Meski begitu ... meski berkali-kali dihadapkan dengan ketidakmungkinan yang diberikannya, kenapa sulit sekali menahan gemuruh di dada yang muncul setiap melihatnya?
"Kalau begitu selamat malam Tuan Henri, jangan terlalu memaksakan diri ya?"
[@liilachaze]
@liilachaze Balasan yang diberikan dari gumaman yang kukeluarkan tanpa sadar membuatku serasa kembali dihadapkan dengan tembok besar tak kasat mata yang diberikannya.
"Ahaha ... uhmโmaaf juga karena telah menganggu malam-malam. Esok hari aku akan membantu hal lainnya juga sebisaku."
-
Kalau ada kaca kurasa aku dapat membayangkan kedua mataku terlihat berbinar. Habisnya rentetan kalimat dengan beberapa bahasa lain tersebut terlihat sangat rapih.
"Bisa-bisanya seseorang terlihat sangat pintar seperti ini ...." Gumamku tanpa sadar.
[@liilachaze]
Namun juga merupakan suatu kebohongan kalau dikatakan aku memang ingin kembali dan menyudahi obrolan malam ini.
Menarik nafas perlahan, pintu pun kuketuk sebelum menarik kenopnya. Tanpa sadar melihat ke arah buku yang sedang ditulisnya membuatku terdiam kagum, "Wah ...."
-
Namun karena ia menerima tawaran yang kuberikan, rasanya jadi tidak terlalu pahit.
"Tidak masalah kok! Aku harap aku bisa membantu sedikit walau hanya sebatas seperti ini, kalau begitu tunggu sebentar ya!" Ucapku sebelum segera meninggalkan ruangan.
[@liilachaze]
@liilachaze "Ah ...."
Rasanya sedikit seperti orang bodoh, habisnya ... apa yang kuharapkan sebenarnya? Sampai-sampai menjadi gugup dan berdebar seperti itu? Mungkin pujian seperti itu tidak berarti apa-apa baginya.
Padahal batas yang dibuat seperti ini juga sudah menjelaskan semuanya.
-
"A-ah! Bukan berarti biasanya tidak sih, tapi sepertinya karena kelihatan santai, jadi ... lebih ...."
Merasa akan semakin melantur, aku memilih untuk berdeham sejenak. Astaga, kenapa pipi ini terasa kembali memanas?!
-
"Kalau dikatakan seperti itu, bukankah lebih sulit untuk Tuan Henri? Karena aku tidak bisa selalu datang, jadi tuan pasti kerepotan bukan ...?"
[@liilachaze]
Rasanya jadi ingin merutuki diri sendiri, berhentilah gugup! Lagipula gemuruh di dada ini ... tidak berarti banyak bukan?
"Ekhem! Maksudkuโsebenarnya karena sekali dua kali aku juga bertemu dengan pasien anak-anak, jadi anggap saja ini juga merupakan latihan untukku"
-
Memanggil nama sang tuan sejenak, jawaban yang diberikannya seketika membuatku kembali gugup.
"Ituโum ... belum tidur? Kalau tidur terlalu larut juga tidak baik 'kan? Apa ada yang bisa kubantu ...?"
[@liilachaze]
Terlebih aku hayalah seorang tamu yang menginapโmengingat hal tersebut, segalanya semakin terasa tidak sopan.
Berpikir sejenak, namun akhirnya aku menark nafas dalam-dalam. Tetap pada keputusanku untuk mengetuk pintu kamar di hadapanku.
-
@liilachaze Lisa melangkahkan kakinya kembali pada gereja, sebelum membalikkan tubuhnya sejenak dan menambahkan penutup.
"Sampai bertemu besok!"
- End Plot.
@liilachaze Entah kenapa sekilas ada rasa antusias di dadanya. Mungkin karena selain sang teman dan para anggota gereja ini, ia belum memiliki teman lain dari negara ini? Yang pasti, ia berharap takdir membawanya pada hal yang baik.
"Selamat malam juga, ๐๐ช๐จ๐ฏ๐ฐ๐ณ๐ฆ."
-