Diri ini sering merasa malu dan insaf karena sudah meremehkan atau menganggap sepele seseorang, pdhl siapapun & apapun bergerak atas kehendakNya. masing² memiliki perannya.. mungkin ini pula yang mendasari Guru sejati tidak membeda-bedakan muridnya, bahkan kpd yg nampak bengal.
Wahai diriku, hendaknya kau berlatih untuk tidak merisaukan hal yang sudah dipastikan untukmu. Segenap upaya menjadi tak berarti bila dirimu tidak ridho akan ketetapannya.
Waktu terus bergulir, tekad untuk lebih baik dari yang sudah-sudah mesti teguh, walau bangun siang melulu & jelas ngisin-ngisini. Jo dadi masalah, tetep positif. Nikmati.
mikir inovasi untuk meraih pendapatan yg lebih, tentu bagus. Tapi kalau sampe terus-terusan, hari-hari bisa terasa redup. merasa kurang, padahal kenyataannya tidak juga.
Ya begitu, acapkali banyak anugerah yg lepas disyukuri karena terlampau asyik dg pusing yg ndak jelas.
Saat berbeda pendapat dg siapapun, bahkan yang masih dalam satu wadah, satu golongan, tak perlu sampai baper, memang seringkali panggah kepikiran, ya ini bisa jadi ajang yang baik untuk kita koreksi diri.
Menyikapi perbedaan secara berlebihan, bisa menjurus ke sikap emosional.
Pernahkah anda mendapati seorang yang mengupayakan diri untuk terlihat baik-baik saja? siapa? orang yang anda sayang? Ayah ibu siapa lagi? Anda sendiri? apa perlu seperti itu? Untuk apa?
Keikhlasan hadir dan potensial bisa ditularkan bila diteladankan, berapa banyak kalimat bijak berserakan mati terbunuh sikap majikannya yang gak nyambung. Ikhlas tak memusingkan perlu tampil atau sembunyi, mau bising mau sunyi tak perduli.
Prioritas masing-masing orang sangat bisa berbeda, menganggapnya salah karena berbeda dg hal yg diyakini benar, tak mengapa. Namun pilihan pengungkapan congkak dan intimidatif; adl jelas berbahaya dan tolol.
Jangan bodoh. Jangan mau dibodohi oleh Setan Kebencian. Tidak ada orang muslim, umat Nabi Muhammad SAW --apalagi yang sehari-hari melakukan dakwah menyampaikan sabda Nabinya-- sengaja menghina Nabinya sendiri.
Jaga… https://t.co/4voOJNPUeF
Menjadi makhluk sosial tidak lantas mengobral harapan dan mengemis bantuan. kemandirian serta sikap memberi tidak akan mudah tanpa kemantapan hati (iman).