10 tahun yang lalu:
>Gerakan
>Jutaan orang turun
>"Berserikat dan berhimpun"
>Menyentuh akar rumput
>Ada beking (wowok)
>Ada sumber dana (mafia migas)
>Ada figur pemimpin (Rizieq)
>Ada koordinasi (GNPF)
Hasilnya:
Apa hasilnya?
Hari ini sudah musnah.
Baru peduli ketika dirinya terdampak. Bangsamu yang punya karakter kayak gini tuh banyak banget dari berbagai strata sosial dan latar belakang. Bukan karena bodoh, tapi karena ignorant.
Aku rasa karena sistem pendidikan kita dari dasar sudah bersifat kompetisi ketimbang koperasi. Akhirnya abai terhadap permasalahan struktural karena tidak punya kemampuan untuk bergotong-royong.
Indonesia’s plan to take control of key commodity exports has left the country’s coal miners, palm-oil producers and traders racing to understand policy details https://t.co/LXaAjIUn4V
Indonesian authorities used online disinformation campaigns to brand activists and journalists as "foreign agents" and silence dissent, sometimes leading to physical threats, Amnesty International said. https://t.co/sFoBm6AbMx
@zalkad ketika masyarakat berkumpul, berbicara,
karena yg disebut negara gagal menjalankan fungsinya
itu justru dibaca sebagai ancaman
Padahal di sanalah kedaulatan bekerja—
hidup, bergerak, dan saling menguatkan
Pembungkaman lahir dari ketakutan,
dan berakhir sebagai pengkhianatan.
Aku baru baca ini,
Hasil survey dari Policy Research Center (Porec)
Judulnya "Siapa yang diuntungkan dari Program Makan Bergizi Gratis (MBG)"
Silahkan kita baca hasil penelitiannya, yang sebenernya hasilnya tidak mengagetkan namun melegitimasi dan mengkonfimasi asumsi kita.