Belajarlah tentang tawakal dari Siti Maryam. Ia tidak banyak bicara, tidak sibuk membela diri, dan tidak haus akan pengakuan manusia. Padahal, ia pernah berada di titik paling berat dalam hidupnya: dicela, dituduh, dipandang hina, bahkan ditinggalkan menghadapi ujian yang begitu besar seorang diri.
Bayangkan berada di posisi itu. Menjadi bahan pembicaraan banyak orang, dipandang dengan penuh curiga, dan dihakimi tanpa diberi kesempatan untuk menjelaskan. Sungguh, itu adalah ujian yang mungkin membuat kebanyakan dari kita merasa hancur.
Menurutku, orang-orang yang nggak punya circle pertemanan khusus, sering ke mana-mana sendirian, tapi tetap hangat dan nyambung di berbagai lingkungan, biasanya adalah orang yang hidupnya sudah secure.
Mereka nggak tergantung pada satu geng atau kelompok buat merasa cukup. Bisa makan sendiri, nonton sendiri, jalan sendiri tanpa merasa rendah diri. Tapi tetap ramah, tetap terbuka, dan tetap bisa bergaul dengan siapa saja tanpa kehilangan diri sendiri.
Cara Tuhan membuka siapa sebenarnya seseorang itu memang selalu tepat waktu. Bukan terlalu cepat, bukan juga terlambat. Kadang kita sudah curiga, tapi belum punya bukti. Kadang kita terlalu percaya, sampai tidak kepikiran untuk mencari tahu lebih jauh. Lalu tanpa kita minta, tanpa kita rencanakan, situasi berjalan dengan sendirinya dan kebenaran muncul.
Biasanya bukan lewat satu kejadian besar. Tapi lewat hal-hal kecil yang berulang. Sikap yang mulai berubah. Janji yang tidak ditepati. Cerita yang tidak konsisten. Atau justru dari cara dia memperlakukan orang lain saat sedang tidak ada kepentingan. Dari situ kita mulai sadar, oh… ternyata selama ini ada sisi yang tidak kita lihat.
Ada tipe orang yang kelihatannya biasa aja di sosial media. Jarang update. Nggak pernah share lokasi. Nggak pernah pamer lagi nongkrong di mana. Bahkan kadang orang mikir, “ini orang kemana sih hidupnya?”
Padahal dia tetap jalan. Tetap keluar. Tetap punya rutinitas, punya kesibukan, punya tempat favorit, punya circle. Cuma dia nggak merasa itu perlu diumumkan.
Doa memohon kesembuhan penyakit,
اَنِّيْ مَسَّنِيَ الضُّرُّ وَاَ نْتَ اَرْحَمُ الرّٰحِمِيْنَ
(Annii massaniyadh dhurru wa anta arhamur raahimiin)
Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit, padahal Engkau Tuhan Yang Maha Penyayang dari semua yang penyayang.
Rasulullah Shɑllɑllɑhu 'Alɑihi Wɑ Sɑllɑm bersɑbdɑ,
Perumpamaan teman yang baik dan teman yang buruk ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi.
Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi, atau engkau bisa membeli minyak wangi darinya,
Doa ini diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada Abu Bakr Ash Shiddiq radhiyallahu ‘anhu untuk dibaca pada pagi, petang dan saat beranjak tidur. (Dibaca 3x)
Naim danial one said :
Berlarilah kemana pun jika kau milikku ,Kau tetap milikku.
Allah :
Sesuatu yang ditakdirkan untukmu tidak akan pernah menjadi orang lain
قال سيدنا الشيخ
معروف الكرخي
رحمه الله تعالى
توكل على الله
حتى يكون جليسك
و أنيسك وموضع شكواك..
Serahkan dirimu kepada allah sampai allah menjadi teman dudukmu, yang memberi kebahagiaan mu dan tempatmu curhat.
-Syekh makruf al karkhi ra
"Aku memaafkan. Aku melupakan supaya aku tersenyum. Aku diam karena aku tak ingin berdebat. Aku sabar karena keyakinanku kepada Allah tanpa batas."
Ibnu Arabi
*كم سأكون سعيدا ومتأثرا إذا تبين أن أحد الأشخاص الذين أذكرهم دائما في صلواتي هو شخص يحميه الله وقدره لي الله*
*Bakal senang dan seterharu apa aku nanti kalo seseorang yang selalu ku sebut-sebut dalam doa itu ternyata memang Allah jaga dan Allah takdirkan untukku*
.
قُلْ لِنَفْسِك أَربَعَة أَشيَاء كُلّ يَوْم؛ أَنَا نَاجح، يُمَكّننِي فِعلهَا، اللّه دَائِمًا مَعِي، اليَوْم هُوَ يَوْمِي.
Katakan pada dirimu empat hal setiap harinya; aku bisa sukses, aku pasti bisa melakukannya,
Allah selalu bersamaku, hari ini adalah hariku.
بِالنِّهَايَةِ، لَا شَيْءَ يُطْمِئِنُّ ٱلْقَلْبَ فِي وَسَطِ كَثْرَةِ ٱلْمَشَاكِلِ إِلَّا ٱلصَّلَاةُ
Pada akhirnya, tidak ada yang menenangkan hati di tengah banyaknya masalah selain shalat
Jadilah orang yang shaleh, karena orang-orang yang shaleh akan bahagia di dunia dan di akherat.
Dan jadilah orang yang benar, jangan menjadi orang yang pintar.
Karena orang yang pintar belum tentu benar, tetapi orang yang benar sudah pasti pintar.
لَيْسَ هُنَاكَ خَطِيْئةٌ أَكْبَرَ مِنْ خِدَاعِ مَنْ يَثِقُ بِكَ
Tidak ada kesalahan yang paling besar daripada menipu orang yang telah menaruh kepercayaan kepada mu .
Habib Alwi bin Ali Al Habsyi