Secara khusus, saya dan istri berdiskusi soal alasan di balik pertarungan Usopp dan Luffy.
Kondisi Going Merry memang “pemicu”-nya, tapi bukan itu akar masalahnya.
Bagi Usopp, Going Merry adalah manifestasi dirinya. Sesuatu yang dianggap “rusak” tapi tetap ingin dipertahankan.
“Kalau Merry yang rusak saja dibuang… apakah suatu saat aku juga akan dibuang?” Itu mungkin pertanyaan yang menghantui Usopp
Saya pun melihat konflik ini dari trauma Usopp di masa kecil. Saat ibunya tengah berjuang melawan sakit, tidak ada yang menemani kecuali anaknya, Usopp.
Begitu pun kondisi Merry yang terlihat “sakit” dan ditinggalkan begitu saja, sendirian. Usopp tak ingin itu terjadi, untuk kedua kalinya. Terlebih Going Merry adalah pemberian Kaya, perempuan yang berarti bagi hidup Usopp.
Trauma ini juga mungkin yang membentuk inferiority complex ketika melihat nakama lainnya yang punya peran penting. Usopp menganggap dirinya sering kalah, sering takut, dan merasa paling lemah.
Keputusan menggantikan Going Merry seolah membuktikan mereka yang lemah akan tertinggal dan ditinggalkan.
Di sisi lain… Luffy bukannya tidak punya ikatan emosional dengan Going Merry. Akan tetapi, ia adalah seorang Kapten yang juga memikirkan keselamatan nakamanya.
Mempertahankan Going Merry artinya membahayakan nakama dalam mengarungi lautan Grand Line yang ganas. Mempertahankan Going Merry berpotensi memupus mimpinya dan juga nakamanya.
Keputusan rasional Luffy sebagai pemimpin itu bertabrakan dengan luka emosional Usopp. Di titik ini, Usopp tahu akan kalah, tapi dia memilih bertarung.
Persis seperti budaya siri, Usopp bertarung untuk menunjukkan harga dirinya: dia tidak ingin pergi sebagai “yang dibuang”, tetapi sebagai orang yang memilih dan memutuskan untuk pergi.
Di titik ini, Usopp sejatinya tengah melawan dirinya sendiri. Luffy memang menang secara fisik, tapi Usopp berhasil mengalahkan dirinya sendiri dan mempertahankan martabatnya.
Terbukti di Enies Lobby Arc, Usopp sebagai Soge King menunjukkan peran dan eksitensinya yang berharga. Inferior Complex-nya mulai terkikis saat bisa menembak jarak jauh di tengah angin kencang. Tembakan yang juga membebaskan Nico Robin dari borgol yang melemahkannya.
Selain itu, Luffy pun menunjukkan sisi emosional bahwa jauh di dalam dirinya, Going Merry adalah nakama yang ingin dipertahankan. Usai berhasl kabur dari Enies Lobby, Luffy benar-benar berharap Going Merry yang terbelah dua itu bisa diselamatkan.
Pada akhirnya, Merry pergi bukan karena gagal atau rusak, tetapi karena ia telah menunaikan seluruh perjalanannya dengan utuh.
Dan mungkin, dalam hidup kita sendiri, ada hal-hal yang juga seperti itu. Ada hal-hal yang datang bukan untuk selamanya. Mereka datang untuk mengajarkan kita arti bertahan dan makna mengikhlaskan.
gak akan pernah lelah mengulang kisah ini:
ada seorang pangeran yang mengidap penyakit melankolik di masa ibnu sina. si pangeran ini tiap hari menangis dan bersedih. dia merasa dirinya berubah jadi seekor sapi. terus, dia selalu bilang: tolong bunuh aku, supaya aku bisa jadi soto yang enak.
ibnu sina datang dan mengikat si pangeran, sambil bawa parang. lalu, beliau bilang: sapi ini terlalu kurus buat disembelih. beri dia makanan yang cukup.
si pangeran sapi ini lalu makan dengan lahap supaya bisa gemuk dan bisa disembelih. bersamaan dengan obat-obatan yang dibuat oleh ibnu sina.
kemudian, saat nutrisinya tercukupi, si pangeran sembuh :)
masalah mental itu gak sama dengan masalah iman. kesehatan jiwa, sama juga dengan kesehatan raga, punya kebutuhannya sendiri-sendiri. adalah betul agama bisa jadi suplemen buat hati, tpi suplemen ya tetap suplemen. dia bukan bahan bakar utama dan juga bukan obat.
psikolog, professional, bisa membantu kita untuk mengidentifikasi masalah utamanya ada di mana. supaya kita bisa tahu apa yang harus kita lakukan.
lalu, praktik agama itu tidak serta merta menentang praktik psikologis. pun begitu juga sebaliknya. keduanya tidak saling bernegasi dan jalan berbarengan.
soal depresi, aku paling suka cerita Maryam. ibu Isa Al Masih. saat tiba-tiba mengandung, Maryam pergi mengasingkan diri. mungkin, siapa yg gk takut? tiba-tiba hamil dan dia harus melahirkan sendirian.
rasa sakit bikin dia suicidal, “mendingan aku mati.” dengar itu, Tuhan gak minta dia untuk ibadah. dia juga gak dimarahi. dia disuruh makan dan minum. ada sungai tiba-tiba di bawahnya dan pohon kurma tempat dia bersandar itu tiba-tiba berbuah. kalau ada orang datang, gak usah bicara. betul-betul disuruh makan sampai puas.
jadi aku pikir, kalau kamu sedih, makan enak dulu coba :)
Unpopular opinion:
Biar adil, jangan cuma istri aja yg ditanya “kapan hamil? Kok belum hamil?”.
Tanya juga lakinya, “kok istrimu blm hamil2? Kamu bisa hamilin gak?”
Bisa aja kecebongnya yang gak satset berenangnya ya kan?
H2H to CARMEN 🥺🥺
JIWOO "rely on me a lot"
YUHA "talk to me when you have concern"
STELLA "I'll be there for you"
JUUN "I'll be a reliable pillar for you"
A-NA "Tell everything if unnie has a hard time"
IAN "keep talking to me comfortably"
YE-ON "talk to me comfortably anytime"
The Corgi was the one leading them home
The German Shepherd was injured
The dogs kept a protective formation around the German Shepherd
The Corgi stopped often to make sure they were still okay
It took them 2 days to get home
They are neighbourhood friends
I’m going to cry😭😭😭
Who bombed Palestine?
- Israel
Who bombed Syria?
- Israel
Who bombed Lebanon?
- Israel
Who bombed Yemen?
- Israel
Who bombed Iraq?
- Israel
Who bombed Qatar?
- Israel
Who is Bombing Iran?
- Israel
Who is terrorist?
- Iran 🤡
DAFTAR COBAAN BULAN PUASA,
Hari 1 : Sahroni menjabat lagi
Hari 2 : Trump puji2 Prabowo
Hari 3 : ((kita tunggu besok))
*Akan kita lalui Ramadan tahun ini dengan banyak sabar dan istighfar dgn rezim ini....semangat ya 🤩🤩
2 tahun lalu yg begini yg diendorse sama influencer2 bajingan sambjl senyam senyum, dipilih oleh mereka yg tolol sambil nangis2, yg akhirnya membuat anak2 keracuna, warga Aceh tak dilirik bantuan dan bergabung bersama zionis.
Bangke kalian
Kalian ga salah dengar. Sebagai presiden yg mewakili seluruh rakyat indonesia Beliau mengatakan “ Indonesia siap mengakui israel & membangun diplomasi di tengah2 isu perang dunia “. tapi rasa empati Saya atas kemanusiaan yg rasanya tercabik-Cabik tanpa bisa sedikitpun komplain.
Hey Indonesians, do you think the Palestinians who are dying by the minute care that “it’s not us, it’s the government”?
Here’s what they know: they believed they had an ally. There’s a hospital called “Indonesian Hospital” in Gaza.
That Indonesia does THIS, BETRAYS them.