prabowo adalah bagian dari kontingen Indonesia tersebut, yaitu Kapten Kav Muhammad Iftitah Sulaiman, Lettu Inf Agus Harimurti Yudhoyono, dan Lettu Kav Ossy Dermawan.
Hingga tahun 2026 ini, sudah 19 kali kontingen kita bertugas di Libanon dengan masa penugasan rata-rata satu tahun. Mungkin, ini yang terlama dalam misi PBB yang diemban oleh pasukan Indonesia.
Sebagai seorang sesepuh dan senior TNI, saya sampaikan kepada para prajurit Kontingen Garuda XXIII/S yang masih berada di Libanon untuk tetap bersemangat dalam mengemban tugas mulia. Do your best dan jaga diri baik-baik. Keluarga yang mencintai kalian menunggu kehadiran kembali di Tanah Air. *SBY*