Pak guru Iman, Kepala Advokasi Guru, tahan tangis di MK saat nyampein dampak buruk MBG pada guru & bandingkan gaji guru dgn petugas SPPG
"setelah ada MBG, terjadi PHK massal terhadap guru honorer & PPPK"
"di Langkat ada guru honorer di gaji 500rb/bulan, di Sumedang 50rb" ๐ฅน
Berhubung saya sekarang udah dicap sebagai si paling jurnal, izin berbagi cara "sederhana" untuk membaca jurnal ilmiah. Skill ini sebenarnya penting, tapi sangat jarang diajarkan, bahkan semasa S1, apalagi dengan adanya AI sekarang yang bisa dengan mudah membuat summary-nya agar mudah dipahami.
Kebetulan ada satu paper menarik yang menjelaskan itu dengan membaginya menjadi 3 tahap, agar lebih mudah.
Yuk kita bahas!
1. ๐ง๐ต๐ฒ ๐๐ถ๐ฟ๐๐ ๐ฃ๐ฎ๐๐
Dalam 5-10 menit, lakukan hal ini:
-Baca cepat judul, abstrak, dan pendahuluan,
-Baca sub judul
-Baca kesimpulan dan referensi
Niatkan fase pertama untuk menjawab 5C (Category, Context, Correctness, Contributions, Clarity).
Setelah melalui fase ini, kalian bisa memutuskan apakah jurnal ini menarik atau apakah kalian bisa membaca ini dengan baik. Karena untuk membaca jurnal ilmiah dibutuhkan ekspertise tertentu.
Tentunya saya yang backgroundnya medis, akan kesulitan membaca jurnal ekonomi atau mengenai mesin pesawat.
2. ๐ง๐ต๐ฒ ๐ฆ๐ฒ๐ฐ๐ผ๐ป๐ฑ ๐ฃ๐ฎ๐๐
Dalam 1 jam, lakukan hal ini:
-Perhatikan gambar, diagram, atau ilustrasi lainnya, terutama grafik. Perhatikan apakah memang hasilnya valid atau "dibuat-buat".
Setelah fase ini, harusnya kita sudah bisa menangkap isi dari jurnalnya, serta mampu membuat summary dari jurnalnya untuk diceritakan ke orang lain.
Bila kalian membaca jurnal yang BUKAN ekpertise kalian, maka membaca sampai second pass itu sudah bagus banget.
3. ๐ง๐ต๐ฒ ๐ง๐ต๐ถ๐ฟ๐ฑ ๐ฃ๐ฎ๐๐
Fase ini terutama ditujukan bila kalian adalah reviewer dari jurnalnya, yang artinya mencapai fase ini tidak selalu dibutuhkan. Pada fase ini kita harus mengidentifikasi dan challenge asumsi pada setiap statement penelitian ini. Bahkan kita harus mempertanyakan apakah argumen dan hasilnya valid, apakah bukti ilmiahnya sudah cukup atau belum untuk support kesimpulannya.
Jujur, saya baru belajar fase 3 ini saat pendidikan S3, karena benar-benar dilatih untuk melakukan review pada studi ilmiah yang belum dipublikasikan.
๐๐ธ๐ต๐ถ๐ฟ ๐๐ฎ๐๐ฎ
Ini adalah tahapan yang sangat disederhanakan dan mungkin sangat berbeda antar bidang ilmiah.
Semoga bermanfaat!
Sumber:
Keshav. How to Read a Paper.
Ketua BEM UI Yatalathof Maโshum Imawan menyampaikan beberapa poin tuntutan dalam aksi #Indonesiamenujubangkrut pada Jumat (12/6/2026) di Bundaran HI, Jakarta.
Setidaknya ada 5 tuntutan, yaitu menyetop pemborosan APBN; turunkan harga kebutuhan pokok dan BBM; menghentikan program MBG dan pembangunan Koperasi Desa Merah Putih; hentikan militerisme di ranah sipil; dan agar Prabowo berhenti mengelak dan akui kesalahan pemerintah.
| Narasi Daily
Dapat surat cinta dari Komdigi?
SAFEnet dan REMOTIVI mengajak publik untuk mendokumentasi bersama pelanggaran kebebasan berekspresi yang terjadi di media sosial berupa peringatan dari platform ataupun takedown konten secara langsung.
Yuk, turut lapor dan dokumentasikan notifikasi tersebut melalui https://t.co/75xLJIfv3r.
Dari BEM UI:
Halo, UI dan Indonesia!
Ekonomi makin terpuruk. Rupiah ambruk, harga kebutuhan melambung, lapangan kerja hilang, utang negara membengkak, sementara rakyat makin menderita.
Pemerintah terlalu sibuk memperkuat kekuasaan dan melindungi oligarki hingga lupa, atau memang tidak peduli terhadap penderitaan rakyat kecil.
Sekarang saatnya bersuara!
* Saya tautkan link video-nya setelah post ini jika ingin menyebarkannya
[FOR INTERNATIONAL MOOTS]
Currently there is a demonstration by students and people in Indonesia, condemning our gov and the chaos that is currently happening in our country. If you see one news about it, PLEASE help retweeting it -
Demo di Bundaran HI ini unik, karena biasanya demo ke lembaga pemerintahan tertentu
Tapi bundaran HI itu sumber traffic: masyarakt dan sosial media
peluang media ngeliput naik
peluang sosmed divideoin orang juga naik
orang aware-> tujuan demo terpenuhi dengan cara baru
tim puasa saat nonton โ๐ผ
awalnya bete, tapi akhirnya terbiasa, malah lebih fokus nonton
kalo mau sambil ngemil, makan berat, pesan martabak, dll bisa netplikan aja di rumah.
Gw termasuk yang selalu ngerasa ada yang aneh tiap masuk bioskop. Air putih botolan yang di Indomaret cuma 3 ribuan, di bioskop dijual 22 ribu. Mana tumbler juga dilarang masuk.
Gw selama ini mikir itu cuma "template bioskop" karena kebanyakan gitu. Ternyata pas gw bongkar lapkeu XXI, ini bukan sekedar iseng, tapi hasil desain yang strategis.
Sepanjang 2025, XXI (kode saham CNMA) cetak pendapatan sekitar Rp5,86 triliun. Dari situ, tiket nyumbang Rp3,6 triliun, dan makanan-minuman Rp2 triliun.
Coba resapi. Dari lima koma sekian triliun, dua triliunnya dari popcorn, soda, sama air botolan tadi.
Pasti ada yang nanya: kenapa nggak naikin harga tiket aja kalau mau cuan? Kenapa harus lewat snack?
Jawabannya ada di satu hal yang jarang dipikirin penonton. Tiket bioskop itu bukan sepenuhnya punya bioskop. Di model global, studio film ngambil potongan gede dari penjualan tiket, apalagi di minggu-minggu awal rilis. Angkanya bisa 60-70% lari ke studio (ini pola di pasar US, gw belum nemu rincian kontrak XXI yang dipublish).
Jadi dari tiket Rp50 ribu, yang nyangkut di kantong bioskop tipis.
Nah, makanan dan minuman beda cerita. Itu 100% punya bioskop, nggak dibagi ke siapa pun.
Dan marginnya brutal. Di chain gede kayak AMC sama Cinemark, margin F&B tembus 80 persenan. Popcorn yang modal bikinnya recehan bisa dijual dengan markup ratusan persen.
Ini namanya model "razor and blades". Sama kayak Xbox yang dijual rugi biar lo beli gamenya. Atau printer murah tapi tintanya mahal selangit.
Tiket itu umpan. Yang lo bayar pas haus dan laper di dalem, itu mesin duitnya.
Terus kenapa tumbler dilarang? Gw mau cerita sesuatu dulu.
April kemarin, XXI ngebolehin tumbler masuk. Dibungkus jadi kampanye lingkungan, "Save the Planet". Mereka bahkan klaim udah bantu ngurangin lebih dari 20 ribu kemasan plastik. Tanggal 6 Juni kemarin, kampanyenya kelar. Larangan balik lagi. Sehari kemudian, tweet kak @americhanoo_ viral.
Detik ketika lo masuk bioskop itu otomatis jadi captive audience. Nggak ada Indomaret di bioskop, nggak ada warung. Cuma ada satu penjual, dan dia yang nentuin harga. Air 22 ribu jadi masuk akal buat mereka, bukan buat lu.
Yang bikin gw mikir, ini nggak murni soal serakah.
Ada riset ekonomi yang nyimpulin snack mahal justru bikin harga tiket bisa ditahan murah. Yang nyubsidi tiket murah lo ya orang-orang yang jajan popcorn. Penonton dibelah dua: yang cuma nonton, sama yang nonton plus jajan.
Dan di Indonesia, XXI punya posisi industri bioskop yang bikin model ini makin kuat. Pas IPO 2023 mereka punya sekitar 225 bioskop, jauh di atas CGV (71) sama Cinepolis (60). Akhir 2025 udah 267 bioskop dan 1.388 layar.
Kalau satu pemain nguasain mayoritas layar, daya tawar lo sebagai penonton makin kecil. Istilahnya yak, terima aja lah kenyatannya gini hehe.
Jadi pas lo kesel liat air 22 ribu, perasaan diperes lo itu nggak salah. Lo emang lagi bayarin separuh ekosistem bioskop dari satu botol air.
Tapi yang lebih nyangkut di kepala gw: kalau snack mahal itu yang nahan tiket tetap murah, lo rela tiket naik asal boleh bawa tumbler sendiri? Atau biarin aja kayak sekarang?
Our president, leader of the Republic of Indonesia, watches the poor eat their meal.
He does the watching from a lavish setting, his own plate stacked with expensive food.
Poverty as an evening's entertainment.
Berhentilah mengatakan "MOHON IZIN" apalagi di tambah embel2 "SIAP SALAH". Jangan meniru bahasa militer.
Ketika anak2 didik saya mengatakan demikian meskipun sekedar becanda, saya menegaskan "KAMU TIDAK SALAH" apalagi ketika konsultasi.
Saya prefer mengajarkan mahasiswa2 saya diganti dengan kata "BAIKLAH/BAIK'
Ngomong-ngomong, mohon izin, sudah pada ngopi belum? :)
Dua tulisan โbeda bangetโ ini atas bawah di satu halaman :)
Aku seneng baca debat gini karena medium tulisan = mikir, bukan hanya modal pokoknya :)
Buat teman-teman yg di medsos cakap menulis, punya perspektif kritis, coba deh menulis di media massa.