@nabiylarisfa itu berarti kita ikut memberi legitimasi terhadap struktur kekuasaan di dalam forum tsb. Kalau struktur itu sendiri tidak mencerminkan prinsip keadilan dan representasi yang selama ini kita perjuangkan, wajar kalau publik mempertanyakan apakah langkah kita benar-benar memperkuat
Ideologi asing Barat yang mengancam Indonesia: etnonasionalisme.
Sejak dahulu, Nusantara multikultural. Orang Bugis dimana-mana. Orang Minang dimana-mana.
Sejak dahulu, Eropa Timur pun multikultural. Lalu etnonasionalisme muncul. Pecahlah pembantaian dan genosida 200 tahun.
Daerah Balkan jadi kasus percontohan. Awalnya mereka semua bersatu melawan kekuasaan Khilafah Ottoman. Tetapi, semangat perjuangannya didasari etnonasionalisme sendiri-sendiri. Begitu kekuasaan Ottoman tumbang (dan setelah umat Muslim Turki di sana dibantai), mereka langsung saling bunuh, bantai, dan genosida satu sama lain sampai tahun 1999.
Orang Turki sendiri sangat marah karena 5 juta saudara seumatnya mati dibantai. Dalam paranoia ambisi Rusia dan Yunani pada PD I, akhirnya mereka balas membantai jutaan orang Yunani dan Armenia yang sudah hidup di Turki sejak sebelum zaman Nabi. "Lebih baik membantai daripada dibantai".
Sungai dan perbukitan Turki bergelimpangan dengan jutaan mayat bapak, ibu, dan anak kecil lokal random yang diseret dan dibunuh massal karena etnisnya.
Sampai hari ini daerah seperti pulau Cyprus masih tersobek-sobek oleh parit, kawat berduri, dan ranjau yang memisahkan orang Turki dan orang Yunani agar tidak saling bantai. Integrasi ekonomi pulau Cyprus hancur.
Kota-kota besar yang selama ratusan tahun multikultural seperti Sarajevo, ibukota Bosnia, musnah dan tiap RT RW nya disobek-sobek oleh kebencian mendidih. Etnis yang berbeda-beda bersekolah di gedung sekolah yang sama (karena negaranya jadi miskin), tetapi ruang kelas, guru, kurikulum, dan badan pendidikannya beda, karena pada ketakutan terhadap etnis sebelah.
Demikian dengan kota-kota Eropa Timur lainnya. Lviv, Krakow, Konisberg, dahulu mereka semua adalah pusat kebudayaan dan sejarah peradaban Eropa. Kemudian terjadi perang, pembantaian, pembersihan etnis massal di kota-kota ini.
Mereka semua menjadi korban keganasan etnonasionalisme, mau dia etnonasionalisme Jerman, Ukraina, Polandia, Rusia, dll. Yang tersisa hanyalah jejeran apartemen Sovyet kelabu, yang dibangun penduduk homeless yang selamat karena bersembunyi di antara reruntuhan kota kelahiran mereka, kota-kota yang telah mati dan nyawanya tak akan hidup lagi.
Zionisme adalah turunan wabah etnonasionalisme ini. Umat Yahudi yang ikut menjadi etnonasionalis dan dipersekusi oleh etnonasionalis Eropa lain tak punya negara sendiri, sehingga mereka pergi, menjajah Palestina, lalu meneror usir penduduk Arab setempat dan merampok tanahnya.
Virus ideologi mengerikan ini jangan sampai menghancurkan Indonesia. Cukup Eropa saja yang terinfeksi hingga hancur tumpas. Jangan sampai sejarah terulang.
Three generations. UNSC, Sept. 2007. Indonesiaโs President Susilo Bambang Yudhoyono @SBYudhoyono accompanied by Ali Alatas (by then Presidential Advisor on Foreign Policy), Hassan Wirajuda (Foreign Minister) and Marty Natalegawa (then Ambassador to UN, later Foreign Minister).
Congrats, Zohran Mamdani! Now letโs get that fare-free public transport and other inclusive, pro-people programs rolling. Hereโs to more cities around the world putting public facilities and equality at the heart of their progress. ๐๐ผ
Yth Pres @prabowo, walaupun kini menjadi sorotan dunia krn demo/kerusuhan, knp Pemerintah ๐ฒ๐จ tidak mempunyai satu orangpun yg bisa menjelaskan apa yg terjadi di ๐ฒ๐จ ke dunia internasional ? Kenapa tidak ada narasi sama sekali, padahal banyak jubir ? Something to think about.
This soft spoken ibu never said Bangsat or Anjing but you never give a shit about her. You care not about what people fight for. You just ignorant piece of shit.
Fakir miskin, anak telantar, dan pekerja gig dipelihara bukan oleh negara, melainkan sesama warga Asia Tenggara. As much as this is very heartwarming, pemerintah mestinya malu banget, jir.
catatan kritis yg penting.
satu hal yg prabowo lupa (ato mungkin gk mampu paham): growth 8% tdk akan pernah tercapai dgn rejim yg berkarateristik militer. developmentalisme berbasis militer itu udah lewat masanya. udah gak relevan di abad 21. cuma bawa kemunduran.