@txtharihariWNI Yg terlalu steril itu jg ga bagus2 amat karna sistem imunnya gak bisa bekerja dgn baik kalo hal2 kaya gini kejadian. Jd intinya tetep pantau aja sih gak usah terlalu parno, kalo sakit ya kemungkinan gak cocok. Bs jd kurang bersih, esnya air mentah dll banyak faktor jg
OP ini ngelist ciri-ciri orang dewasa yang tumbuh dengan banyak luka sejak kecil:
1. Good Child Syndrome:
Dari kecil terbiasa membaca situasi, takut dimarahi atau dikritik, akhirnya tumbuh dengan rasa percaya diri yang rendah.
2. Kebiasaan jadi people pleaser:
Sebenarnya nggak mau, tapi begitu dimintai tolong tetap nggak bisa bilang nggak. Perasaan orang lain selalu didahulukan daripada perasaan sendiri.
3. Gampang banget nangis:
Karena jarang benar-benar mendapat penghiburan atau diperlakukan dengan lembut, begitu ada sedikit saja yang menyentuh hati atau teringat hal yang menyedihkan, air mata langsung keluar.
4. Selalu mikirin kemungkinan terburuk:
Begitu ada sesuatu yang terjadi, otak langsung bikin skenario paling buruk. Sering merasa cemas bahkan tentang hal-hal yang sebenarnya belum terjadi.
5. Sering banget bilang “maaf”:
Begitu suasana terasa sedikit tegang, langsung merasa mungkin dirinya yang salah. Berkonflik dengan orang lain aja rasanya udah menakutkan.
6. Terlalu mandiri sampai nggak mau merepotkan orang:
Paling nggak suka merasa jadi beban orang lain. Bahkan kalau lagi susah pun lebih memilih memendam semuanya sendiri daripada minta bantuan.
7. “Alergi” sama pujian:
Dapat pujian atau kebaikan dari orang lain bukannya cuma merasa senang, malah kepikiran, "Nanti kalau dia tahu aku yang sebenarnya, jangan-jangan dia bakal kecewa."
8. Sampai nggak tahu diri sendiri sukanya apa:
Karena terlalu lama hidup dengan berusaha menyenangkan orang lain, akhirnya malah nggak tahu apa yang sebenarnya disukai atau diinginkan diri sendiri.
Apa kalian juga ada ngerasa seperti di list atas? Kalau iya, coba berhenti terlalu memikirkan penilaian orang lain. Mulai prioritaskan diri sendiri dan jangan terus-menerus menomorduakan perasaanmu demi orang lain.
Selingkuh itu bukan cuma tentang "tidur sama orang lain" atau punya hubungan lain. Kadang semuanya dimulai dari hal yang katanya sepele: chat yang disembunyiin, flirting yang sengaja dipelihara, perhatian yang dikasih ke orang lain, sampe batas yang pelan-pelan digeser. Dan yang paling nyakitin bukan cuma orang ketiganya, tapi pas seseorang tau batasnya, tau pasangannya bakal terluka, tapi tetap milih ngelakuinnya.
korban pemerkosaan bakal dapet hinaan karena dianggap ngebunuh janin hasil pemerkosaan, tapi rapist bisa dimaafin karena mau bertanggung jawab. how wild society it's
@DinaDinagoyya Kalo elu dari SEA ya pasti coklat sihh, atau African dehh pasti beda sama SEA ... sejelas mengikuti jenis kulit padahal, tp otak kobong cwk2 itu gak mampu pank pink pank pink mulu kocak
@kissblexi Damn queen yeahh finding same thought finally, feel bad for those women athletes when there's more appropriate and comfortable clothes for them, like short more comfortable for the friction on both thighs
Knetz ini cerita tentang kisah temannya yang calon suaminya ketahuan patriarki maksimal saat bahas pernikahan.
Pacarnya bilang, “Beli rumah dan biaya hidup harus dibagi 50:50. Zaman sekarang siapa yang masih mengharapkan laki-laki menanggung semuanya?”
Teman OP lalu bertanya,
“Kalau begitu, pekerjaan rumah tangga dan mengurus anak juga 50:50?”
Pacarnya mikir bentar, lalu menjawab,
“Tapi perempuan kan lebih jago melakukan hal-hal seperti itu?”
Teman OP bertanya lagi lebih rinci.
👩🏻: “Kalau begitu, anak pakai marga siapa?”
👩🏻🦲: “Marga ayah.”
👩🏻: “Kalau hari raya atau acara keluarga?”
👩🏻🦲: “Sudah sewajarnya pergi ke keluarga pihak suami dulu.”
👩🏻: “Pekerjaan rumah?”
👩🏻🦲: “Perempuan emang udah natural melakukan lebih banyak pekerjaan rumah, kan?"
👩🏻: “Tapi kalau begitu, kenapa soal uang harus 50:50?”
👩🏻🦲: “Ya, zaman sekarang memang udah umum seperti itu.”
Biaya hidup: negara maju
Pekerjaan rumah: zaman Joseon
Mengurus anak: “insting perempuan”
Marga anak: tradisi patrilineal
Hari raya: keluarga pihak suami dulu
Menurut OP, bagi cowok ini, mungkin arti “kesetaraan gender” adalah:
Mengurangi setengah dari hal-hal yang harus dia tanggung, tetapi mempertahankan semua hal yang selama ini dilakukan perempuan.
Itu bukan adil, melainkan memodernisasi hanya bagian-bagian yang menguntungkan dirinya sendiri.
Kalau begini, ini bukan lagi sekadar pandangan tentang pernikahan, tapi seperti budaya tradisional yang hanya di-update pada bagian yang menguntungkan laki-laki.
Run ya girls kalo dapet calon suami begini 🥲
@txtdaritaxpayer Contoh tau Ini di mesir ada yg namain anaknya 'karma', and i don't find it nice at all. Walaupun secara makna bukan balasan balik yg buruk2 ya maknanya, tp kalo udh mendunia gini & lu namain anak lu begitu aduhh kata gw mah kasian anaknya
@txtdaritaxpayer Padahal anak itu punya masa depan sih, at least kasih yang memang bagus secara nama & pelafalan, gak ribet (kaya jaman now), dan nggak berbelit. Yuyur nama anak2 milenial lbh bagus & everlasting menurut gw -cont-