Sebagai fans Manchester United, gue jujur cukup iri sama Barcelona dengan La Masia mereka.
Lo liat aja skuad Spanyol di Piala Dunia 2026.
Lamine Yamal.
Pau Cubarsí.
Dani Olmo.
Marc Cucurella.
Empat pemain itu dibentuk di akademi Barcelona, dan semuanya menjadi starter penting bagi Spanyol dalam perjalanan mereka menjadi juara dunia.
Belum lagi ngomongin Gavi yang juga lulusan La Masia. Di 2010, tulang punggung skuad juara Spanyol juga banyak yang merupakan hasil didikan La Masia:
Puyol, Pique, Busquets, Xavi, Iniesta, Pedro, Fabregas.
Dan sekarang, 16 tahun kemudian, La Masia kembali jadi bagian penting dari generasi Spanyol yang memenangkan Piala Dunia.
Kadang heran gimana Barcelona bisa produce pemain-pemain bagus untuk jadi tulang punggung sebuah negara juara Piala Dunia. Jujur, ada iri-irinya dikit. Kadang gue bertanya-tanya juga, La Masia ini punya secret recipe apa ya dalam ngegembleng anak-anaknya?
Apa mereka punya metode dan cara mendidik yang berbeda kah dari akademi lain? Karena gimana ceritanya bisa konsisten melahirkan talenta semacam ini dari generasi ke generasi?
#FeelEveryGoal | @toshibatv_id
Yes, those photos you’ve seen are real.
More than 18 years ago, a baby named Lamine Yamal and his mom Sheila met Lionel Messi at a UNICEF fundraising photoshoot.
Today, their achievements on the pitch inspire millions. Off the pitch, both Messi and Lamine Yamal use their voices and platforms as UNICEF Goodwill Ambassadors to support and advocate for children around the world.
The goal? That every child survives, thrives, and fulfils their potential.
We are proud to have them on our team.
Credit: Joan Monfort
Argentina tidak pernah menghadapi lawan yang dinilai lawan ideal dan punya peringkat lebih bagus di atas kertas di fase knockout.
Rinciannya:
32 besar: Uruguay, tapi jadi lawan Cape Verde.
16 besar: Iran/Turki tapi jadi Mesir/Australia dan akhirnya Mesir.
QF: Portugal. Portugal kalah saing dengan Kolombia. Disangka bakal ketemu Kolombia yang peringkatnya lebih bagus dibanding Swiss, eh ternyata malah Swiss.
SF: Kalo lolos semifinal, di atas kertas Argentina bakal ketemu Inggris, tapi kalo sampai jumpa Norwegia, berarti pola ini berlanjut.
Jadi selalu ada kejutan di calon lawan pada perjalanan Argentina di Piala Dunia 2026 sejauh ini.
Tapi itu semua jelas bukan salah Argentina.
Ballon d’Or
2012: Messi 4-1 Cristiano
2017: Messi 5-5 Cristiano
Tapi di 2017, Cristiano benar-benar dianggap telah melampaui Messi dengan Gelar Euro di tangannya. Ditambah Nation League lagi di 2019. Messi bahkan jadi objek yang dianggap pecundang terlebih setelah pensiun pasca-frustrasi kegagalan Copa America Centenario.
Orang sudah berpikir Messi tidak punya takdir untuk timnasnya.
Sampai akhirnya tahun 2021, Messi akhirnya memenangkan Copa America pertamanya. Ditambah di tahun 2022, Piala Dunia dimenangkan dan di panggung yang sama menjadi inaugurasi untuk Messi sebagai GOAT.
Tapi terlepas dari apapun, Ronaldo adalah pemain yang paling dekat dengan Messi dari segi pencapaian. Satu-satunya pemain yang sempat bisa mempecundangi Messi, sebelum akhirnya Sang GOAT melaju jauh sendirian.
2008-2017. 10 tahun mereka peak. 10 tahun kita menonton dua anomali di sepakbola pada puncaknya. Angka-angka mereka itu ga masuk akal. Gol dan assist yang selalu lebih banyak dari jumlah pertandingannya.
Football greatness🐐🐐