@creeping5ilence Sebenarnya orang pintar itu banyak. Mode metode untuk mitigasi juga ada, dari desain eksperimen, PDCA, dsb. Dan bisa dilakukan sebelum launching. Pun dengan PMBOK Manajemen Project juga bisa di ejawantahkan. Tapi kenapa......
Itu pergumulan saya.
Janjian rame² kumpul jam 6.30.
Jam 7.01, baru sebagian yg datang.
Dan masih banyak yang terlambat. Padahal bis seharusnya jalan 6.45.
Ada yang baru datang, dan cuma bilang sorry ya, baru bangun.
Nanti kalau dimarahi, jawabannya halah telat dikit,
Masak nunggu bentar ga mau
Ngobrol sampai warung tutup. Belajar lagi 3K, jadi guru dimanapun berada. Ilmunya Pak spink, Babe, pak komandan, dll. Mengasah lagi kompetensi, mental, dan empati. Biar jadi orang yg lebih bijak dan humble
Jadi pintar itu wajib. Namun, pintar saja tidak cukup. Mentalmu juga harus kuat, sehingga bisa tau dan konsisten untuk ikut kebenaran. Serta, tambahkan pula kebersamaan, karena dengan bersama kita semakin kuat untuk merealisasikan Cita dan Harapan.
Ternyata memang tidak mudah, butuh kompetensi,, butuh pengetahuan,, butuh komunikasi. Dan dilakukan secara disiplin dan ber attitude.
Kalau cuman ngandalin koneksi,, tapi zonk, tetap akan bobrok.
Tidak bertemu, dikarenakan lagi kuliah. << Alasane wes ok.. ndadak nganggo tambahan, jika saya absen, maka saya akan di DO. Kuwi kok ngoyoworo. Apakah ada, tidak masuk sekali langsung ke DO.
Padahal sudah mau kepala 4, tapi kalau dah natal gini. Ntah itu film kartunnya disney, harry Potter, film² berkaitan dengan natal itu selalu ditunggu. Waktu remaja paling mengena adalah love actually
Kalau udah masa natal gini. Pasti keinget yg namanya Home Alone. Dan pingin banget rasanya ngikutin sekarang si kevin udah punya keluarga, kerja dimana?
Film itu berasa nyata bagi anak² 80-90an. Seperti kegiatan keluarga yg di videokan
Aku ga suka sama si A. Lha maunya ini itu ini itu.. males aku...
Coba diganti
Oke A, karena kamu maunya ini itu,, saya juga maunya ini itu sama kamu.
Biar kita win win solution
Kadang kita kasian sama orang yang betul² kasian. Tapi orang itu tidak membutuhkan belas kasian kita.
Jadi, mulailah mengasihani diri sendiri dulu, baru orang lain yang mau kita kasihani.
Jadi mengerti, ketika kuliah knapa ada teori pengambilan keputusan. Ternyata sampai sepenting ini.
1. Biar aman dari prank
2. Jadi tahu kalau membuat keputusan itu langkah²nya apa saja. Data yg diperlukan. Bagaimana? Kapan data itu valid.
Ga cuma ambil data sesuai mauku
2005 berlanjut 2011, hilang, muncul lagi, hilang, muncul lagi, hingga akhirnya Karya Tuhan. Gusti mboten sare. Didalam keterpurukan, ada Allah yang membukakan mata. Bersyukur atas apa yang telah terjadi, dan tidak lagi terbelenggu. Maturnuwun Gusti