adalah benar. kemarin pas balik dr prambanan banyak yang piknik, ngaso, neduh dan kumpul di rerumputan dan pohon rindang. what a lovely sight... i yearn for this kind of public space... when yh...
"Harusnya bersyukur" "Ngojol aja ketutup tuh" "Harusnya sambil kerja" "Harusnya gausah kuliah dulu..."
Tapi.. semua.. harusnya.. berhak.. kuliah.. tanpa harus kerja.. kuliah yang beneran belajar tanpa pontang-panting kerja.. harusnya kuliah inklusif untuk semuanya..
Delivered by C‑section from her dead mother's body. 23 years old. 'israel' bombed and killed her. Buried them under rubble. The baby girl was named after her. Doctors gave her a 50/50 chance of survival. She died 5 days later and was buried next to her mum.
Check the date.
Alasan tumpang tindih ini sekian kali dipakai untuk menutup rute Transjakarta.
Pusat kota Jakarta malah kehilangan akses-akses direct di saat gembar gembor buka rute ke Jabodetabek 😶 sudah kemarin 2P disunat, 1N dihentikan
Dan datangnya 2 hari lepas Jakarta ulang tahun ahaha what a present
The kindest thing literature does is remind you that your peculiar little feelings have always existed. Someone, in some century, was equally confused by love, bored by society, tired of performing, and hungry for meaning.
Hence why, Islam hadir bagi yang BERPIKIR, bukan bagi yg dituntut percaya.
Islam punya mekanisme penerapan kepengaturan hidup yg kontinu, gak diskret. Gak sesimpel dosa–pahala, perbuatan–sanksi.
Konsekuensi logis kecenderungan manusia itu multifaktorial. Makanya Allah Yang Tahu
pernah ke chocolate monggo tirtodipuran bareng temen. disana nyobain experience minum hot choco pakai kadar persen cocoa yang berbeda. cokelatnya supeer enak. masnya juga detail banget jelasin dan ceritain chocolate monggo ke kami. balik2 langsung pada kenyang 😂
“EMANG GUE PIKIRIN!!”
Sebuah pernyataan paling dongo yg pernah gw dengar dari seorang pemimpin. Gila. Kayak percuma pada demo, kritik, percuma.. kaga dipikirin. 😂
Diagram dari @/abhinavbwj di Instagram ini secara jelas menggambarkan kondisi jalan dengan PKL dan tanpa PKL.
Kedua skenario sama-sama dilengkapi dengan trotoar dan penerangan jalan. Bisa disimpulkan kira-kira mana yang lebih memberi rasa aman, terutama buat perempuan dan di malam hari.
Kita perlu paham bahwa walkability itu bukan cuma ngasih trotoar lebar sekian meter, abis itu selesai dan bisa dikatakan walkable.
Gimana orang mau jalan di sana, merasa aman dan saling mengawasi, akses yang seamless, gimana suasana yang terbentuk di sekitar trotoar, itu semua juga bagian dari walkability.
Sering saya sampaikan:
Punya motor Mio Karbu dua biji, kena pajak progresif. Tapi punya lahan berhektar-hektar, diemin lahan nagnggur di tengah kota, gak ada tuh kena Pajak Progresif
Harusnya pemerintah kasih disinsentif utk lahan yg dianggurin gini. Gak adil rasanya utk warga lain yg bela-belain ke pinggiran utk bisa punya hunian.