Diriwayatkan oleh seorang sahabat Pak Jokowi, Bahlil Al Hibiki:
"Barang siapa yang masuk itu barang, dia akan mendapatkan malam Lailatul Golkar, yaitu malam seribu jabatan."
Kalo ngeliat bagaimana ZAKAT MAAL dibandingin PAJAK, makin menyadarkan betapa luar biasanya Islam.
Pajak mengambil uang rakyatnya dari penghasilan di atas batas tertentu (PTKP), nggak peduli seberapa banyak kebutuhan orang tersebut.
Zakat Maal mengambil uang rakyatnya dari harta (liquid) yang sudah mengendap SETAHUN (haul), dan harus melewati batas tertentu (nishab)! Dari perspektif sendiri, ini sistem yang luar biasa adil. Kenapa?
Secara logika, jika kekayaan sudah melewati batas tertentu, berarti orang tersebut sudah cukup aman seandainya sebagiannya harus diberikan ke orang lain. Ditambah lagi kekayaan tersebut sudah mengendap lewat dari setahun, artinya memang itu uang dingin yang tidak terpakai.
Bandingkan dengan pajak. Bisa saja ada orang dengan penghasilan sedikit di atas PTKP, tapi sebenernya dia butuh SEMUA uang tersebut utk hidup (apapun kebutuhannya). Pantaskah orang seperti ini diwajibkan membayar pajak?
Akhirul kata, hanya ingin berbagi hadits saja.
“Sesungguhnya pelaku/pemungut pajak (diadzab) di neraka” [HR Ahmad 4/109, Abu Dawud kitab Al-Imarah : 7]