Aturan di kantorku:
- cuti melahirkan 6 bulan
- cuti ayah 1 bulan
- adopsi anak (di bawah 2 tahun) cuti sama (6 bulan utk karyawati, 1 bulan utk karyawan)
- keluarga dekat meninggal cuti 7 hari
- cuti haid wajib
- cuti keguguran saat melahirkan 3-6 bulan (menyesuaikan)
- mudah izin utk jaga anak-ortu sakit
Seolah 'memanjakan' karyawan, tapi kantorku bisa jalan seperti ini 13 tahun. Saya tanpa pekerja yg andal, perusahaan akan tamat dalam sekejap. Karyawan tanpa fasilitas ramah keluarga akan lenyap dibajak kompetitor. Saling membutuhkan.
Saya juga tidak tahu masa depan perusahaan spt apa. Tapi saya tidak ingin mengubah kebijakan2 di atas. Bahkan ketika era covid ada yg dapat cuti melahirkan dan cuti ayah, kebijakan tetap diterapkan di masa sulit.
Kondisi dan karakter leader di tiap perusahaan tentu berbeda. Pasti banyak yg bingung dgn kebijakan kantor saya (dibilang moralis, disumpahin bangkrut, dll. Yeah, I got it a lot). Demikian juga saya bingung kalau perusahaan dgn margin/volume bagus tapi tdk punya kebijakan ramah keluarga. Beda prioritas sepertinya ๐๐
Kalo kalian masih boikot produk ini (also me) dan mau lebih mensupport produk lokal yg udah jelas dan terbukti enak (menurut gweh) ya pake kopi WARINGKAS.
- Tanpa ampas
- Diseduh dingin/panas bisa
- Dibuat kopi susu mantep
- Dibuat americano juga oke
Another hacks kalo mau bikin dibikin kopi susu, cobain pake susunya Diamond Rich Milk ini, mau ditambahin gula, sirup, terserah.
Gue kira ini cuma bakal jadi lucu-lucuan aja di meja,
ternyata setelah 4 bulan kemudian:
Isinya masih sisa sepertiga,
masih wangi banget tiap masuk ruangan
Ini gue pake beneran ya, bukan endorse wkwk
Guys, Mahfud MD baru keluarkan kritik yang menurut gue salah satu yang paling tajam dan paling berbobot sejak pemerintahan Prabowo berjalan.
Bukan karena Mahfud asal ngomong.
Tapi karena dia menggunakan buku Prabowo sendiri sebagai standar penilaiannya.
Senjata yang dipakai Mahfud: buku Paradoks Indonesia:
Sebelum menjabat Prabowo menulis buku Paradoks Indonesia yang bahkan dibagikan ke setiap anggota kabinet.
Di dalamnya Prabowo menekankan tiga hal: strategi yang benar, manajemen pemerintahan yang baik, dan pemerintahan yang bersih.
Mahfud menggunakan standar yang Prabowo buat sendiri itu untuk menilai implementasinya sekarang.
"Itu standar yang beliau buat sendiri. Namun sekarang, demokrasi kita melemah. DPR hampir tidak pernah lagi mempersoalkan kebijakan Presiden secara kritis."
Tiga poin kritik utama Mahfud:
Satu melemahnya checks and balances.
DPR yang seharusnya jadi penyeimbang kekuasaan hampir tidak pernah mengkritisi kebijakan presiden secara substantif. Koalisi yang terlalu besar membuat fungsi pengawasan parlemen praktis tidak berjalan.
Dua autocratic legalism.
Mahfud menyoroti fenomena di mana hukum dibentuk hanya untuk melegitimasi kehendak penguasa tanpa partisipasi publik yang bermakna. Hukum dipakai sebagai alat bukan sebagai pagar.
Tiga penegakan hukum yang tebang pilih.
Ini bukan tuduhan baru tapi Mahfud menegaskannya dengan konteks yang lebih besar soal arah demokrasi Indonesia.
Soal desakan mundur yang mulai bermunculan:
Mahfud juga merespons soal sejumlah tokoh yang menyuarakan desakan agar Prabowo mundur.
Posisinya jelas: itu bukan makar. Itu bagian dari mekanisme demokrasi yang sehat.
"Kritik yang muncul bukanlah upaya menggulingkan pemerintah. Ini adalah bagian dari demokrasi."
Dan ini penting karena ada kecenderungan untuk melabeli kritik keras sebagai destabilisasi atau makar. Mahfud secara eksplisit membantah framing itu.
Yang membuat kritik Mahfud berbeda:
Mahfud bukan oposisi ideologis yang dari awal menentang Prabowo. Dia mantan Menko Polhukam yang punya akses langsung ke dalam sistem.
Dan dia tidak menyerang dari luar dia menggunakan dokumen yang Prabowo buat sendiri, yang bahkan disebarkan ke seluruh kabinet, sebagai tolok ukurnya.
Ini bukan serangan personal. Ini audit berbasis janji tertulis.
"Objektivitas seorang pemimpin bisa dinilai dengan membandingkan janji tulis dan implementasi di lapangan."
Gue punya tetangga. Sebut aja Pak Hendra.
Dua tahun lalu dia masih naik motor beat butut ke warung.
Belinya eceran kopi sachet, rokok sebatang, mie instan satu bungkus.
Sekarang?
Alphard putih parkir di depan rumah.
Renovasi total.
Pagar besi custom.
Kamera CCTV empat titik.
Usahanya?
Katanya bisnis properti.
Yang gue tahu dia jual tanah warisan bapaknya di pinggir kota yang tiba-tiba nilainya meledak karena ada tol baru lewat sana.
Satu malam kaya.
Bukan proses panjang.
Bukan kerja keras bertahun-tahun.
Rejeki nomplok yang nyata.
Dan yang berubah bukan cuma mobilnya.
Cara dia nyapa orang berubah.
Dulu kalau papasan di gang senyum duluan, tanya kabar, kadang nawarin kopi.
Sekarang?
Jalan lurus.
Tatapan ke depan.
Senyum tipis yang terasa seperti basa-basi yang tidak dia nikmati.
Anaknya yang dulu main bareng anak-anak kampung sekarang sekolah di tempat lain.
Istrinya yang dulu arisan bareng ibu-ibu kompleks sekarang jarang kelihatan katanya sibuk
Bukan jahat.
Bukan sombong yang ngomong kasar.
Tapi ada jarak yang tumbuh perlahan, tanpa drama, tapi nyata.
Dan ini yang bikin gue mikir.
Komentar orang kaya lebih sopan dari orang miskin itu tidak sepenuhnya salah.
Tapi juga tidak sepenuhnya benar.
Yang lebih akurat mungkin ini:
Orang kaya punya lebih banyak ruang untuk terlihat sopan.
Mereka tidak dalam kondisi terdesak.
Tidak rebutan antrian.
Tidak stres soal tagihan yang jatuh tempo besok.
Tidak capek setelah 12 jam kerja berdiri.
Ketika kebutuhan dasar sudah terpenuhi otak punya lebih banyak kapasitas untuk berpikir tentang cara bicara, cara bersikap, cara memilih kata.
Itu bukan moral superiority.
Itu privilege dari rasa aman.
Dan yang terjadi pada Pak Hendra adalah pola yang gue lihat berulang pada OKB Orang Kaya Baru di Indonesia.
Kekayaan datang lebih cepat dari kesiapan mental untuk menghadapinya.
Tiba-tiba ada gap antara dia dan lingkungan lamanya. Dan gap itu tidak nyaman untuk kedua belah pihak. Tetangga lama mulai hitung-hitungan dulu dia biasa aja, sekarang sok.
Pak Hendra sendiri mungkin bingung mau tetap akrab tapi takut dimanfaatkan, mau jaga jarak tapi takut dibilang sombong.
Tidak ada pilihan yang benar.
Apapun yang dia lakukan akan disalahkan oleh satu pihak.
Dan ini yang paling jarang dibahas:
Sopan santun itu bukan produk dari kekayaan.
Tapi kekayaan memberikan kondisi yang lebih kondusif untuk menampilkan sopan santun itu.
Orang yang kelelahan, tertekan, dan tidak punya ruang bernafas secara psikologis memang lebih mudah tersulut.
Bukan karena karakternya buruk. Tapi karena resources mentalnya sudah habis sebelum hari berakhir.
Dan orang kaya yang kelihatan lebih sopan belum tentu lebih baik karakternya.
Mereka hanya punya lebih banyak energi sisa untuk menjaga penampilan sosial mereka.
Jadi kalau ada yang bilang orang kaya lebih sopan:
Mungkin. Tapi tanya dulu sopan karena memang baik karakternya?
Atau sopan karena hidupnya tidak sedang dalam mode survival?
Dua hal yang sangat berbeda.
Dan Pak Hendra?
Gue tidak judge dia.
Gue hanya berharap suatu hari dia sadar bahwa Alphard putih itu tidak akan pernah bisa menggantikan rasa nyaman yang dia punya waktu masih bisa senyum duluan di gang sempit itu.
Gaji lo Rp 7 juta per bulan. Coba cek slip gaji. Gaji pokok tertulis Rp 3 juta. Sisanya dipecah: "tunjangan transport," "tunjangan makan," "insentif kehadiran."
Lo pikir gak masalah. Duit masuk sama aja kan?
Salah besar. Struktur gaji kayak gini bisa bikin lo rugi PULUHAN JUTA di masa depan.
Ketika kerja di sebuah pabrik saya pernah terlambat selama 15 menit lalu dipanggil HR.
HR: Kamu telat 15 menit, nanti potong gaji, ya.
Me: Kalau begitu saya minta kelebihan jam kerja saya dibayar. Lebih 4 jam setiap Minggu. Saya juga minta lembur saya dibayar.
HR: Euh, kamu mah. Ya udah sana ke ruangan lagi.
Tentu saja tidak jadi potong gaji. Konon, dari ribuan karyawan, saya satu-satunya yang melawan.
Prinsip saya sederhana: You do your effort, I'll do my effort.
Guys, kalian tau Aldi Taher kan.
Yang komen-komen random di mana-mana.
Yang tiba-tiba nongol di postingan orang dengan Aldis Burger Cempaka Putih, rotinya lembut, dagingnya juicy, bisa pesan online.
Yang diblok Deddy Corbuzier.
Yang bikin grup WhatsApp mantan istri tapi yang ngobrol dia sendiri.
Ya.
Orang itu.
Dan gue baru tau satu hal soal dia yang bikin gue diem sebentar.
Istrinya Salsa Billy cerita soal momen pertama dia sadar Aldi itu orang yang layak dijadiin suami.
Bukan waktu Aldi ngasih bunga.
Bukan waktu dia romantis-romantisan. Bukan waktu dia kaya atau terkenal.
Tapi waktu Salsa pertama kali datang ke rumah Aldi dan lihat satu hal
Aldi lagi mandiin ibunya.
Gantiin pampers.
Dan Salsa bilang
Waktu itu aku belum pernah lihat laki-laki kayak gitu. Yang beneran oh, kayaknya nggak salah nih.
Dan ini yang bikin gue mikir.
Di luar sana Aldi Taher dikenal sebagai orang yang absurd.
Yang random.
Yang bikin orang ketawa sekaligus geleng-geleng kepala.
Tapi di rumah dia yang nyuci,
yang urus anak
yang ingetin istri buat nggak marah ke anak dengan cara kasar,
yang bilang salah nggak salah, minta maaf aja,
kita dapat pahala juga.
Nggak ada kamera.
Nggak ada penonton.
Nggak ada yang tepuk tangan.
Dan mungkin itu yang paling langka dari seorang laki-laki
Baik bukan karena dilihat.
Tapi karena emang begitu orangnya.
Salsa juga cerita awal nikah lagi COVID.
Nggak ada syuting.
Uang tipis.
Mereka buka barbershop.
Buka mie ayam.
Aldi sendiri yang nyukur rambut temennya buat bertahan hidup.
Dan sekarang burger Cempaka Putihnya viral gara-gara dia komen random di mana-mana dengan cara yang orang bilang "nggak ada konsepnya."
Tapi Aldi sendiri bilang "Konsepnya Allah."
Gue nggak tahu apakah itu wisdom atau dia emang nggak bisa jelasin konsepnya.
Mungkin dua-duanya.
Tapi satu hal yang gue yakin orang yang di puncak kesibukan hidupnya masih mandiin ibunya sendiri, itu bukan orang yang perlu kita ragukan karakternya.
Sisanya biar Allah yang urus.
Guys menurut Jusuf Kalla, kebijakan WFH/WFA yang katanya buat hemat BBM yang bakal dilakuin pemerintah prabowo itu sebenarnya nggak tepat sasaran.
Kenapa?
Karena energi yang dipakai di kantor itu mayoritas listrik, AC, lampu dan listrik di Indonesia, khususnya Jakarta & Jawa Barat, masih didominasi PLTU berbahan batu bara, bukan BBM.
Jadi mau kerja di rumah atau di kantor, konsumsi BBM secara nasional nggak banyak berubah.
Yang lebih aneh lagi, masalahnya BBM, tapi solusinya malah WFH.
Padahal kalau mau serius hemat BBM, harusnya fokus ke transportasi:
paksa penggunaan angkutan umum
batasi kendaraan pribadi
atau dorong sepeda di daerah.
Lah ini?
Orang tetap pakai listrik di rumah, bahkan bisa jadi lebih boros karena AC dan alat elektronik nyala seharian.
Jadi bukannya hemat, bisa aja cuma mindahin beban energi dari kantor ke rumah.
Jadi pertanyaannya sekarang
ini beneran solusi hemat energiโฆ atau cuma kebijakan biar keliatan doang?
Guys, Leon Hartono baru balik dari Singapura dan dia nemuin satu hal yang bikin dia mikir keras.
Rata-rata orang Singapura punya kekayaan Rp7,5 miliar.
Jadi kata dia Pemerintah Singapur tuh Paksa Rakyatnya Jadi Miliarder
Bukan orang kaya.
Bukan CEO.
Bukan entrepreneur.
Orang rata-rata.
Profesional biasa.
Manajer.
Pegawai kantoran.
Mediannya?
Rp1,9 miliar.
Buat konteks Indonesia kita sekitar 25 sampai 30 kali lebih rendah dari angka itu.
Dan yang lebih menyakitkan gap ini makin lebar dari tahun ke tahun.
Di 1970 GDP per kapita Singapura cuma 11 kali lipat lebih besar dari kita.
Sekarang udah 18 kali lipat.
Artinya mereka tumbuh lebih cepat dari kita bukan cuma lebih kaya tapi makin jauh meninggalkan kita.
Dan rahasianya bukan cuma soal korupsi rendah atau negara kecil.
Ada satu program yang jarang dibahas tapi ini yang beneran jadi mesin kekayaan massal di Singapura.
Namanya HDB Housing Development Board.
Kalau lo pikir ini cuma rusun untuk orang miskin lo salah total.
HDB itu bukan program perumahan.
Ini program distribusi kekayaan.
Begini cara kerjanya.
Orang Singapura bisa beli apartemen HDB dengan diskon 50 sampai 60% dari harga pasar.
Rumah yang harusnya lu bayar Rp1 miliar lo cuma bayar Rp400 sampai Rp500 juta.
Dengan bunga fixed 2,6% selama 25 tahun.
Bukan floating rate yang bisa naik kapan aja.
Fixed. Dua koma enam persen.
Dua puluh lima tahun.
Di Indonesia bunga KPR kita berapa?
10% ke atas.
Floating.
Seringkali yield sewa properti kita pun cuma 2-3% jauh di bawah bunga pinjamannya.
Jadi properti di Indonesia secara matematis nggak bisa bayar dirinya sendiri.
Di Singapura?
Properti yang cicilan bulanannya sekitar Rp14 juta bisa disewain Rp40-50 juta sebulan.
Propertinya bayar dirinya sendiri dan masih ada sisa.
Dan ini contoh nyata yang Leon kasih:
Teman SD-nya beli apartemen HDB 60 mยฒ di tahun 2016 seharga 350.000 dolar Singapura.
Bayar dulu cuma 5%.
Empat tahun nunggu sambil kuliah dan awal karir.
Serah terima 2020.
Baru mulai nyicil.
Sekarang 2026 apartemennya dijual di harga 850.000 dolar Singapura.
Capital gain: 500.000 dolar.
Sekitar Rp5,5 miliar.
Dan dia baru nyicil 6 tahun dari 25 tahun.
Artinya dia baru bayar sekitar 120.000 dolar tapi udah dapat keuntungan lebih dari 4 kali lipat modal yang dia keluarkan.
Lu baru bayar sedikit, dalam waktu singkat lu udah dapat 45X upside.
Sistem ini dirancang buat semua fase hidup.
Waktu muda beli yang kecil.
Keluarga berkembang jual, beli yang lebih besar, tetap dapat harga subsidi.
Per keluarga bisa dua kali.
Setiap kali jual, dapat capital gain.
Setiap kali beli, tetap dapat diskon.
Dan kalau mereka udah tinggal sama orang tua HDB-nya disewain.
Uang sewanya jauh lebih besar dari cicilan.
Passive income masuk, cicilan lunas, masih ada sisa.
Lihat datanya dan ini yang paling nyesek:
Untuk 20% warga Singapura paling bawah secara pendapatan 93% kekayaan mereka berasal dari HDB dan CPF yang adalah program pemerintah.
Bukan dari kerja keras ekstra. Bukan dari investasi saham pintar. Tapi dari program yang pemerintah design khusus supaya rakyatnya kaya.
Dan semakin lo naik ke bracket pendapatan yang lebih tinggi porsi HDB dan CPF makin kecil karena mereka udah bisa bikin kekayaan sendiri. Tapi buat yang di bawah pemerintah hadir dan bikin mereka naik kelas.
Sekarang balik ke Indonesia. Dan ini yang bikin gue nggak enak hati.
Program 1 juta rumah kita fokusnya affordability supaya orang bisa beli rumah. Itu bagus. Tapi berhenti di situ.
Nggak ada design untuk capital gain. Nggak ada bunga fixed jangka panjang yang masuk akal. Nggak ada sistem upgrade yang terstruktur. Nggak ada mekanisme supaya properti bisa bayar dirinya sendiri.
Kita bikin program supaya orang punya rumah. Singapura bikin program supaya orang punya kekayaan.
Bedanya itu yang bikin rata-rata orang Singapura jadi miliarder sementara kelas menengah Indonesia makin terjepit.
Yang Leon sarankan dan ini masuk akal:
Nggak harus langsung seluruh Indonesia. Mulai dari Jakarta. Mulai dari Surabaya. Bikin program perumahan terjangkau di lokasi strategis dengan skema yang dirancang bukan cuma untuk tempat tinggal tapi untuk membangun kekayaan kelas menengah.
Kalau pemerintah mau hadir bukan cuma untuk yang paling miskin tapi untuk kelas menengah yang sering kali justru paling nggak dapat apa-apa ini bisa jadi titik balik.
Tapi selama program perumahan kita masih didesain hanya untuk charity dan bukan untuk wealth building gap antara kita dan Singapura akan terus melebar.
Dan 50 tahun lagi kita mungkin masih ngomongin hal yang sama.
"Kok Singapura bisa, kita nggak bisa?"
Saran gw kalo jualan online dan pake ads
Lu harus paham hitung2annya dulu.
Jangan asal ngeluarin uang untuk ads tanpa tau untung atau rugi
Gw pribadi punya kalkulator buat nentuin mau set ROAS ads berapa wkwkwk ๐๐๐คฃ
prengki ak full senyum
530km full muatan (4 orang) bagasi penuh ada kursi roda pula dan dus2 an
tembus 7 jam pas (magelang jkt arus balik mudik 23/3 kmrn. udah ter masuk rest area 1 jam an)
bensin ron 92 cukup 300rb pas ajaahh
@Aerio_Id@spressoid@Fronx_Id
DAY 2 - BELAJAR SAHAM
โMA (moving average), baca orderbook & tradebook, support resistโ
Seperti biasa, ini akan aku buat thread karena akan aku bahas per sub-bab ๐
MOVING AVERAGE (MA)
Kalimat ini tuh sering banget biasanya ditulis anakโ saham, nah MA tuh dibagi jadi macemโ ada MA 5,10,20,50,100,200.
Arti dari MA tuh harga rataโ nah klo angkanya itu indikasi dari harganya. Jadi klo ada yg bilang MA 5 = harga rataโ selama 5 hari kmrn ini, MA 50= harga rataโ selama 50 hari saham, dan seterusnya.
Terus, fungsi MA ini buat apa? Simplenya MA ini dipakai buat menunjukkan trend ini dia mau uptrend (saham harganya naik) atau downtrend (saham cenderung harganya turun). Sebagai contoh yg aku bilang di bab sebelumnya. Kalau metode investasi kan ada 3 yaitu : scalping, swing sama invest.
Nah kalau scalping itu acuannya pake ma 5/ma 10
Swing pake ma 20-ma100
Nah klo invest minimal pake ma 200
Cara bacanya gmna ??
Aku coba kasih contoh pake saham BBNI dan bacanya pake aplikasi โnaikโ
Biasanya, kalau mau cari saham yg uptrend itu pastikan harga saham tersebut diatas harga MA.
Karena aku mau scalping, aku liatnya harga ma5. Harga MA 5 Bbni ini kan 4298, sedangkan harga sahamnya 4390. Dimana harga saham lebih tinggi dari MA 5 berarti bagus untuk scalping (hipotesis 1)
Kalau harga saham kurang dari MA 5 biasanya aku skip dulu ๐๐ป
Aku setuju, brand lokal cowo-pun sekarang udah banyak dan bagus-bagus. Mostly affordable juga.
Ini beberapa brand lokal yg mungkin bisa kalian lirik:
1. Kaos
- No Void Minds
- Coop Design
- Seka Basic
2. Celana
- Bluebutton
- Gutterman
3. Sepatu
- Kanky
- Forever Young Crew
- Caraka Footwear
- Aerostreet
4. Underwear
- Flyman
Sebenernya masih ada beberapa karena 90% outfitku lokal, cuma pada lupa aja. Wkwk.
Percayalah baju di Matahari (terutama private label-nya kaya Nevada, Cole, Connexion, & Suko) itu secara kualitas sebagus produk fesyen ritel luar. Soalnya ada beberapa yang pabriknya sama QC-nya bagus. Lebih bagus daripada baju brand lokal kebanyakan yang harganya lebih mahal.
Sedikit tips: kalo mau beli Sandal Birkenstock original murah di Jakarta bisa ke Fashion Shoes Warehouse, Kuningan City.
Diskonnya bisa sampe >50%.
Contohnya nih, dari 2jt jadi 700rb aja๐
Ini tuh toko kerjasama sama MAP buat stok barang yg ga laku/last season/defect kecil di mall-mall gede bakal dijual disini.
Brandnya macem-macem (pokoknya yg under MAP). Ga cuma Birkenstock, tapi juga ada yg lain kyk Onitsuka Tiger, Staccato, Dr. Martens, Steve Madden, dll.
Thank me later โบ๏ธ