Hari Pertama PKN XI tahun 2026 di Pondok Pesantren Progresif Bumi Shalawat Sidoarjo.
“Membentuk Pemimpin Gerakan Berintegritas, Berwawasan, dan Responsif”
#ansorbanser#addinjauharudin#sidoarjo
BANG KETUM ADDIN WAS RIGHT!
PKN XI tahun 2026 di Pondok Pesantren Progresif Bumi Shalawat Sidoarjo.
“Membentuk Pemimpin Gerakan Berintegritas, Berwawasan, dan Responsif”
#ansorbanser#addinjauharudin#sidoarjo
𝗞𝘆𝗮𝗶 𝗞𝗮𝗳𝗮𝗯𝗶𝗵: 𝗠𝗲𝗻𝗷𝗮𝗴𝗮 𝗥𝘂𝗵 𝗝𝗮𝗺'𝗶𝘆𝗮𝗵
~ Oleh Mas Purwaji
Hormat setinggi-tingginya kepada Beliau, Masyayikh Lirboyo, yang sampai penghujung penetapan lokasi Muktamar NU tetap istiqamah memperjuangkan suara para Masyayikh. Bukan karena ingin menang, bukan pula karena ingin diunggulkan, tetapi karena ada amanah yang harus disampaikan dan adab yang harus dijaga. Lirboyo, secara kepantasan dan kelayakan, nyaris tak menyisakan ruang untuk diperdebatkan. Namun rupanya Allah menghendaki jalan lain. Maka sebagaimana para santri diajari menerima keputusan guru, kita pun belajar legowo dengan ditetapkannya Tambak Beras.
Tapi entah mengapa, saya kok percaya, semua ini bukan sekadar rangkaian musyawarah yang selesai di ruang-ruang rapat. Berkali-kali Gus Yahya bercerita kepada kami para pendereknya tentang ziarah beliau ke makbaroh Mbah Wahab Chasbullah di Tambak Beras. Ada semacam isyarat yang tidak pernah selesai dijelaskan dengan kata-kata. Seolah ada percakapan yang hanya bisa dipahami oleh hati yang sedang bersandar kepada para Muassis.
Bukankah sejak awal jam’iyah kita Nahdlatil Ulama memang tidak pernah berjalan hanya dengan hitung-hitungan manusia?
Bahkan di setiap tikungannya selalu ada tangan-tangan yang tak terlihat, ada doa-doa yang tak terdengar, serta keberkahan yang tak bisa diukur oleh nalar sekalipun. Maka saya percaya, para Muassis masih menjaga rumah yang mereka dirikan dengan air mata, tirakat, dan keikhlasan. Termasuk Mbah Wahab. Sebab kita semua selalu diingatkan oleh dawuh Gus Mus (KH. Mustofa Bisri) yang sederhana tetapi tak pernah habis maknanya, "𝑵𝑼 𝒔𝒊𝒏𝒈 𝒏𝒋𝒂𝒈𝒂 𝑮𝒖𝒔𝒕𝒊 𝑨𝒍𝒍𝒂𝒉."
Barangkali karena itu pula Gus Yahya berkali-kali terlihat begitu tenang. Beliau pernah berkata, "Di langit, Muktamar sudah beres." Kalimat yang bagi sebagian orang terdengar sebagai seloroh, tetapi bagi yang terbiasa ndlosor dan thalabul ilmi di pesantren, kalimat itu mengandung keyakinan yang panjang. Ada saatnya ikhtiar dhohir berhenti pada batas kemampuan manusia, lalu selebihnya ikhtiar batin dan serahkan semuanya kepada Allah Azza Wa Jalla Yang Mengatur segala urusan.
Itulah sebabnya beliau tidak pernah tampak tergesa-gesa mengejar keadaan. "𝑴𝒂𝒖 𝑲𝒐𝒎𝒃𝒆𝒔 𝒅𝒊 𝑷𝒍𝒐𝒔𝒐 𝒎𝒐𝒏𝒈𝒈𝒐, 𝒎𝒂𝒖 𝑴𝒖𝒌𝒕𝒂𝒎𝒂𝒓 𝑨𝒈𝒖𝒔𝒕𝒖𝒔 𝒚𝒂 𝒎𝒐𝒏𝒈𝒈𝒐." Ringan sekali mengucapkannya, tanpa beban lain yang menggelayut sekalipun. Sebab yang ringan itu lahir dari hati yang telah selesai dengan dirinya sendiri.
Pada saat di Krapyak Yogyakarta pun beliau pernah dawuh, "𝘈𝘬𝘶 𝘬𝘢𝘯 𝘯𝘪𝘢𝘵 𝘯𝘺𝘢𝘶𝘳 𝘩𝘶𝘵𝘢𝘯𝘨. 𝘕𝘦𝘬 𝘥𝘪𝘸𝘦𝘯𝘦𝘩𝘪 𝘢𝘮𝘢𝘯𝘢𝘩 𝘺𝘰 𝘴𝘪𝘢𝘱. 𝘚𝘰𝘢𝘭 𝘨𝘰𝘭𝘦𝘬 𝘴𝘶𝘢𝘳𝘢 𝘬𝘶𝘸𝘪 𝘴𝘢𝘮𝘱𝘦𝘢𝘯-𝘴𝘢𝘮𝘱𝘦𝘢𝘯 𝘸𝘢𝘦 𝘴𝘪𝘯𝘨 𝘮𝘭𝘢𝘬𝘶." Saya kira, tidak semua orang bisa mengucapkan kalimat seperti itu dengan hati yang benar-benar kosong dari beban. Sebab hanya orang yang merasa sedang mengabdi, bukan sedang memiliki, yang mampu bersikap demikian. Ada kepasrahan yang lahir bukan dari kelemahan, melainkan dari keyakinan bahwa 𝐍𝐔 𝒊𝒌𝒖 𝒎𝒂𝒍𝒂𝒕𝒊; ladang berkah yang tidak pernah kekurangan penjaga selama warganya tetap menggantungkan hati kepada Allah dan para kekasih-Nya.
Maka kepada Kyai Kafabih, segenap Masyayikh dan sohibul ma’had Lirboyo, keluarga besar HIMASAL, serta seluruh kader NU yang berjalan dengan 𝙣𝙞𝙖𝙩 𝙞𝙣𝙜𝙨𝙪𝙣 𝙣𝙟𝙖𝙜𝙖 𝙉𝙐 𝙗𝙖𝙡𝙞 𝙢𝙚𝙣𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙥𝙚𝙨𝙖𝙣𝙩𝙧𝙚𝙣, saya hanya bisa menundukkan kepala dan melangitkan doa. Saya percaya, para kyai sepuh itu sedang memperjuangkan sesuatu yang mungkin tidak seluruhnya kasat mata. Yang mereka jaga bukan sekadar tempat Muktamar, melainkan arah pulang dan hakikat khitoh jam’iyah dan jamaah itu sendiri. Agar jam'iyah ini jangan sampai tercerabut dari akar yang sejak awal melahirkan dan menumbuhkannya.
Sekali lagi tindakan yang menurutku sangat heroik oleh KH. Abdulloh Kafabihi Mahrus di tengah kepentingan elit oknum. Ialah ketika para peserta sidang (yang mayoritas para kiai-kiai Suriyah) didiamkan di tempat sidang tanpa kejelasan dari jam 4 sore hingga jam 8 malam, Beliau KH. Kafabihi Mahrus masuk ke Ruangan Rais Am dan berbicara kurang lebih demikian; "Yai, semua yang beredar bahwa Lirboyo anti Rais Am fitnah itu adalah fitnah. Framing yg beredar bahwa Lirboyo benci RA tidak benar. Saya mohon lokasi Muktamar harus segera diputuskan malam ini, jangan ditunda-tunda lagi. Dan saya harap nanti tidak ada veto dalam keputusan lokasi."
Negosiasi yg menurutku sangat luar biasa, di saat para peserta sidang lain sudah putus asa atas deadlock yg terjadi. Rata-rata peserta sidang sudah berpikiran sulit ada keputusan malam itu. Musyawarah mufakat tdk berhasil, dilakukan voting tidak mau. Alhamdulillah berkah dorongan KH. Kafabihi terhadap Rais Am, akhirnya RA memutuskan lokasi Muktamar malam kemarin.
Alhamdulillāh, telah diputuskan dan ditetapkan🙏🤲
Dengan memohon pertolongan Allah SWT, melalui ikhtiar, musyawarah, dan istikharah para masyayikh, diputuskan bahwa Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama insyaallah akan diselenggarakan di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, pada 27–31 Agustus 2026.
Keputusan tersebut dibacakan oleh KH. Miftahul Akhyar selaku Rais 'Aam PBNU pada pukul 21.30 WIB dalam Rapat Pleno Syuriah dan Tanfidziyah PBNU.
Semoga keputusan ini membawa keberkahan, mempererat ukhuwah jam'iyah, serta menjadi jalan lahirnya keputusan-keputusan terbaik bagi kemaslahatan umat, bangsa, dan Nahdlatul Ulama.
Al-Fātiḥah untuk para muassis dan masyayikh. #MuktamarNU35 #TambakBeras #Jombang
Pilihan terhadap Lirboyo adalah bentuk penghormatan terhadap peran strategis pesantren dalam menjaga marwah, ukhuwah, dan kemaslahatan jam'iyah Nahdlatul Ulama secara luas.
#MuktamarNU35#Lirboyo
https://t.co/onNp3INnM3
Kembali ke akar, kembali ke pesantren. Dukungan dari Rais Syuriyah PWNU DKI Jakarta untuk Lirboyo bukan sekadar pilihan, tapi penegasan bahwa NU harus digelar dengan martabat dan jauh dari perselisihan.
Lirboyo telah membuktikan diri. Saatnya bergerak bersama! #MuktamarLirboyo #NahdlatulUlama #MuktamarNU35 #Lirboyo
28 PCNU se-Jawa Tengah bersatu medukungan penuh Pondok Pesantren Lirboyo sebagai tuan rumah #MuktamarNU35. Bukan hanya soal kesiapan tempat, kekuatan tradisi, keilmuan, dan nilai spiritual yang menjadi ruh perjuangan NU
Dari Lirboyo untuk jagat—merawat umat, membangun peradaban.
Muktamar NU ke-35 di Lirboyo: Ikhtiar Mengokohkan Marwah Jam'iyah
Putra almaghfurlah KH. Maimun Zubair, KH. Abdulloh Ubab Maimun, menyatakan dukungannya secara penuh agar Pondok Pesantren Lirboyo dipilih sebagai lokasi pelaksanaan Muktamar NU ke-35.
Masuknya LBH Ansor sebagai perisai hukum bagi Suara Merdeka Jakarta menunjukkan bahwa struktur pemuda NU secara sadar mengambil posisi yang berseberangan dengan langkah Gus Ipul
https://t.co/h66Xq71Yeo
Moderasi beragama bukanlah memoderasi ajaran agama yg mutlak melainkan memoderasi cara manusia dalam memahami serta mengamalkannya. Seluruh agama mengajarkan nilai universal kemanusiaan dan perdamaian.
Mari saling menghormati perbedaan penafsiran demi kerukunan berbangsa.
Ikut berdukacita 🙏🏻
Pemberantasan narkoba smp makan korban anggota Bareskrim Polri 😞
Inilah salah satu resiko pemberantasan narkoba.
Dan msh ada yg tega bilang penggerebekan itu drama?
Itu kejam!
Meskipun resiko nyawa, harus dihadapi demi negara bebas narkoba.
Dewan Pers tegaskan opini TIDAK bisa digugat. Gus Ipul rupanya lupa, jadi menteri itu bukan berarti kebal kritik. Untung hak jawab masih dikasih, daripada ngurusin gugatan, mending pakai kesempatan itu buat klarifikasi yang berbobot sambil habisin anggaran buat media placement calon Ketum Muktamarmu.
Tapi ya terserah, yang penting demokrasi tetep jalan meski ada yang berusaha nge-rem.
Kemenangan Kebebasan Berpikir, Dewan Pers Jamin Ruang Opini Publik https://t.co/Ak1ibgo7Oi
Dalam tradisi Nahdlatul Ulama, setiap langkah besar selalu ditempuh dengan musyawarah, kehati-hatian, dan penuh tanggung jawab. Begitu pula dalam menentukan lokasi penyelenggaraan Muktamar ke-35 NU. Bukan sekadar memilih tempat, tetapi memastikan segala aspek dipertimbangkan demi kemaslahatan jam’iyah.
Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) telah menetapkan Tim Survei Lokasi Pelaksanaan Muktamar ke-35 NU yang akan berlangsung pada 1–5 Agustus 2026. Pembentukan tim ini merupakan tindak lanjut dari hasil Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama dan Konferensi Besar (Konbes) NU 2026 di Pondok Pesantren Al-Falah Ploso, Kediri, yang kemudian ditetapkan dalam Rapat Harian Tanfidziyah PBNU di Jakarta pada Kamis, 2 Juli 2026.
Tim Survei dipimpin oleh Ketua Steering Committee (SC), KH. Ahmad Said Asrori, dengan Sekretaris SC Prof. Dr. Moh. Nuh. Amanah ini menjadi jaminan bahwa seluruh proses akan berjalan secara objektif, profesional, dan tetap berpegang pada prinsip-prinsip organisasi.
Di berbagai daerah, aspirasi warga Nahdliyin juga terus berkembang. Dukungan resmi dari banyak PCNU di berbagai penjuru Indonesia yang mengarah kepada Pondok Pesantren Lirboyo sebagai salah satu opsi penyelenggaraan Muktamar menjadi bagian dari dinamika yang patut dihormati dan didengar. Aspirasi tersebut tentu akan menjadi salah satu masukan berharga dalam keseluruhan proses yang sedang berjalan.
Karena itu, mari kita percayakan sepenuhnya proses ini kepada Ketua SC beserta seluruh tim yang telah menerima amanah dari PBNU. Dengan ikhtiar yang jujur, musyawarah yang matang, dan pertimbangan yang menyeluruh, insyaallah keputusan yang diambil akan menjadi pilihan terbaik bagi Nahdlatul Ulama, membawa kemaslahatan bagi jam’iyah, serta memperkuat khidmah kepada umat. #MuktamarNU35 #NahdlatulUlama #GusYahya
Gus Yahya dan Perdamaian Dunia
Hari ini rapat pleno PCNU sebagai bagian dari perkhidmatan karena memang salah satu tugas pengurus adalah menghadiri rapat, satu aktifitas yang tentu saja berupa perbincangan-perbincangan.
Salah satu motivasi yang sering disampaikan oleh Rais Syuriyah PCNU Cilacap, KH Su'ada, kepada para fungsionaris NU di Cilacap adalah apa yang pernah beliau terima dari salah satu Rais 'Aam PBNU, KH Ali Maksum. Bisa dikatakan, redaksi sanad motivasi ini adalah "saya mendengar beberapa kali dari Mbah Su'ada bahwa Mbah Ali Maksum pernah menyampaikan 'dhawuh' tentang motivasi menjadi pengurus NU".
Menurut Mbah Su'ada, salah satu dalil yang pernah disampaikan oleh Mbah Ali Maksum terkait motivasi menjadi pengurus NU adalah ayat:
لَا خَيْرَ فِيْ كَثِيْرٍ مِّنْ نَّجْوٰاهُمْ اِلَّا مَنْ اَمَرَ بِصَدَقَةٍ اَوْ مَعْرُوْفٍ اَوْ اِصْلَاحٍ ۢ بَيْنَ النَّاسِۗ وَمَنْ يَّفْعَلْ ذٰلِكَ ابْتِغَاۤءَ مَرْضَاتِ اللّٰهِ فَسَوْفَ نُؤْتِيْهِ اَجْرًا عَظِيْمًا (النساء: ١١٤)
Tidak ada kebaikan pada banyak pembicaraan rahasia mereka, kecuali (pada pembicaraan rahasia) orang yang menyuruh bersedekah, perintah berbuat kebaikan, atau mengupayakan perdamaian di antara manusia. Siapa yang berbuat demikian karena mencari ridha Allah kelak Kami anugerahkan kepadanya pahala yang sangat besar. (QS. An-Nisâ:114)
Penjelasannya bagaimana? Menjadi pengurus NU meniscayakan melakukan perbincangan-perbincangan, mengerahkan pikiran, tenaga dan lainnya untuk secara umum tiga hal tersebut: perintah bersedekah, berbuat kebajikan, maupun mengupayakan perdamaian antar manusia. Ketika seseorang menjadi pengurus NU kemudian ia bersungguh-sungguh dalam perannya itu semata karena mencari ridha Allah maka ia layak mendapat pahala yang sangat besar sesuai janji Allah.
Terkait ayat ini Gus Baha menegaskan bahwa Allah memilih redaksi "aü ishlãhin baina al-nâs" (mengupayakan perdamaian antarmanusia) bukan "aū ishlãhin baina al-mu'minīn" (mengupayakan perdamaian di antara orang-orang beriman saja). Ini berarti bahwa segala upaya mewujudkan perdamaian dunia, selama dilakukan dalam kerangka mencari ridha Allah, adalah perilaku kebaikan yang berpeluang mendapat pahala yang sangat besar sesuai janji Allah.
Tidak berlebihan kalau saya mengatakan bahwa upaya mewujudkan perdamaian dunia oleh Gus Yahya dengan PBNU-nya adalah atas dasar tafsir dari ayat itu. Sebagai santri Mbah Ali Maksum, Gus Yahya tentu sangat meyakini hal ini.
Selain itu kedekatan Gus Yahya dengan KH Maimoen Zubair juga menjadi faktor pendorong upaya-upaya (ikhtiar) mewujudkan perdamaian dunia. Konsep "fiqh peradaban" yang ditawarkan PBNU kepada masyarakat global saya maknai sebagai pilihan keputusan yang diambil oleh Gus Yahya dalam rangka mewujudkan harapan Mbah Moen.
Kita tahu, Mbah Moen adalah orang yang sangat optimis bahwa Indonesia akan menjadi negara yang baldatun thayibatun wa rabbun ghafūr, sering sekali beliau melangitkan doa untuk kebaikan Indonesia. Mbah Moen juga sangat optimis bahwa akan ada kebangkitan Islam yang muncul dari Indonesia.
#rapatpleno
#PCNUCilacap
#PBNU
#GusYahya
Sumber; https://t.co/Umz84IaxIl
PCNU Kabupaten Demak menyatakan dukungan penuh terhadap pelaksanaan #MuktamarNU35 di Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri.
Dengan kekuatan tradisi, sejarah, dan kesiapan yang dimiliki, Lirboyo diyakini mampu menjadi tuan rumah yang bermartabat bagi seluruh Nahdliyin
#NUBermartabat