Guys, lu pada tahu nggak kenapa Habibie mencopot Prabowo dari Pangkostrat?
Dan yang lebih penting lu pada tahu nggak bahwa pencopotan itu terjadi dalam kurang dari satu hari setelah Habibie menerima laporan?
Ini bukan gosip.
Ini diceritakan sendiri oleh Habibie
dalam wawancara yang direkam tahun 2006.
Ini konteksnya dulu:
Mei 1998. Soeharto baru saja mundur.
Habibie dilantik sebagai presiden.
Indonesia dalam kondisi paling kacau sejak 1965 demonstrasi massal, kerusuhan, ekonomi hancur, dan kepercayaan publik terhadap negara di titik nol.
Habibie baru duduk di kursi presiden.
Belum hafal protokolnya.
Dia sendiri cerita waktu mau duduk di kursi kerja presiden, dia bingung mau duduk di mana karena tidak tahu posisi duduk yang benar sebagai presiden.
Sampai protokol yang kasih tahu.
Di tengah situasi sekacau itu Wiranto datang menemui Habibie dengan laporan yang sangat serius.
Ini isi laporan Wiranto:
Ada gerakan pasukan Kostrat yang bergerak menuju dua titik: Istana dan kawasan Kuningan tempat rumah Habibie berada.
Pangkostrat saat itu: Prabowo Subianto.
Wiranto juga menyampaikan satu hal lagi yang sangat penting: dia memegang Kepres yang memberikan kewenangan bertindak mengamankan situasi kalau keadaan membutuhkan "seperti Supersemar."
Bayangkan momen itu.
Presiden baru yang baru beberapa hari menjabat. Pasukannya sendiri bergerak tanpa perintah.
Dan Pangab datang dengan Kepres yang bisa memberinya kewenangan mirip Supersemar.
Habibie mendengar semua itu.
Diam sebentar.
Lalu menyimpulkan satu hal tentang Wiranto:
"Saya terkesan orang ini jujur."
Dan ini keputusan Habibie:
Tidak ada rapat panjang.
Tidak ada sidang kabinet darurat.
Tidak ada negosiasi.
Habibie memberikan petunjuk langsung kepada Wiranto:
"Sebelum matahari terbenam Pangkostrat diganti.
Dan kepada penggantinya ditugaskan untuk segera mengembalikan semua pasukan Kostrat ke tempatnya masing-masing."
Satu kalimat perintah.
Satu hari. Selesai.
Prabowo dicopot dari Pangkostrat sebelum hari itu habis.
Dan ini pertemuan yang paling mengejutkan setelahnya:
Prabowo tidak terima.
Dia datang langsung ke ruang kerja presiden menemui Habibie.
Habibie sebenarnya bisa menolak.
Tidak ada kewajiban protokol untuk menerima perwira yang baru dicopot tanpa permintaan formal.
Tapi Habibie menerima karena dua alasan pribadi:
Satu — ayah kandung Prabowo adalah Prof. Sumitro Djojohadikusumo yang sejak Habibie SMA sudah jadi idolanya. Keluarga yang sangat dihormatinya secara intelektual.
Dua — Habibie menduga mungkin ada titipan pesan dari ayah mertua Prabowo yaitu Soeharto yang saat itu sudah tidak bisa ditemui langsung.
Tapi yang terjadi di ruangan itu sama sekali tidak seperti yang Habibie perkirakan.
Prabowo menurut cerita Habibie sendiri langsung berkata:
"Anda ini presiden apa? Naif."
Dan ini jawaban Habibie yang menurut gue paling berkarakter dalam seluruh cerita ini:
Tidak marah.
Tidak tersinggung.
Tidak balas dengan ancaman atau kemarahan.
Habibie menjawab santai:
"Masa bodoh.
Yang penting saya presidennya.
Saya yang menentukan finish."
Lalu Habibie menambahkan refleksi yang sangat jujur: banyak orang memandangnya sebelah mata "Habibie kan tukang, bisa buat kapal terbang, mejanya penuh teknologi, tidak ngerti yang lain."
Tapi bagi Habibie justru itu keuntungan.
Karena dia tidak merasa terhina oleh kata-kata itu.
Dan ini yang paling penting untuk dipahami:
Habibie adalah presiden yang legitimasinya paling dipertanyakan dalam sejarah Indonesia.
Naik bukan karena dipilih rakyat.
Naik karena Soeharto mundur.
Banyak yang meremehkannya.
Banyak yang menganggapnya tidak punya otoritas nyata.
Banyak yang berpikir dia hanya boneka transisi yang bisa dikendalikan.
Tapi dalam momen paling krusial itu ketika pasukan bergerak tanpa perintah menuju Istana dan rumahnya sendiri Habibie tidak panik.
Tidak ragu.
Tidak menunggu situasi makin memburuk.
Dia memberi satu perintah.
Sebelum matahari terbenam.
Dan ketika perwira yang dicopot itu datang menyebutnya naif di mukanya langsung dia menjawab dengan ketenangan orang yang tahu persis di mana otoritasnya berdiri.
Yang penting saya presidennya.
Saya menentukan finish.
Habibie mencopot Prabowo
bukan karena dendam pribadi.
Bukan karena politik.
Tapi karena ada gerakan pasukan yang tidak sesuai struktur komando bergerak menuju Istana dan rumah presiden tanpa perintah resmi.
Dan dalam sistem militer manapun di dunia itu bukan sesuatu yang bisa dibiarkan.
Tidak peduli siapa yang memimpin gerakan itu.
Tidak peduli seberapa dekat hubungan personalnya dengan presiden.
Habibie mungkin dianggap naif oleh banyak orang.
Tapi orang yang dianggap naif itu dalam satu hari mengambil keputusan militer yang mungkin menyelamatkan Indonesia dari skenario yang jauh lebih buruk dari yang benar-benar terjadi.
Dan 27 tahun kemudian perwira yang dicopot itu menjadi presiden.
Sementara yang mencopot sudah lama berpulang dan dikenang sebagai salah satu tokoh paling bersih dalam sejarah republik ini.
Sejarah punya cara tersendiri untuk menjawab siapa yang naif dan siapa yang tidak.
Instead of watching an hour of Netflix, watch this 2 hour hour Stanford lecture will teach you more about how LLMs like ChatGPT and Claude are built than most people working at top AI companies learn in their entire careers.
Gw tuh kurang nyaman sama orang yang dikit-dikit networking, dikit-dikit networking alias kalo ketemu orang harus ada dampak ke kerjaan/finansial.
Santai aja bro. Banyakin berteman, belajar ngobrol santai tanpa agenda.
Kerjaan akan datang kok ketika you emang punya skill yang mumpuni dan santuy bergaul.
banyak sekali miskonsepsi akan alumni LPDP, seakan akan lulusan S2 atau bahkan S3 UK/US/ manapun itu manusia sakti yang bisa berkontribusi “langsung” kepada bangsa.
Dalam dunia akademik, overwhelming majority of lulusan PhD itu hanyalah seorang bayi yang masih menyusu; belum pernah membuktikan diri sebagai periset independen. They are nobody without the incubator. “Pulanglah, berbakti bangun negeri” - by doing what exactly?? An experimental physicist cant work without a synchrotron; NMR etc.
Perlu dimengerti bahwa standard global research is extremely high; Indonesian institutions must compete with groups that have multiple postdoctoral experiences from all around the world. Most Indonesian researchers even in ITB/UI/UGM never even secured a postdoc positions! they came back straightaway after PhD!
Mereka adalah korban romantisasi kebijakan dan narasi emosional; seakan akan negara itu seorang Ibu yang sekarat menjual seluruh hartanya untuk membiayai anak yang durhaka.
this “Ratu Adil” syndrome/narrative membuat kita benci akan sesama, curiga akan mereka yang mendapat kesempatan untuk mengkultivasi dirinya.
Sejak kapan kita menjadi bangsa yang penuh dendam akan sesama?
To those who get the opportunity to be sent abroad - help if you can; or otherwise, SHUT UP! - you’re nobody yet.
My boyfriend noticed I’d been quiet for a few days and didn’t pressure me to explain. He just started doing small things. He charged my phone when it was low. Filled my water bottle before bed. Sent me “I’m here” texts instead of “what’s wrong” texts. One night, I finally broke down and told him everything I’d been holding in, and he didn’t interrupt me once. He didn’t try to fix it. He didn’t make it about himself. He just held my hand and listened.
A week later, nothing had changed between us. He didn’t treat me like I was fragile. He didn’t bring it up to use against me. He just loved me the same, steady and normal.
That’s when I realized real love isn’t loud. It’s safe. It doesn’t rush you. It doesn’t punish you for being human. It stays.
Liat sejumlah konten berdoa yang doanya minta mobil, branded bags dll.
Mungkin demi konten, mungkin lucu-lucuan aja.
Tapi in the spirit of Ramadan, let me remind you: Jangan meminta pada Allah hal-hal kecil.
Mintalah perubahan besar. Perbaikan karakter, peningkatan kualitas hidup, kemampuan sedekah sepanjang usia, keselamatan dunia akhirat -- misalnya.
Ramadan adalah bulan besar yang too powerful for a casual du'a.
Gw tuh baru tau ada "trend" provide pacar 😅.
Gw punya anak perempuan, gw bayarin dari sekolah, life style, branded bags, liburan, fancy restos dll. Insya Allah ga pernah diajarkan minta-minta ke pacar, hanya boleh minta ke ortu.
Kalo amit-amit ga punya duit? ya belajar cukupkan apa yang ada, nabung, kerja, magang. Bukan cari pacar untuk menutup kekurangan finansial.
Ngga minta ke pacar ini bukan gegayaan, ini tentang struktur nilai.
Anak perempuan (dan laki-laki) perlu tumbuh dengan rasa cukup, harga diri, dan kemandirian. Supaya ntar pas milih pasangan, pilihannya datang dari posisi setara, bukan dari kebutuhan, apalagi ketergantungan.
Karena hubungan yang sehat itu dibangun dari dua orang yang berdiri utuh. Bukan dari satu menopang, dan satu bergantung.
Dan menurut gw, ini bekal penting untuk hidup jangka panjang.
"Gimana kalo udah mau nikah?"
Kalo konteksnya mau menikah, ya beda cerita. Yang saya bahas adalah situasi baru pacaran, atau malah sebelum pacaran udah punya ide ntar pacar harus membiayai ini itu.
"Gimana kalo dikasi, si perempuan ga minta?"
Pacar kalo ngasi berlebihan (meski ga diminta) -- saya akan suruh balikin dan akan saya tegur pacarnya. Tidak boleh berlebihan selama pacaran. Ngga boleh ada salah satu pihak yang dibuat merasa "berhutang" "sungkan". Semua harus setara power-nya.
Kalau dari awal sudah terbiasa diberi, nanti akan sulit membedakan mana cinta, mana transaksi.
Postingan di bawah bukan cuma misoginis tapi juga secara intelektual malas, simplistik, dan ngaco secara sosiologis.
1. Perempuan direduksi jadi “nilai estetika” Seolah aset utama perempuan = wajah, aset utama laki-laki = uang
Ini logika pasar abad 19.
Padahal realitas hari ini justru kebalikannya, istri/pasangan billionaire banyak yang bukan standar cantik populer, tapi:
-extremely intelligent
-strategic
-socially compatible
-high emotional & cultural capital
Beauty fades. Compatibility compounds.
2. Narasi postingan di bawah menghina dua pihak sekaligus
Perempuan diremehkan nilainya → “kalau nggak cantik, turunkan kelas”
Laki-laki tidak kaya diposisikan sebagai consolation prize (“they also deserve love” -- buset ini sih condescending banget)
Ini classist + sexist.
3. Yang paling bermasalah: mengajarkan perempuan untuk mengecilkan diri.
Pesan tersiratnya: “Kenali kelasmu. Jangan bermimpi terlalu tinggi"
Padahal dalam dunia nyata: banyak perempuan yang secara tampilan “biasa” menikah dengan laki-laki sangat kaya karena:
kecerdasan
karakter
network
visi hidup
emotional stability
cultural compatibility
Dan banyak perempuan super cantik justru ditinggal, diselingkuhi, atau jadi trophy wife saja.
Ga semua dokter itu cerdas. Ini salah satunya. Tanpa disadari dia telah membuka aib junjungannya. Akhirnya pada rame searching apa itu PTOSIS. Batal cair?
Kalau ada orang yang gak kesel dan atau cemas atas bagaimana negara ini diurus saat ini, kemungkinannya:
🧠 Otaknya nggak nyampe
🖤 Hatinya nggak nyampe
💰 Diuntungkan secara politik & ekonomi
(bisa jadi kombinasi)
Bare minimum yg pemerintah kita gak bs buat ngingetin warga mengenai dampak street-feeding stray cats, not always keeping pet cats indoor & pentingnya sterilisasi.
Masalah kemanusiaan aja masih nol besar, apalagi ini yg dianggapnya sepele pdhl kl dibiarin bs jd bencana jg lama2.