๐๐๐ญ๐ข ๐๐๐ญ๐ข ๐๐๐ค๐ฌ๐๐ฌ๐ ๐๐๐ซ๐จ๐๐ ๐๐๐ฅ๐๐ฉ๐๐ง ๐๐ข ๐๐ฎ๐ซ๐ฎ๐ง๐๐ง ๐๐ข๐๐จ๐ฅ๐๏ฟฝ๏ฟฝ๏ฟฝ๐ ๐ข๐ญ
Jumat (17/7/2026), tepat pukul 10.30 pagi, di Kilometer 44-45 Jalan Jamin Ginting, sebuah truk tronton bermuatan penuh galon air mineral meluncur dari arah Tanah Karo menuju Medan.
Di depannya, jalan sedang tersendat, antrean kendaraan mengular karena sebuah tabrakan kecil antara mobil travel dan truk telah lebih dulu terjadi setengah jam sebelumnya.
Sopir bernama inisial I menginjak rem.
Rem itu tidak menjawab.
Yang terjadi berikutnya berlangsung dalam hitungan detik: truk tak laik jalan yang dipaksa beroperasi itu berubah menjadi peti mati raksasa beroda delapan, menyapu sembilan kendaraan sekaligus-satu truk fuso, twee truk colt diesel, lima minibus, dan satu sepeda motor.
Empat orang meninggal dunia: Heppi Sitinjak (60), Dinaria Manik (60), Samsir Sitinjak (30), dan Anton Simorangkir.
Delapan lainnya luka-luka, satu di antaranya anak kecil dengan luka berat.
Salah satu korban tewas, menurut keterangan yang beredar, sedang dalam perjalanan menjemput anaknya dari sekolah.
Polisi cepat menetapkan penyebabnya.
"๐๐ฆ๐ณ๐ฎ๐ถ๐ญ๐ข ๏ฟฝ๏ฟฝ๏ฟฝ๐ข๐ข๐ต ๐ต๐ณ๐ถ๐ฌ ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ฎ๐ถ๐ข๐ต๐ข๐ฏ ๐ข๐ช๐ณ ๐ฎ๐ช๐ฏ๐ฆ๐ณ๐ข๐ญ ๐ฌ๐ฆ๐ฎ๐ข๐ด๐ข๐ฏ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ข๐ญ๐ข๐ฎ๐ช ๐ณ๐ฆ๐ฎ ๐ฃ๐ญ๐ฐ๐ฏ๐จ," kata Kapolrestabes Medan Kombes Pol ๐๐๐๐ง ๐๐๐ฅ๐ฏ๐ข๐ฃ๐ง ๐๐ข๐ฆ๐๐ง๐ฃ๐ฎ๐ง๐ญ๐๐ค.
Dua kata itu "๐ซ๐๐ฆ ๐๐ฅ๐จ๐ง๐ " kini menjadi kalimat penutup resmi atas empat nyawa.
Sebab "rem blong" bukanlah sebab.
Ia adalah gejala.
Pertanyaan sesungguhnya adalah: mengapa sebuah truk dengan rem yang tak berfungsi diizinkan menuruni salah satu jalur turunan paling curam di Sumatera Utara?
Truk itu membawa muatan penuh.
Muatan penuh berarti energi yang menumpuk, dan energi itu hanya bisa ditahan oleh satu sistem: pengereman yang bekerja.
Ketika sistem itu gagal, fisika tidak mengenal ampun.
Menyalahkan sopir adalah jalan pintas yang nyaman.
Ia menutup kasus tanpa harus menyentuh rantai yang lebih panjang: pemilik truk yang menekan biaya perawatan, sistem pengawasan kelaikan yang mudah ditembus, dan pengaturan muatan yang jarang benar-benar ditimbang.
Lokasi kejadian pun bukan titik yang asing bagi maut.
Jalur Medan-Berastagi di kawasan Sibolangit adalah jalur wisata favorit yang membelah pegunungan, indah dipandang, tetapi menuntut kendaraan dalam kondisi prima karena rangkaian tanjakan dan turunannya.
Lalu lintas, kata polisi, telah kembali lancar dari dua arah.
Semuanya rapi, semuanya cepat, seolah tragedi ini adalah rutinitas yang cukup dibersihkan dari badan jalan lalu dilupakan.
Tapi rem yang blong pagi tadi seharusnya tidak diikuti oleh nalar yang ikut blong.
Karena jika satu-satunya kesimpulan dari empat kematian ini adalah "rem truk rusak", maka jalanan itu akan tetap menunggu sabar dan pasti truk berikutnya yang remnya juga kebetulan menyerah di tikungan yang salah.
#sibolangit #berastagi #remblong #ujikir
Jangan sampai semua dibikin gila dari kegilaan Kepala BGN.
1) menurut Kepala BGN bhw dapur SPPG yg disuspend tetap dapat โinsentifโ Rp 6 juta per hari atau Rp 180 juta sebulan.
2) Dapur SPPG yang disuspend saat ini 1.780 unit
3) Jika disusupend selama sebulan, artinya negara membayar sktr Rp 320 milyar padahal tdk memenuhi kewajibannya.
Baru kali ini ada kontrak dg pemerintah yg tidak bisa mensuplai kewajibannya justru dibayar padahal harusnya didenda.
Kenapa Presiden, BPK, BPKP, dan KPK semua diam ?
Apakah karena sebagian besar dapur SPPG adalah โmilikโ polisi ?
Guys, Raymond Chin baru ngebahas sesuatu yang menurut gue harusnya diajarkan di sekolah tapi nggak pernah ada di kurikulum manapun.
Dan setelah gue dengerin gue ngerti kenapa.
Problem paling gede Indonesia yang bikin dia nggak bisa jadi negara maju
bukan sumber daya alam.
Bukan SDM.
Tapi sistem.
Di Indonesia ada istilah Sembilan Naga
segelintir konglomerat yang menguasai sebagian besar ekonomi nasional.
Bukan rahasia.
Bukan teori konspirasi.
Ini fakta yang bisa lo trace dari struktur kepemilikan bisnis di Indonesia.
Tapi yang menarik dari analisa Raymond dia bilang ini bukan salah naga-naganya.
Ini salah pemimpinnya.
Dan itu yang bikin gue diem sebentar.
Karena ini counter-intuitive.
Korea Selatan vs Indonesia bedanya di mana?
Korea Selatan juga punya konglomerat yang mendominasi ekonomi namanya chaebol.
Samsung, LG, Hyundai, SK Group.
Mereka kontribusi sekitar 60% dari GDP Korea.
Mirip sama Indonesia kan?
Tapi bedanya satu hal yang fundamental
Di Korea, pemerintah mengarahkan chaebol ke sektor-sektor strategis yang bikin negara maju. Samsung masuk elektronik.
Hyundai masuk otomotif.
SK Group masuk high-tech manufacturing.
Mereka didesain untuk bersaing di level global dan membawa teknologi masuk ke Korea.
Di Indonesia?
Konglomerat kita banyak bergerak di sektor yang justru harusnya dikontrol negara air, pangan, energi, real estate.
Sektor yang kalau dikuasai swasta, rakyat biasa yang paling kena dampaknya.
Dan ini yang bikin investasi asing ogah masuk ke Indonesia.
FDI Indonesia cuma 1,9% dari GDP.
Vietnam sudah 4,4%. Singapura? 30% dari GDP.
Dan Raymond kasih tahu kenapa
Investor asing butuh satu hal sebelum taruh triliunan rupiah di suatu negara
kepastian.
Kepastian hukum.
Kepastian regulasi.
Kepastian bahwa aturan yang berlaku hari ini masih berlaku tahun depan dan nggak tiba-tiba berubah karena ada kepentingan politik atau konglomerat tertentu.
Dan di Indonesia kepastian itu susah banget dijaga.
Singapore is a Nation of Law.
Indonesia is a Nation of Lawyers.
Quote dari Gita Wiryawan yang kata Raymond nempel banget.
Dan gue rasa lo ngerti maksudnya.
Kenapa sistem ini bisa terbentuk?
Raymond tarik akar masalahnya jauh ke belakang ke zaman kolonial Belanda.
Selama 300 tahun dijajah, kita nggak cuma dikeruk sumber dayanya.
Kita juga diajarin satu culture yang berbahaya korupsi, nepotisme, dan budaya menjilat yang berkuasa bukan untuk cari cuan, tapi untuk bertahan hidup.
Dan etnis Tionghoa yang waktu itu diposisikan sebagai middleman minority selalu kena diskriminasi, keamanannya terancam akhirnya membangun hubungan dengan penguasa lewat suap sebagai mekanisme survival.
Hubungan inilah yang jadi fondasi kapitalisme kroni Indonesia sampai sekarang.
Kapitalisme kroni itu bukan otomatis buruk.
Raymond tegas di sini kapitalisme kroni itu bisa bagus kalau pemimpinnya benar.
Di Korea, chaebol diarahkan untuk kemajuan negara.
Inovasi.
Teknologi.
Ekspor.
Bersaing global.
Di Indonesia, konglomerat diarahkan untuk... kepentingan pribadi dan kelompok. Dan itu snowball effect-nya bisa terasa 100 sampai 1000 tahun ke depan.
Solusinya?
Raymond sebut satu konsep yang Indonesia pernah coba tapi kemudian mundur.
Kabinet Zaken.
Konsepnya simpel tapi revolusioner dalam konteks Indonesia kabinet yang diisi berdasarkan profesionalitas dan keahlian, bukan berdasarkan hutang budi politik atau titipan partai.
Pemimpin yang kuat.
Meritokrasi.
Anti-korupsi yang beneran tegas.
Bukan yang kampanye anti-korupsi tapi tetap tebar jabatan ke kroni.
Kalau ini diterapkan stabilitas hukum terjaga, investasi asing masuk, lapangan kerja terbuka, SDM naik level, korupsi berkurang.
Dan Indonesia yang diprediksi masuk top 5 ekonomi dunia di 2050 bukan cuma mimpi tapi bisa jadi kenyataan lebih cepat dari yang kita kira.
Tapi ini yang paling bikin gue mikir dari semua yang Raymond bilang:
Sebagai warga negara Indonesia, kita berhak untuk menagih pemimpin yang kuat untuk bantu membawa kita ke kesejahteraan.
Bukan nunggu.
Bukan pasrah. Tapi menagih.
Tips di awal berhubungan serius:
1. minta nama lengkap doi
2. buka website https://t.co/PFN8UWjfYp
3. cek nama doi di situ (ada/tidak, kalau ada, di putusan mana, dan tentang apa)