Bismillah
Mohon maaf untuk temen online dan dunia nyataku yang perempuan
Mohon maaf aku unfollow
Kalo yang mau unfollow back silahkan gak papa santai aja kita masih temenan kok
Ada yg mengira: ada larangan tidur setelah ashar, haditsnya dhaif, sehingga tahan2 diri tidur ba'da ashar padahal ngantuk berat, sampai agak pusing; di Bulan Ramadhan ini, bisa jadi sempat tidur itu ashar, boleh ya
Suatu siang di IGD. Seorang ibu, sekitar 40 tahun, berlari masuk IGD sambil teriak, “Dok, tolongin suami saya, Dok. Gak sadar di mobil!”
Saya menoleh cepat. “Gus, Wo, ke mobilnya sekarang. La, siapin bed resus.”
Agus dan Bowo lari keluar bawa brankar. Beberapa detik kemudian mereka balik membawa seorang pria bertubuh lemas wajahnya pucat.
Agus raba lehernya. “Dok, gak ada nadi.”
“Bed resus, Gus.”
Brankar meluncur ke bed resus. Saya nengok ke istrinya, “Ibu, kapan bapak gak sadarnya?”
“Barusan, Dok. Di perjalanan barusaan banget!”
Saya mengangguk, lalu naik ke tangga pijakan. Kedua tangan saya nempel di dada trus Mulai RJP.
Saya pompa sambil kasih instruksi, “Bowo bagging, Ella pasang monitor, Agus ambil laringoskop sama ETT.”
Mereka semua berkelabatan. Saya memompa sambil menghitung, satu dua tiga.. trus sampe 30 lalu Bowo memompa nafas 2 kali.. lanjut saya pompa 30 lagi begitu terus sampai 5 siklus.
Saya lihat ke monitor.. masih garis lurus. Saya bertukar tempat. Bowo pompa jantung, saya bagging. Bowo pun berhitung dengan kecepatan tinggi. satu dua tiga..
Sambil bagging saya bertanya, “Gimana ceritanya, Bu?”
“Nyeri dada sejak kemarin siang, Dok. Diajak ke RS gak mau-mau, katanya nanti-nanti melulu.”
“Keringet dingin?” saya tanya.
“Iya, Dok. Segede-gede biji jagung.”
“Ada riwayat apa sebelumnya?”
“Tekanan darah tinggi, Dok, tapi gak pernah kontrol.”
5 siklus lagi. Masing-masing 30 kali pompa jantung, 2 kali napas. Masih tidak ada nadi. Saya gantian lagi mompa jantung.
Sambil lihat wajah bapak, saya terucap “Ayo, Pak. Bertahan.”
Lihat wajah saya serius, ibu mulai teriak-teriak, histeris, manggil suami.
“Maaaas, ayo banguuun, Maaaas. Anak-anak gimanaaaa Maaaas. Banguuuuun.”
Saya coba fokus.
5 siklus pun terlewati lagi. Tapi monitor masih garis lurus. Saya gantian lagi. Sekarang saya mantau monitor, dan Bowo Agus yang RJP.
Ella menghampiri. “Dok, masih inget pasien yang meninggal di ICU minggu lalu, yang sesak napas kita stabilin di IGD?”
Dia sebut nama.
“Oiya, inget.”
“Ibu ini putrinya, Dok.”
Saya menelan ludah.
Ibu makin histeris, menggoyang-goyang kaki suaminya. “Banguuun, Maaaaas. Jangaaaan tinggaliiiin akuuuu, Maaas. Aku gak sangguupp.”
Sepuluh menit RJP berlalu dan tidak ada respons sama sekali. Ella ngasih saya senter, sambil siap print EKG.
Bowo menghentikan pompa jantung.
Saya lalu menyinari bola matanya. Pupilnya sudah melebar maksimal dan tidak ada reflek cahaya sama sekali.
Saya tarik napas dalam, lalu mengucap “Innalillahi wa inna ilaihi rajiun.”
Saya menghadap ibu. “Ibu, saya turut berduka. Bapak udah gak ada.”
Pecah jerit tangisnya.
“Maaasss!”
Lalu ia memeluk suaminya, menggoyang-goyang tubuhnya.
“Jangan pergiiii. Jangan pergiiii.”
Saya melihat Bowo ngasih kode utk membereskan EKG dan monitor. Ella memeluk dan membantu menenangkan ibu.
Lalu Ibu tak sengaja menyentuh sesuatu di kantong kemeja bapak, yang memang tadi saya buka. Di dalamnya ternyata ada sebungkus rokok, sisa 2 batang.
Tiba-tiba ibu mengambil bungkus itu, trus membanting sekencang-kencangnya ke lantai sambil teriak, “Rokok anj*ng! Rokok anj*ng! Aaaahhhhh Rokok anj*ng!” sambil menginjak-nginjak bungkus rokok tersebut
berulang kali.
Sampai akhirnya ia terduduk lemas di lantai, menangis tersedu-sedu. Ella peluk, dan saya usap-usap pundaknya sambil mengucap istigfar berulang-ulang.
Ayahnya masuk dengan diagnosis PPOK eksaserbasi akut yang severe. Paru-parunya rusak sekali. Riwayat perokok berat.
Suaminya, dengan gejala yang diceritakan, kemungkinan serangan jantung. Juga riwayat perokok.
Rokok telah merenggut dua laki-laki terpenting dalam kehidupannya hanya dalam rentang 1 minggu.
Dua laki-laki, cinta pertama dan terakhirnya. Kegetiran dari tangisnya terasa ke hati kita semua di sana.
❣️Toleransi Sebenar❣️
Ada 2 pemuda muslim yg membantu 2 Zuster yg motornya mengalami kerusakan.
Inilah contoh perilaku toleransi yg benar!
BUKAN yg dilakukan oleh sebagian manusia. Misalnya: acara "sholawatan" tapi di dalam gereja!?
Kaidahnya sdh jelas.
Ada di QS Al Kafirun.
▪️Apakah Aparat Boleh Membunuh Orang Demo?▪️
Nasihat dari ustadz Yazid Jawas rahimahullaah, bahwa demonstrasi itu bertentangan dg Islam.
Tetapi, membunuh pendemo yg dilakukan oleh aparat juga dilarang!
Wallaahu a'lam.
#renunganpagi
Doa termasuk sebab yang paling kuat untuk (1) mendapatkan keinginan dan (2) mencegah terjadinya hal-hal yang tidak dikehendaki. Meskipun demikian, terkadang doa tidak memberikan efek apa pun. Hal ini bisa terjadi disebabkan doa itu pada dasarnya memang lemah.
Ini sebagian buku2 yg beliau tulis (belum semua), banyak yg best seller, beliau dapat royalti dari buku tersebut. Itu di antara pemasukan beliau. Rahimahullah rahmatan waasi'atan.