Le Mur Bleu 🇫🇷
Fondasi kokoh pertama untuk benteng pertahanan #PERSIB di musim mendatang.
Sektor belakang kini punya pelindung baru asal Prancis: Gabriel Mutombo Kupa!
Give your warmest welcome, Bobotoh!
#WilujengSumping#GabrielMutombo
Bukatsudo dan Alasan Kita Tak Bisa Serta-merta Meniru Jepang
Saat ini Jepang jadi kekuatan yang tidak bisa dipandang sebelah mata bahkan untuk turnamen sebesar Piala Dunia. Dengan ukuran tubuh khas Asia tapi bisa merepotkan negara dari berbagai benua, orang Indonesia kerap merasa bahwa Jepang adalah sebaik-baiknya contoh yang patut ditiru.
Namun ada satu hal yang menurut saya Jepang tidak bisa serta-merta kita tiru: Bukatsudo.
Istilah Bukatsudo mungkin asing. Tapi kita mungkin sering melihatnya di drama, anime, atau film Jepang: setelah jam sekolah, murid-murid tidak langsung pulang. Ada yang latihan baseball, sepakbola, basket, atletik, bela diri, musik, atau klub budaya lainnya. Itu bukan sekadar elemen cerita yang dibuat-buat. Itu menggambarkan kultur nyata di sekolah Jepang bernama Bukatsudo atau kegiatan ekstrakurikuler berbasis klub.
Memang sifatnya sukarela, tetapi mayoritas siswa bergabung dengan klub. Dari situ, olahraga menjadi bagian dari keseharian anak-anak Jepang. Mereka punya rutinitas latihan, senior-junior, kompetisi antarsekolah, turnamen daerah, hingga target nasional.
Di Jepang, olahraga bukan aktivitas tambahan. Ia menjadi bagian dari sistem pendidikan, kebijakan pemerintah, dan budaya masyarakat. Hampir setiap sekolah memiliki fasilitas olahraga. Hampir setiap sekolah juga memiliki klub ekstrakurikuler.
Artinya, sejak kecil anak-anak memiliki ruang untuk bergerak, berkompetisi, dan berlatih secara rutin. Mereka tidak perlu selalu menunggu orang tua mendaftarkan ke akademi atau menyewa lapangan. Sekolah sudah menjadi tempat pertama mereka bertumbuh sebagai atlet.
Pemerintah Jepang juga secara konsisten mendukung pengembangan olahraga, mulai dari fasilitas publik, kompetisi pelajar, program grassroots, hingga akademi olahraga. Hasilnya tidak hanya terlihat di sepakbola. Jepang kompetitif di banyak cabang olahraga karena sejak kecil anak-anaknya hidup dalam kultur olahraga.
Data Sasakawa Sports Foundation (lihat gambar detailnya di bawah) menunjukkan bahwa pada usia 4–11 tahun, sekitar 80% anak Jepang mengikuti olahraga dengan berbagai tingkat intensitas. Sementara pada usia 12–21 tahun, lebih dari separuh rutin berolahraga sedikitnya lima kali dalam seminggu.
Angka ini menjelaskan satu hal sederhana: Semakin banyak anak yang terbiasa berolahraga, semakin besar peluang sebuah negara melahirkan atlet hebat. Sepakbola Jepang hanyalah salah satu produk dari ekosistem tersebut.
Sekarang bandingkan dengan kondisi kita, khususnya dalam partisipasi sepakbola.
Masih banyak anak Indonesia yang ingin bermain sepakbola, tetapi kesulitan menemukan lapangan. Banyak sekolah belum memiliki lapangan sepakbola maupun ekstrakurikuler sepakbola. Ada pun lapangan, biasanya lapangan basket yang juga diperuntukkan untuk bermain futsal, yang pasti berebut juga penggunaannya dengan kegiatan lain. Lapangan umum juga semakin terbatas, sementara menyewa lapangan juga tidak murah.
Akibatnya, kesempatan bermain bola sangat sedikit. Padahal mungkin ada ribuan anak berbakat yang tidak pernah mendapatkan kesempatan menunjukkan potensinya hanya karena aksesnya tidak ada.
Negara yang hebat dalam olahraga biasanya bukan negara yang hanya membina atlet elite, melainkan negara yang berhasil membuat jutaan anak bisa bermain, bergerak, berlatih, dan berkompetisi sejak usia dini. Dari kultur sebesar itulah pemain kelas dunia bisa lahir.
Jadi pertanyaan yang lebih mendasar adalah: Apakah olahraga, atau sepakbola, sudah menjadi bagian dari kultur negara kita, atau masih dianggap sekadar aktivitas tambahan?
Sumber:
https://t.co/ZEuABImK0f
https://t.co/QaDHkepf8c
Karena lagi rame ada Aa Aa yang pasang bio Antifa tapi isi twitnya caci maki LGBTQ+ izin saya sampaikan pandangan saya dari sisi orang yang pernah "Antifa Antifaan" di 2011-2013.
Disclaimer, opini ini tidak bermaksud menyinggung siapapun apalagi ke teman² dan para senior di Bandung Casuals, respect besar dan rindu saya sama kalian semua 🫂
Oke, karena twit ini akan menjadi diskusi dua arah maka tolong kita berdiskusi secara terstruktur dan menggunakan bahasa yang sopan ya.
Jujur, dulu memang jangkauan saya hanya sebatas gaya-gayaan tanpa memahami esensi dan konsekuensi dari isme ini. Salah satu yang membuat saya kurang sreg dengan paham ini karena ada beberapa hal yang saya rasa berbenturan dengan pemahaman agama yang saya anut.
Dulu, Saya agak kesulitan memahami batasan terluar ketika seseorang tidak lagi dikatakan Anti Fasis.
Karena jika dirunut, saya sangat benci terhadap rasisme, tapi sangat anti juga terhadap liberalisme. Apalagi jika mengatasnamakan Islam dengan embel-embel Liberal.
Dalam islam, soal rasisme dibahas mutlak di Q.S Al Hujarat:13, makanya saya amalkan.
Sedangkan untuk memahami Kebebasan dan Hak Asasi Manusia, saya berpendapat tentu perlu ada batasan toleransinya.
Perlu teman-teman ingat bahwa dalam Islam kisah Nabi Luth dan kaum Sodom dibahas gamblang dan bersifat final mengenai kebiasaan dan hukuman sebagai akibat dari apa yang mereka kerjakan.
Namun dengan adanya kebebasan yang tanpa batas ditambah sebagian orang yang gencar membelanya, LGBTQ+ menjadi subur kembali, bahkan mulai berani masuk ke ruang-ruang kehidupan masyarakat.
Maka, Jika syarat menjadi seorang Anti Fasis harus membela LGBTQ+ maaf saya engga ikutan dulu. Lebih baik saya menjadi seseorang yang menormalisasi ketidaknormalan itu sebagai penyakit yang perlu disembuhkan.
LGBTQ+ tidak hanya merusak tatanan hidup, tapi juga mengundang azab.
Jadi, orang normal jangan berhenti bersuara tentang ketidaknormalan ini, karena yang kita hadapi bukan hanya mereka yang tidak normal, tapi juga kaum yang menormalisasi.
jadilah semut ibrahim, yang tetap membawa air meskipun api melalap tubuh Ibrahim.
Setidaknya orang tahu, kepada siapa kita berpihak.
If You tolerate this, then your Children will be next.
Irish fighter Paddy McCorry defeated Israeli Shuki Farage, raised the Palestinian flag, and repeatedly shouted “Free Palestine” inside the cage while beating Shuki who is a soldier in the ‘IDF’.
🚨 🚨Lumumba, Suporter dari Republik Demokratik Kongo, di pertandingan kemarin Menyampaikan Protes Bermakna di Piala Dunia.
Dalam pertandingan tersebut, ia melakukan gestur menutup mulut dengan satu tangan sambil mensimulasikan pistol ke kepala menggunakan tangan lainnya.
Aksi ini merupakan bentuk protes terhadap kesunyian internasional atas konflik yang sedang berlangsung di timur Republik Demokratik Kongo, yang telah menyebabkan ribuan warga mengungsi. 👀
Respect. The real Influencer 🇨🇩