@jalanbrintoel Aku suka beli punya umama yg paris original (posh). Bahannya tegak buat wajahku yg asimetris, bikin rapi no mleyot2. Murah juga cuma 40k-an. Minusnya cuma logonya mirip2 dikit sama “B” & gampang pudar hehe buat aku sih ga masalah ya
Aku mau jual tiket Green Day milik pribadi yaa temen-temen.
2tix di CAT 3
Dijual karena berhalangan dateng & mau nonton salah satu konser ajaa di bulan yg sama.
No markup ✅
Normal price boleh nego ✅
Boleh bantu share yaaa siapa tau ada yg butuh. Terima kasih 🤗🤗
yaAllah bisa gak sih orang stop engaging sama akun AndrewsTjan.
itu akun dari awal cuman pengen engagement doang. dulu dia itu muncul di tiap twit orang, ngereply pake unsolicited shallow advices — seolah-olah dia udah hidup 1000 tahun dan punya segala wisdom di dunia ini.
Sikap abu-abu PDIP, Megawati dan Puan ketika kehendak arus bawah bergolak kencang mendesak hak angket sebenarnya semakin menjelaskan bahwa PDIP dan politisinya bukan hanya partai dan politisi hipokrit, namun juga oportunis.
PDIP ibarat mucikari politik yang murka, lantaran selama ini menikmati kekuasaan hasil “melacurkan” gundik politiknya, namun kini sang gundik berbalik melawan dan berani membangun “rumah bordil” politiknya sendiri.
PDIP dengan sengaja tetap berada diluar lingkaran ketika partai Nasdem, PKS, PKB, PPP telah lebih dulu menyatakan mendukung hak angket, seakan ingin menegaskan bahwa mereka adalah pemegang kunci terakhir penentu digelarnya hak angket dan menciptakan nilai tawarnya sendiri dihadapan rezim Jokowi dan tentu saja Prabowo yang begitu berkepentingan dengan stabilitas kekuasaan Jokowi hingga Oktober mendatang.
Pengkhianatan PDIP terhadap konstituennya yang percaya dan mendukung PDIP memperjuangkan kemenangan pasangan Ganjar-Mahfud harusnya membuka mata semua rakyat yang pendukungnya, bahwa PDIP tak pernah hadir untuk membela kepentingan mereka (rakyat), melainkan hanya mementingkan kemewahan politik dan kekuasaan elitenya semata.
Megawati dan Puan hanya peduli dengan kenikmatan kekuasaan dengan menjual kisah heroik PDIP masa lalu yang digembar-gemborkan sebagai partai wong cilik, partai oposisi militan yang berani melawan rezim Soeharto, padahal sejatinya dulu pun hanyalah pengecut yang didudukan oleh CIA diatas pelana Kuda Tuli, bukan rodeo poltik handal sesungguhnya, melainkan ambasador politik bertemakan wong cilik, yang dibayar mahal untuk kepentingan politik asing!.
Jika warganya terdidik, yang diminta:
1) Pendidikan dasar yang berkualitas,
2) Layanan kesehatan yang prima,
3) Upah tenaga kerja yang layak,
4) Infrastruktur yang memadai,
5) Transportasi umum yang nyaman,
6) Diplomasi ke LN sampai paspor bebas visa ke mana-mana,
7) Riset dan penelitian level dunia,
8) Universitas dalam negeri selevel dengan LN.
Susah lah menuhinnya, kalau warganya tidak terdidik, cukup dikasih:
1) Makan.
Bahaya Terapi Nebulisasi/Uap yg tidak pd tempatnya
Bbrp waktu yg lalu dpt pasien anak serangan asma pertama kali dgn intensitas serangan yg berat. Saat di IGD sudah diberikan terapi nebu 3x tdk mempan. Akhirnya baru membaik stlh masuk obat asma level tinggi (aminofilin) (1)
Yang krusial buat negara:
- Pendidikan,
- Kesehatan,
- Pangan.
Yang pendapatannya paling murah:
- Guru, dosen, dan tendik lainnya,
- Dokter, perawat, bidan, dan nakes lainnya,
- Petani, peternak, dan tenaga pangan lainnya.
Mari kita samakan persepsi ANTIKRITIK:
Kalau loe kritik & ada yg counter balik kritik loe, ya itu wajar aja di kehidupan demokratis. Kita bukan 1 cetakan, kan?
Kalau loe kritik, lalu kerjaan loe terancam, NIK tersebar, atau dikriminalisasi, ITU BARU NAMANYA ANTIKRITIK.
"Pak TU kampus, saya mau apply beasiswa, saya kesulitan bayar UKT"
"Minta surat keterangan tidak mampu ke RT ya"
"Baik Pak"
***
"Pak RT, saya mau minta surat keterangan tidak mampu"
"Kamu bukannya anaknya Pak Solihin, guru SMA?"
"Iya Pak"
"Wah, tapi dari data penghasilan beliau, saya belum bisa keluarin SKTM."
"Waduh, terus gimana ini Pak?"
"Coba ke bank sama Bapak, siapa tahu bisa ada pinjaman"
***
"Bu CS Bank, saya mau ajukan pinjaman buat bayar UKT anak saya"
"Baik Pak, saya cek dulu"
"Pak Solihin, setelah kita cek penghasilan, kita gak bisa kasih pinjaman."
"Kenapa Bu?"
"Mohon maaf Pak, resiko gagal bayarnya tinggi."
"Waduh, terus gimana ini Bu?"
***
"Pak TU kampus, saya gak bisa dapet SKTM Pak"
"Udah coba pinjam bank?"
"Gak bisa Pak, penghasilan Bapak saya gak cukup."
"Coba ini, perusahaan fintech yang kerjasama sama kampus"
***
"Mas, kalau saya pinjam 12.5 juta buat UKT, saya mesti nyicil berapa?"
"Sekitar 1.3 juta per bulan selama setahun"
"Wah jatuhnya 15.5 juta dong? Bunganya 3 juta sendiri?"
"Iya mas"
"Waduh, itu biaya hidup saya euy. Gak mampu bayarnya"
***
"Pak TU kampus, gak bisa Pak, saya gak kuat bayarnya"
"Kamu cuti dulu aja. Kerja part time gitu."
"Bisa ya Pak? Gimana prosedurnya?"
"Kamu bayar 50% UKT, jadi 6.25 juta."
"Hah?"
***
"Mas pinjol, kayanya saya terpaksa pinjem deh, gak ada jalan lain"
"Siap, ini saya transfer ya."
"Kalau gagal bayar gitu gimana?"
"Ada dendanya sama nanti kecatat di BI Checking."
***
"Pak Solihin, ini utang anaknya gak dibayar?"
"Wah Pak Debt Collector, gaji honorer saya telat ini, gimana?"
"Gak bisa bayar sekarang?"
"Iya, gimana?"
"Ya udah, ini dendanya saya catat ya, ini udah numpuk dari anak Bapak semester 3 sampai lulus"
***
"Ini CV kamu bagus banget, aktif di organisasi"
"Iya, makasih."
"IPK kamu juga bagus, skill set kamu juga sesuai sama yang dibutuhin user kita."
"Terima kasih."
"Oke, kita finalisasi paperwork dulu ya sebelum offer."
***
"Halo, mohon maaf banget, setelah kita cek, BI checkingnya jelek. Kami gak bisa terima."
"Tapi kan saya butuh kerjaan buat bayar utang UKT?"
"Iya tapi perusahaan kami aturannya begitu. Mungkin bisa diperbaiki dulu kreditnya."
"Gimana saya bisa perbaiki kredit kalau saya gak ada penghasilan?"
"Coba ke perusahaan lain."
***
"Halo, mohon maaf banget, setelah kita cek, BI checkingnya jelek. Kami gak bisa terima."
"Tapi kan saya butuh kerjaan buat bayar utang UKT?"
"Iya tapi perusahaan kami aturannya begitu. Mungkin bisa diperbaiki dulu kreditnya."
"Gimana saya bisa perbaiki kredit kalau saya gak ada penghasilan?"
"Coba ke perusahaan lain."