@MiskinTV_ - Juri pertama bilang tidak ada kata pertimbangan di jawaban peserta
- juri kedua bilang masa artikulasi tidak jelas
- MC malah gaslighting peserta menuduh mungkin hanya perasaan peserta sudah menjawab benar.
Ini menggambarkan bagaimana pemerintah Indonesia memperlakukan rakyat
Sistem hak cipta Elsevier, yang dirancang mata-mata Mossad bernama Robert Maxwell 🇮🇱, telah merusak ekosistem ilmiah sebumi.
Bayangkan, tiap publish paper harus bayar pungli.
Berarti, semakin banyak paper yang dipublish, semakin banyak pungli yang disetor ke Elsevier.
Misal, waktu gw disuruh publish 1 paper, gw harus setor uang pungli ke jurnal sebesar Rp 3 juta.
Kalikan uang ini dengan seluruh populasi peneliti, mahasiswa, dan dosen di seluruh universitas di planet bumi, tiap tahun, selama puluhan tahun. Semua uang cash pungli itu masuk ke kantong Elsevier dkk.
Komersialisasi ekstrem, ngawur, dan ugal yang diterapkan sistem kolonialisme jurnal Elsevier ini menghasilkan profit bisnis yang sangat fantastis.
Di Indonesia, yang untung bukan hanya para pemilik modal Elsevier, melainkan juga seluruh antek-antek Zionisnya di akademia Indonesia. Musuh-musuh negara yang jahat ini menyabotase dan mencekik kemajuan IPTEK bangsa Indonesia, karena mereka berliur menginginkan sebagian jatah uang pungli hak cipta jurnal.
Keuntungan fantastis memunculkan insentif fantastis.
Insentif fantastis memunculkan sistem fantastis.
Peneliti dan dosen di seluruh dunia termasuk di Indonesia dipaksa terus-terusan bikin paper oleh Sistem akademia yang jadi fantastis.
Publish or perish.
Akibatnya, sebagian besar paper ilmiah yang dibikin ngawur dan ngasal, bahkan dipalsukan.
Misal, hampir separuh paper di bidang psikologi di muka bumi tidak bisa direplikasi.
Gimana caranya bikin paper yang benar kalau penelitinya diperas jadi pabrik produksi paper?
Bukan hanya peneliti, mahasiswa di bawah para peneliti nya pun ikut gepeng diperas. "Tahun ini bapak harus tembus Q2, kamu tolong bikinkan."
Setelah papernya dipublikasi, tidak ada yang baca, karena terlalu banyak spam paper yang dipublikasi. Risetnya pun sia-sia dan terlupakan.
Yang diinginkan Elsevier bukan paper, melainkan uang cash yang dipungli bersama dengan submisi paper itu. Oleh Elsevier, uangnya diambil dan papernya dibuang.
Meanwhile, dosen dan penelitinya dan mahasiswanya depresi dan kena gangguan psikologis karena hanya ditipu dan diperas menjadi pabrik sumber uang komersial Elsevier.
Bakti hidup mereka terhadap ilmu pengetahuan diinjak-injak begitu saja.
Ekosistem IPTEK dunia, termasuk dunia ketiga dan negara-negara Muslim, rusak dan kacau karena racun "Publish of Perish" yang ditebar sekelompok pebisnis dan konglomerat Yahudi serakah seperti Robert Maxwell. Replication Crisis merajalela.
Plis Wo berhenti menyembah komoditas. Kita sudah tahu polanya. Setiap komoditas yang dipuja akan segera diberi julukan bombastis dan dari sanalah kegilaannya.
-Tebu disebut Emas Putih, tanah Jawa dieksploitasi habis.
-Tembakau jadi Daun Emas, siklus perbudakan di Deli dimulai ulang.
-Pala dipuja sebagai Buah Emas dari Timur, dan proyek genosida JP Coen pun dimulai.
Ujungnya selalu sama: nilai komoditas dianggap lebih berharga daripada nilai manusia. Commodities before people
Emang. Keeping masyarakat miskin itu susah.
Lu harus konsolidasi kekuatan, bagi-bagi jatah korup, mastiin big money cuma muter di sirkel korup lu dg pelihara trio ABRI-jaksa-hakim, aktif obrak abrik media & medsos
The answer is, is.
But it highlights something interesting in modern football too.
In England, for decades a football club announcement would be, "Aston Villa ARE delighted to announce ".
Now, due to American ownership and influence, the same sentence would now be, "Aston Villa IS delighted to announce ".
Is, in this context is actually grammatically correct as a football club is a unitary body ( in grammar although a club has many players, staff and supporters it's seen as unitary, 1, like a person, "Dave IS", not "Dave ARE") but form many Brits, ARE is still widely used.
Check it out on club feeds. They'll mostly use "is".
@StanCollymore I think it perhaps echoes a cultural difference in Sports where America and their Sports "franchises" are individualistic while in England, from club's roots in communities and collectivism even if they're now large commercial enterprises, 'are' reflects that sense better.
The Brazilian communist footballer Sócrates is still remembered and honored, even though he played only one season (1984–1985) for ACF Fiorentina.
The same Fiorentina, forty years later, signed an Israeli footballer named Manor Solomon. A disgraceful figure who openly supports the genocide in Gaza and considers the bombing of hospitals acceptable.
Why would a club make such a mistake?
🤬 CNN removed this report from their social media.
They released this statement (translated)....
"We confirm that it is true, a piece of content was removed from CNN Indonesia’s social media channels.
The content was vulnerable to misuse and had the potential to trigger framing and discredit certain parties.
This decision was made without pressure and fully reflects the editorial stance.
We will continue to report on the efforts to deliver aid to disaster victims in Sumatra."
"LET THE IDF WIN AND FUCK THE ARABS!"
NOW IN GERMANY TOO!
Maccabi Tel Aviv fans chant the genocidal Israeli football anthem during their game in Stuttgart today.
#RedCardIsrael#BanIsraelFromUEFA#BanIsraelFromFIFA
> be me, 28m wagie living in Delhi
> wake up at 8 AM for my IT coolie job
> look out window, can’t see anything except a Grey haze
> neighbhourhood looks like the inside of a tandoor that hasn't been cleaned since 1947
> chest feeling heavy, congestion built up in lungs
> must be the weather changing
> check phone
> open IQAir app (Western propaganda tool)
> screen is deep purple
> AQI 650: "Hazardous. Do not breathe. Just die."
> panic.jpg
> am I being gaslit by the atmosphere?
> turn on nationalist TV news channel
> see senior Minister
> looks calm, composed, probably breathing filtered Himalayan air in the studio
> “Global rankings are not official. WHO guidelines are just suggestions.”
> “India sets its own standards based on geography.”
> realization hits me
> foreign AQI is a colonial construct
> Westoid lungs are weak, cannot handle the texture of Desi air
> they need ‘clean air’ because they lack civilizational immunity
> delete IQAir immediately
> install ‘Sarkari Vayu Sewa’ app
> refresh location
> AQI is 45: “Satisfactory”
> it’s not PM2.5, it’s ‘Atmanirbhar Particles’
> it’s not smog, it’s ‘Viksit Vapor’
> go to balcony
> take a deep breath of sovereign, non-aligned air
> taste the sulphur
> cough up a black glob
> stare at it
> it looks vaguely like a map of Akhand Bharat
> tears stream down my face (mostly from the nitrogen dioxide, but also patriotism)
> Global Index: Rejected
> Lungs: Congested
> Nation: Protected
> mfw I successfully rejected Western imperialism by reducing my life expectancy by 10 years
gini ya wok gw jelasin, guru itu semestinya top 5%, bahkan top 1% orang jago di lulusannya.
masalahnya gaji guru ato tenaga pengajar itu miris, lu gimana mau attract top 5% ato top 1% ini? mereka pasti mencari pekerjaan yang lebih layak.
ini belum bicara fasilitas ya wok, belum.
Daftar Presiden Indonesia
1. Sukarno (1949 - 1961) 🔴
2. A.H. Nasution (1961 - 1973) 🟡
3. Hamengkubuwono IX (1973 - 1983) 🟡
4. Sudharmono (1983 - 1993) 🟡
5. B.J. Habibie (1993 - 1998) 🟡
6. Ginanjar Kartasasmita (1998 - 2008) 🟡
7. Jusuf Kalla (2008 - 2018) 🟡
8. Airlangga Hartarto (2018 - ) 🟡
Presiden Sukarno meninggal pada tahun 1961 karena infeksi ginjal yang cukup serius (note: IRL infeksinya beneran terjadi). Ini menyebabkan Krisis Politik 1961-1963 (Krispol), yang didalamnya terjadi pembubaran PKI, PSI, dan Masyumi dan penangkapan massal ribuan anggotanya oleh aparat ABRI; konsolidasi partai Ikatan Karya (IK); aneksasi Papua Barat yang meningkatkan popularitas Nasution; hingga diakhiri pemilu 1963 yang kontroversial karena IK menang hampir 68% suara, menghasilkan "Sistem 63" yang berkuasa hingga kini.
Tanpa Konfrontasi dan dengan dukungan rezim Nasution yang pro-Barat (setelah diberikan Papua), Malaysia dibentuk dengan lancar, sehingga Brunei dan Singapura tetap menjadi bagian dari Malaysia. Lee Kuan Yew terpilih menjadi PM Malaysia pada tahun 1973 dan berkuasa hingga 1990; PAP berkuasa hingga kini.
Pada 1973, terjadi demo besar-besaran menentang isu tiga periode A.H. Nasution dari golongan terasosiasi komunis dan Islamis akar rumput, dibeking faksi internal rezim. Ini menyebabkan HB IX dipilih sebagai capres kompromi oleh partai. HB IX kemudian menjadi sangat populer karena kombinasi liberalisasi politik terbatas dengan Oil Boom 1974 yang dimanajemen dengan baik dan tidak korup oleh Pertamina, menyebabkan Indonesia tumbuh pesat.
Pada masa HB IX juga, Menlu Adam Malik berhasil membentuk ASEAN menjadi kawasan perdagangan bebas dengan integrasi yang kuat. Anggotanya Indonesia, Malaysia, Thailand, dan Filipina saja. (Myanmar masuk tahun 1990 setelah junta militernya berhasil ditumbangkan oleh gerakan demokrasi pada 1988. Federasi Indochina dan Timor Leste masuk tahun 1995.)
Pembangunan dan reformasi ketatanegaraan Nasution dan HB IX terus dilanjutkan oleh "dewa birokrasi" Sudharmono, yang juga memulai reformasi liberalisasi ekonomi, mengikuti tren dunia saat itu di bawah Reagan dan Thatcher. Fundamental ASEAN yang jauh lebih kuat menyebabkan Jepang berhasil membangun blok "Asia Timur Raya" yang selalu diidamkan Jepang; posisi Jepang saat negosiasi Plaza Accord pun menjadi jauh lebih kuat.
Habibie dipilih partai menjadi capres lewat menguatnya gelombang Islam tahun 90an. Pemerintahannya dilanda Krisis Finansial 1997 yang berhasil ditangani sebelum meluas, tetapi Habibie tetap menjadi tidak populer dan dilanda gelombang protes, terutama dari oposisi kiri populis seperti Megawati (PNI) dan Budiman (PKI ilegal) yang menentang austerity.
Keberhasilan ASEAN dan Jepang dalam menghadapi Krisis 1997 menyebabkan Rusia berhasil menangani krisis moneternya sendiri, menyebabkan Rusia jauh lebih kuat dan menakutkan secara ekonomi di bawah Presiden Primakov, menyebabkan John McCain yang hawkish menjadi Presiden AS, kemudian McCain berhasil mencegah serangan 9/11 sebelum terjadi. Dunia damai dan tidak ada perang.
Ginanjar berkonspirasi mendongkel Habibie yang tak populer dan memulai periode reformasi politik, termasuk serangkaian amendemen. Program-program industrialisasi teknologi Habibie yang mandek karena krisis 1997 direvisi ("inilah mengapa presiden harus soshum", gerutu Ginanjar saat menandatangani perpresnya). Tangan dingin Ginanjar berhasil membangun ekonomi industri berorientasi ekspor, meniru model Asia Timur.
Pada zaman Ginanjar, restriksi terhadap PKI dicabut. Pada pemilu 2003 yang masih sarat intervensi aparat, PKI berhasil mendulang 7% suara setelah membuang Marxisme-Leninisme dan mengadopsi ideologi populis "Sosialisme dengan Ciri Khas Indonesia" yang dipengaruhi gerakan kiri internasional dominan saat itu, yaitu pandangan-pandangan Tony Blair dan Deng Xiaoping. Diduga terjadi "permainan intel" untuk mendepak petinggi-petinggi CC PKI yang lebih ortodoks.
Dengan bekal pajak dari ekonomi industri ekspor dan tata negara perkasa yang selama ini dibangun, pemerintahan JK memprioritaskan pembangunan luar Jawa, seperti pembangunan kereta Trans-Sumatera, Trans-Kalimantan, Trans-Sulawesi, dan Trans-Papua, juga Jembatan Selat Sunda, Jembatan Selat Malaka, dan berbagai infrastruktur mendasar daerah seperti pelabuhan dan jalan. Ibukota diputuskan untuk dipindah ke Kaltim secara "berhati-hati dan tidak ugal".
Untuk menghadapi oposisi kiri yang semakin gencar dan demo buruh berjilid-jilid di bawah pimpinan mantan Gubernur Jakarta sekaligus Ketua CC PKI Joko Widodo, Airlangga Hartarto memulai reformasi welfare state seperti penciptaan program BLT, BPJS, dll yang sebelumnya sangat terbatas.
Pada tahun 2024, Indonesia adalah ekonomi terbesar ke-8 di dunia dengan GDP per kapita $11.200. GDP per kapita Malaysia adalah $29.800.