❝Doa memberikan kekuatan pada orang yang lemah, membuat orang tidak percaya menjadi percaya dan memberikan keberanian pada orang yang ketakutan.❞
― Aristoteles
HOMO HOMINI LUPUS
Bertahun-tahun bumi ini berlumuran darah sejak ideologi kekuasaan mulai mendominasi manusia. Kebenaran pepatah Romawi "manusia adalah serigala bagi manusia," adalah majas yang tidak pernah sepenuhnya pudar.
Perang internasional, perang saudara, genosida dan terorisme, mewariskan tragedi yang melukai kehidupan banyak manusia, terutama mereka yang lahir sebelum akhir Perang Dingin. Sejak tahun 1900, kekerasan lintas ideologi politik telah menewaskan lebih dari 100 juta orang, yang sebagian besar adalah warga sipil.
Setelah itu, peradaban politik berbasis primordial mulai menggantikan konflik Perang Dingin sebagai titik nyala pertumpahan darah. Samuel Huntington mengingatkan ini 30 tahun silam dalam "Clash of Civilization", bahwa sektor primordial semakin mendominasi arus utama ekspresi politik. Sebuah pilihan yang sengaja dijalankan oleh banyak organisasi politik demi alasan strategis yang membuahkan hasil lebih instan dibanding cara psikologis atau sosial.
Dan hampir semuanya berujung kepada konflik. Sejak kerusuhan etnis di Rwanda, genosida Darfur dan Balkan, kepentingan politik kerap mengalir dalam kekerasan tanpa iba. Pembakaran masjid dan gereja oleh kelompok Hindu garis keras di India, persekusi Ashin Wiratu terhadap suku Rohingya di Myanmar, brutalitas ISIS di Iraq dan Suriah, semakin mempertegas bahwa manusia masih tetap menjadi serigala bagi manusia lainnya.
Intervensi "shifting strategy of global power" semakin menambah runyamnya pertarungan politik di negara-negara berkembang. Negara adidaya bertarung berebut pengaruh dengan meringkus kedamaian suatu kawasan. Setelah itu mereka datang sebagai pahlawan setelah "collateral damage" tercipta. Mereka yang menciptakan, mereka juga yang menyelesaikan. Modus konvensional.
Silang sengketa politik membuat orang "saling tebas" di tingkat bawah, sementara kalangan elit cukup mengakhirinya dengan satu kesepakatan sambil menyantap Wagyu Shodoshima dan tertawa bersama. Rakyat jelata mengawetkan permusuhan politik dengan saling mencaci, di saat para politisi yang tadinya berseteru, sedang bersulang berbagi konsesi.
Itulah ironi. Rakyat jelata rela berdarah-darah demi politik dalam simbiosis yang misterius; siapa yang mereka bela, dan siapa sebenarnya yang membela mereka. Maka, "janganlah terlalu mati-matian membela kepentingan politik seperti membela agama", kata Beta Marashi, "karena Tuhan mematikanmu hanya sekali, tapi politik bisa membunuhmu berkali-kali."
Aku suka dengan malam, malam selalu menepati janji, ia akan berganti shift ketika pagi menyapa. Tanpa perlu memanipulasi keadaan, orang-orang sudah maklum. Namun cangkemu tidak seperti itu, kekasih...😅
Yang mengerikan dari pendidikan adalah jebakan gelar. Seseorang jadi gengsi melakukan pekerjaan yang dia pikir bukan ‘levelnya’. Ia lebih memilih tidak melakukan apa-apa, meski ia sedang butuh bekerja untuk meneruskan hidupnya. Gengsi yang pelan-pelan membunuh diri sendiri.
Dunia memang panggung sandiwara. Tetapi kita
bukan hanya penonton di dalamnya, tetapi juga pemainnya. Hal ini perlu disadari secara seksama. Karena
hanya dengan menjadi aktorlah kehidupan ini layak
dijalani. Ya, hanya dengan menjadi aktor… bukan penonton.
Suasana hati sangat dipengaruhi oleh persepsi, dan persepsi sepenuhnya pilihan bebas kita, maka belajar filsafat, bukan menghafal pendapat ahli, tapi memerdekakan persepsi sendiri,,,
__Psikologi Sufi
Hidup kita dipenuhi kebetulan. Berbagai peristiwa
terjadi tanpa diramalkan. Hal-hal tak terduga memberikan
kejutan. Kita pun bertanya-tanya, apa makna suatu
kejadian?.
(?)