mau mengabari kalau zine pertamaku (dan so far baru satu2nya) akan dijual di Yogyakarta Art Book Fair! Bisa ditemukan di booth Zine Zan Zun (D4) dari tanggal 8-10 Mei yaaa🍕⭐️❤️ harganya 💰30K :3
when God puts me in strange and terrifying situations, I see myself as a cat going to the vet. it’s good for me somehow, I say, or else someone who loves me wouldn’t have taken me there
Haloooo!
Karena Slow Tea Bar di Teras Rayu bulan April ini trafficnya kenceng, aku jadi ada ruang untuk giving back to community dalam bentuk zine kecil bernama SAESTU.
SAESTU kurencanakan bulanan. Berisi ulasan tentang 2 makanan. 1 bersifat apresiatif ke kreasi kuliner yang UMKM buat. 1 sifatnya lebih bernuansa kritik karena aku menilai di Surabaya hampir tidak ada tulisan kritik kuliner.
Aku cetak 25 eksemplar untuk bulan Mei ini.
25 eksemplar yang bisa kamu dapatkan secara gratis jika kamu 25 pelanggan pertama di Slow Tea Bar Teras Rayu.
SAESTU tidak aku publikasikan secara daring, jadi siapa cepat dia dapat!
Let's not try to change our food names into descriptive words for English, okay?
If they can make us struggling to spell "baguette" "croissant" or "hors d'oeuvres", then sure, let them struggling to call it "rawon".
sbg jawir w mau mengucap ALHAMDULILLAH.
please CUKUP udah berdekade budaya kami dipake latar horror sampe anak muda jawanya sendiri dikit2 nganggep budayanya mistis.
krungu gamelan dikiro demit, nembang dikiro mantra, ndue keris dikiro pesugihan. ndlogok! bosen. muak.
MYTH-BASED HORROR?? TOMOHON?! NORTH SULAWESI? War is over. Finally the non-Javanese and non-Islamic chic horror representation. Salfok sama judulnya. Is it “songko” as in “peci” kah?