Habis cari contoh kalimat inversi. Dari berbagai pola di bawah ini, gak ada satu pun yang sesuai dengan pola 'saya makan nasi' hanya karena makan gak ada imbuhannya.
@icukprayogi Saya justru berterima kasih, Pak sudah kasih rujukan untuk saya baca. Ini beneran bermanfaat untuk menambah wawasan tentang bahasa Indonesia saya yang masih banyak kurangnya. Ternyata ini bukan sekadar konstruksi sintaksis, tetapi ada pola pemaknaannya.
@icukprayogi Begitulah pemahaman saya thdp Bab 7.3.1. Deiksis dalam Bahasa Indonesia. Saya mohon koreksinya kalau ada pemahaman yang keliru berdasarkan teks yang saya baca tadi.
@icukprayogi karena bentuk verbanya pasif nol. Jadi, kesimpulan yang saya dapatkan, saya makan nasi adalah kalimat aktif karena 'makan' bukanlah verba yang berhubungan dengan 'bahwa/agar' begitu juga dengan pelaku yang menjadi pusat informasinya.
@icukprayogi Boleh, Pak. Tapi untuk fungsi yang sama. 'Saya makan nasi' dan 'nasi saya makan' punya fungsi makna yang beda. Saya makan nasi jelas-jelas aktif. Kalau argumen Bapak tetap pasif, bisakah berikan rujukan/paper ilmiah mengenai pola yang mirip dengan 'saya makan nasi'?
@icukprayogi Masih belum terjawabkan. 'Nasi saya makan' saya terima sebagai bentuk pasif karena posisi topik/pusat informasi adalah objek. Tapi, untuk kalimat 'saya makan nasi', masih belum saya terima sebagai bentuk pasif karena itu jelas-jelas menunjukkan 'saya' adalah pelaku.
Masih bingung deh. Ini gimana caranya dari 'Saya memakan nasi' (aktif) jadi pasif pronominal 'Nasi saya makan', dinegasikan menjadi 'nasi tidak saya makan' (pasif), diinversi ke subjek di depan lagi 'saya makan nasi' statusnya tetap pasif?
@_maulanaas bentuk aktifnya "saya memakan nasi"
ditransformasi menjadi pasif pronominal "nasi saya makan"
jika verbanya dinegasikan: "nasi tidak saya makan"
artinya, pronomina "saya" menggantikan fungsi dari prefiks verbal meN-.
jika konstruksi itu diinversi, jadinya"saya makan nasi"
@icukprayogi Jadi, kalimat aktif (S-P-O) yang verbanya gak ada imbuhan awal seperti me/men-, akan tetap disebut pasif inversi walaupun pelakunya jelas-jelas ada sebagai pusat informasi?
@icukprayogi Jadi, bisa beri tahu kenapa 'saya makan nasi' bisa jadi pasif inversif? Soalnya kalimat aktif dan pasif yang aku pelajari secara umum itu tentang posisi subjek dan apa yang menjadi fokus utama dalam kalimat. Ini beneran penasaran banget. Diskursus ini bisa jadi bahan kajianku.
Kalau untuk “The vase I broke” itu bukannya bisa dilihat dari SFL Halliday ya pak?
The vase = Theme (Goal yang difronting)
I broke = Rheme.
Sependek pemahamanku voice-nya tetap operative (aktif), di mana:
Actor = I
Process = broke
Goal = the vase
Fronting ini dipilih untuk alasan tekstual, yaitu membuat Goal sebagai titik tolak pesan, seringnya untuk kontras atau fokus informasi.
Kalau dalam voice, English sendiri membedakan operative/receptive, tapi "the vase I broke" bukan receptive. Receptive yang natural adalah memang the vase was broken (by me).
Nah, kembali ke konteks “Saya makan nasi,” apakah pemahamannya jadi seperti gambar yang aku lampirkan, di mana predikatnya itu “Saya makan” secara kesatuan?
Terus pertanyaan selanjutnya, bagaimana bentuk aktif dari kalimat tersebut pak? Apakah harus diberikan imbuhan me- supaya jadi “Saya memakan nasi” baru bisa dikatakan itu adalah kalimat aktif?
Kebetulan terkait affixation sendiri, bahasa Indonesia dan English memang sangat jauh berbeda. Jadi aku penasaran sama jawaban-jawabannya...